Berita

Dahlan Iskan (kiri)/Net

Dahlan Iskan

Tuana Tuha

SELASA, 08 OKTOBER 2019 | 05:04 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

INI bukan hoaks. Tanaman hutan Kalimantan ini jadi berita dunia: khasiatnya 10 kali lipat dari mariyuana.
 
Di Amerika nama tanaman itu: Kratom.
 
Di pedalaman Kaltim disebut Kandema.
 

 
Saya segera mengontak wartawan DI's Way Kaltim di Kutai Kartanegara. Namanya Bayu Surya Gandamana. Ibu suku Banjar, ayah suku Gandamana, ups Ponorogo.
 
Ia pernah ke Kenohan. Sebuah kecamatan di pedalaman Kutai Kartanegara.
 
Saya juga pernah ke sana. Zaman muda dulu.
 
Belum ada jalan waktu itu. Masih harus naik perahu. Menyusuri sungai Mahakam yang meliuk-liuk. Dari Samarinda ke arah hulu. Perlu waktu 3 hari tiga malam.
 
Tidak menyangka Desa Tuana Tuha, di Kecamatan Kenohan itu kelak bakal mendunia. Di tahun 2019.
 
Pohon Kandema itulah yang membawa Kaltim terkenal hari-hari ini. Juga yang membuat ratusan penduduknya hidup kian sejahtera.
 
Daun tanaman itu laku sampai ke Amerika. Dijual sebagai obat. Bisa membuat otak yang lemah merespons lebih baik. Juga mengurangi rasa sakit.
 
Tapi juga ada yang menyalahgunakannya. Memakannya melebihi batas. Sebagai obat penggembira. Juga pelupa derita.
 
Bahkan bisa lupa untuk selama-lamanya, 130 orang Amerika mati tiap hari karena kelebihan dosis itu.
 
Asosiasi Kratom Amerika terus berjuang. Agar tanaman mariyuana dilegalkan. Ada 20 juta orang Amerika menjadi konsumen Kratom. Ini bisnis puluhan triliun setahun.
 
Kanada, Jerman, Perancis, Spanyol dan beberapa negara lagi sudah menghalalkannya.
 
Di Amerika tinggal enam negara bagian yang masih melarang tanaman mariyuana. Sudah jauh lebih banyak yang melegalkannya.
 
Saya ingat tiga bulan lalu. Waktu saya ke Amerika. Saya diajak mampir ke negara bagian Oregon. Yang sudah mengizinkan mariyuana.

Saya diajak teman melihat orang menanam hemp. Bentuk tanamannya sangat mirip mariyuana.
 
Bedanya: level kandungan mariyuananya lebih rendah. Di batas yang diperbolehkan.
 
Di Kaltim, tanaman kandema itu hidup sendiri. Di pinggir-pinggir sungai. Di tepi rawa-rawa. Tidak ada yang memperhatikannya.
 
Memang, penduduk Kenohan tahu: pohon itu ada khasiat obatnya. Tapi bukan di daun. Melainkan di kulit kayunya.
 
Kulit itu dikelupas. Lalu direbus. Wanita yang baru melahirkan diminumi air rebusan itu.
 
Begitulah turun-temurun. Agar si ibu lekas pulih, dan bisa lekas melayani suaminya lagi. Juga bisa mengurangi derita melahirkan.

Bahwa daunnya bisa jadi uang, itu baru tahu di tahun 2014. Ketika ada pedagang yang datang ke kampung itu.
 
Pengetahuan penduduk hanya sebatas apa kata pedagang itu: sebagai bahan obat.
 
Obat apa? Tidak tahu.
 
Obat untuk orang Amerika. Dikirim ke sana.
 
Dalam bentuk bubuk daun Kenduma.
 
Maka orang di desa itu pun beralih sumber hidup. Dari mencari ikan menjadi pemetik daun Kenduma.
 
Mereka meninggalkan rawa dan sungai yang terik. Beralih ke dalam semak yang rimbun.
 
Daun itu lantas dijemur. Enam hari kering.
 
Si pedagang mengirim mesin penggiling sederhana. Dijual ke pemetik daun. Untuk mengubah daun kering menjadi bubuk.
 
Sejak menjadi berita besar, polisi melarang perdagangan Kandema itu. Masa sejahtera pun lewat. Mesin penggiling nganggur. Bahkan mereka yang sudah telanjur menanam Kenduma menjadi gamang: akan diapakan tanaman itu nanti.
 
Semua obat bisa disalahgunakan. Sebatas masih dalam bentuk herbal mestinya tidak bahaya.
 
Baiknya ada yang berkonsultasi dengan Asosiasi Kratom Amerika. Agar jelas sejelas-jelasnya: di mana posisi Kenduma. Itu tergolong mariyuana, hemp, atau ada jenis lain lagi.
 
Unair, Unpad, dan UGM bisa turun tangan. Melihatnya secara ilmiah. Siapa tahu justru bisa jadi unggulan industri kita.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

Panen Raya TNI, Presiden Prabowo: Saya Bahagia Hari Ini

Jumat, 17 Juli 2026 | 22:57

UPDATE

Perjalanan Karier Nanik S Deyang dari Jurnalis hingga Pimpin Dewan Pengawas BGN

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:23

Deklarasi Gus Kikin Maju Ketum PBNU Tuai Protes Sejumlah PCNU Jatim

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:13

Pesan Menag di FABC: Sinodalitas Gereja Cermin Musyawarah dan Gotong Royong

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:08

Prabowo Restui Pengunduran Diri Nanik dari BGN, Siapkan Dewan Pengawas Baru

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:06

Emas Antam Mulai Naik, Harga Buyback Tembus Rp2,38 Juta per Gram

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:51

Prabowo Puji Keterlibatan Perwira TNI-Polri dalam Penanganan Bencana Sumatera

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:51

Saat Jakarta jadi Jembatan Persaudaraan Asia

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:45

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.913 per Dolar AS Jelang Rilis Suku Bunga BI

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:34

KPK Bongkar Dugaan Penyamaran Aset Bupati Lombok Barat, Pasal TPPU Disiapkan

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:29

Ancaman Houthi Guncang Pasar, Harga Minyak Sentuh Level Tertinggi

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:24

Selengkapnya