Berita

Saat Megawati enggan bersalaman dengan Surya Paloh/Repro

Publika

Jebakan Personalisasi Partai Politik

MINGGU, 06 OKTOBER 2019 | 05:13 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

GESTUR tidak bersalaman petinggi partai politik itu tampil di layar kaca. Publik melakukan penilaian soal disharmoni relasi partai koalisi. Arah politik partai menjadi bagian dari personalisasi gerak-gerik para ketua partai sebagai tokoh utama.

Para pembesar partai politik, merupakan aktor penting kehidupan sebuah organisasi kepartaian. Terlebih dalam memandang budaya politik di Indonesia. Hubungan patron-klien menjadi model keterkaitan antara ketua-ketua partai dengan para anggotanya.

Proses pembentukan partai politik di tanah air pascareformasi memang kerap kali diinisiasi oleh seorang tokoh maupun figur yang berperan sentral. Tidak hanya itu, sang aktor pun memiliki ruang dominasi di dalam sistem kepartaian tersebut.


Maka tidak salah, bila penilaian publik tentang relasi antarpartai, dicerminkan melalui gestur para petinggi partai. Situasi ini menghadirkan apa yang disebut sebagai personalisasi partai politik.

Pada tahap awal pembentukan partai, peran personal tokoh kerap muncul. Harus diimbangi dengan kemampuan edukasi, rekrutmen, dan pergantian peran di dalam organisasi setelahnya.

Kegagalan Rotasi Tokoh
Kehadiran partai-partai yang berkontestasi sejak era pemilu pascareformasi 1999, menghadirkan fenomena ketokohan yang menjadi episentrum dinamis sebuah partai. Termasuk di dalamnya memainkan peran sebagai inisiator, pendiri bahkan menjadi ketua partai itu sendiri.

Situasi yang terus berkembang, bila tidak diimbangi dengan mekanisme demokratisasi internal partai, maka akan kesulitan dalam melakukan suksesi serta regenerasi kepemimpinan partai. Dengan begitu, skema penunjukan secara aklamasi untuk kembali menjadi ketua maupun pemimpin partai menjadi fenomena ritual dalam setiap kongres.

Walhasil, tongkat estafet kepemimpinan partai akan menempatkan diri sebagai hak prerogatif bagi para figur sentral tersebut. Perluasan wilayah kekuasaan pengelolaan kepartaian akhirnya jatuh kepada segelintir elite, yang kini lazim disebut sebagai oligarki.

Sebelumnya, kemandekan demokrasi internal partai, akan menghadirkan timbulnya dinasti politik. Karena arah dan garis kepemimpinan dilihat dari aspek silsilah keturunan penerus partai atas kedekatan pada figur tokoh sentral partai tersebut, sebagai bagian dari darah biru dan trah ningrat partai.

Sirkulasi kekuasaan yang terbatas ini, menciptakan tokoh partai yang memiliki peran otoritatif dan hegemonik. Menjadi penguasa organisasi, dalam makna yang sempit sebagai pemilik partai. Daya kepemimpinan hegemonik tersebut, membuat para figur utama sulit bertukar peran dan posisi.

Efek Pemilu Langsung
Pada konteks demokrasi, aspek eksternal yang terkait dengan sistem pemilihan telah mengalami perubahan, terutama terkait dengan proses pemilihan langsung kepala daerah dan presiden. Situasi tersebut. Mengakibatkan terkikisnya legitimasi peran tokoh sentral kepartaian.

Kandidat yang muncul dalam ranah politik, diisi dengan wajah-wajah baru. Indikator utamanya adalah popularitas dan elektabilitas.

Pemilihan langsung, menjadi killing field bagi tokoh penguasa partai yang hanya kuat di dalam tubuh organisasi tetapi lemah untuk sosialisasi diri ke publik.

Namun, para figur sentral partai tersebut, masih memiliki karisma bahkan dapat menjadi daya dukung untuk menjadi vote getter secara terbatas.

Di sini letak pangkal soalnya, tokoh yang dimajukan pada proses pemilihan bukanlah tokoh utama internal partai. Kerap kali juga tokoh baru yang dijajaki karena dongkrak popularitas.

Dengan begitu, mudah dipahami bila pemilu langsung mampu mengorbitkan tokoh baru dengan kekuatan branding yang besar, termasuk kemampuan mengelola diri untuk piawai di depan sorot media. Para media darling kemudian menjadi sosok yang dicermati oleh petinggi partai untuk dikontestasikan.

Jika kemudian menang dan terpilih, maka akan ada situasi seolah matahari kembar dalam kekuasaan kepemimpinan. Hal ini dikarenakan tokoh yang memenangi kontestasi politik tidak memiliki daya pengaruh dalam tubuh partai. Sementara peran elite dan oligarki partai mempunyai daya tawar tinggi bagi arah kebijakan pemimpin terpilih.

Paradoks kepemimpinan terjadi.

Sekali lagi, hal terpenting yang perlu dilakukan adalah demokratisasi internal partai, agar tidak terjadi personalisasi partai politik.

Terlebih karena figur karismatik dan hegemonik di dalam tubuh partai, bisa menjadi otoritas yang seolah tanpa cela dan kesalahan. Bila demokratisasi internal partai tidak terjadi, maka wajah demokrasi kebangsaan mengalami kesuraman!

Yudhi Hertanto
Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya