Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Kabut Asap Di Asia Tenggara Picu Masalah Jangka Panjang

SELASA, 08 OKTOBER 2019 | 02:13 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Kabut asap yang dipicu oleh kebakaran hutan di Indonesia sepanjang bulan Septeber lalu kemungkinan akan membuat kondisi udara di kawasan Asia Tenggara memburuk.  

"Yang saya benar-benar khawatirkan adalah keganasan jangka panjang," kata seorang dokter anak yang juga konsultan senior yang berbasis di kota Ipoh, Malaysia, Dr Amar Singh.

"Sepertinya seluruh negara sedang berasap. Anda bisa tinggal di rumah, tetapi Anda masih akan bernapas dalam masalah partikel," sambungnya.


Masalah ini juga menjadi salah satu isu utama yang dibahas oleh para menteri lingkungan hidup dari Asia Tenggara dalam KTT selama tiga hari di Siem Reap, Kamboja mulai pada hari Senin (7/10).

Kabut asap yang belakangan muncul dan juga menyelimuti sebagian wilayah Malaysia dan Singapura bermula dari kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera. Kabut asap yang muncul membawa partikel-partikel partikel mikroskopis dari abu, kayu, dan zat lain yang berbahaya dapat bersarang di dalam tubuh manusia jika terhirup.

Hal ini terjadi seiring dengan perkembangan industri kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia. Tidak sedikit pemilik tanah yang memilih untuk membakar lahan sebagai cara tercepat dan termurah untuk menebangi hutan.

"Kabut asap semakin memburuk dan semakin sering, secara kasar mencerminkan cara pembukaan lahan untuk perkebunan," kata ahli lahan gambut tropis di Universitas Malaya dan penulis buku "The Haze Problem in Southeast Asia: Palm Oil and Patronage", Helena Varkkey.

Dia mencatat bahwa sebagian besar lahan yang dikonversi adalah hutan rawa gambut yang harus dikeringkan sebelum dapat digunakan untuk pertanian.

"Masalahnya adalah bahwa tanah yang baru dibuka dapat dibakar atau terbakar segera setelah tahap drainase," katanya.

"Tapi tanah tua, yang sudah terbakar sebelumnya, juga cenderung terbakar lagi. Jadi, masalahnya terus bertambah dari tahun ke tahun," jelasnya, seperti dimuat Al Jazeera (Senin, 7/10).

Populer

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Kejagung Tetapkan 11 Tersangka Korupsi CPO dan POME Rp 13 Triliun, Ini Daftar Namanya

Selasa, 10 Februari 2026 | 16:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

UPDATE

Kekayaan Fadjar Donny Tjahjadi yang Jadi Tersangka Korupsi CPO-POME Cuma Rp 6 Miliar, Naik Sedikit dalam 5 Tahun

Selasa, 10 Februari 2026 | 18:12

TNI AL dan Kemhan Belanda Bahas Infrastruktur Bawah Laut Kritis

Selasa, 10 Februari 2026 | 18:00

Beda Imlek dan Cap Go Meh, Ini Makna dan Rangkaian Tradisinya

Selasa, 10 Februari 2026 | 17:52

Kabar Baik! Bansos PKH dan Bencana Bakal Cair Jelang Lebaran

Selasa, 10 Februari 2026 | 17:36

KPK Sita 50 Ribu Dolar AS dari Kantor dan Rumah Dinas Ketua PN Depok

Selasa, 10 Februari 2026 | 17:27

Mengupas Multi Makna Kata 'Lagi'

Selasa, 10 Februari 2026 | 17:18

Keberadaan Manusia Gerobak Bakal Ditertibkan Jelang Ramadan

Selasa, 10 Februari 2026 | 17:07

Prabowo Diyakini Bisa Dua Periode Tanpa Gibran

Selasa, 10 Februari 2026 | 17:02

KPK Endus Pencucian Uang Korupsi Sudewo Lewat Koperasi

Selasa, 10 Februari 2026 | 16:49

Kejagung Tetapkan 11 Tersangka Korupsi CPO dan POME Rp 13 Triliun, Ini Daftar Namanya

Selasa, 10 Februari 2026 | 16:49

Selengkapnya