Berita

Kapal kargo/Net

Dunia

Sanksi Amerika Bikin Iran Sulit Impor Pangan

KAMIS, 03 OKTOBER 2019 | 14:22 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Sebanyak lebih dari 20 kapal pengangkul satu juta ton biji-bijian terjebak di luar dua pelabuhan Iran. Alasannya, tak lain karena sanksi Amerika Serikat yang menghambat  Iran untuk mengimpor komoditas.

Akibatnya, perusahaan-perusahaan dagang seperti Bunge dan COFCO Internasional milik China harus menanggung biaya tambahan akibat penundaan hingga 15 ribu dolar AS atau setara dengan Rp 212 juta (kurs: Rp 14.188/dolar AS), seperti yang dilansir dari Al Jazeera, Kamis (3/10).

Menurut seorang sumber yang tidak ingin disebutkan namanya, kapal-kapal yang terjebak tersebut membawa kargo seperti kacang kedelai dan jagung yang sebagian besar berasal dari Amerika Selatan.


Meski demikian, pengiriman obat-obatan dan persediaan kemanusiaan lainnya dikecualikan dari sanksi yang kembali diberlakukan AS setelah Presiden AS Donald Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir dengan Iran pada tahun lalu.

Akibat sanksi ini, Iran juga sulit melakukan kegiatan keuangan karena bank sentral Iran di black list dan beberapa bank asing telah khawatir dikenai sanksi. Alhasil, saluran pembiayaan membeku dan Iran semakin sulit mendapatkan mitra dagang.

"Tidak ada batasan pada bisnis kemanusiaan, tetapi Anda tidak dapat dibayar untuk itu. Kamu bisa menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan pembayaran," ujar seorang sumber dari Eropa.
 
Enam sumber dari Barat dan Iran mengatakan situasi ini meyebabkan beberapa kargo yang ditahan selama lebih dari sebulan di luar dua pelabuhan Iran, Bandar Imam Khomeini dan Bandar Abbas. Keduanya terletak di ujung Teluk.

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) memperkirakan bulan lalu bahwa total stok sereal Iran pada 2019 akan mencapai 5,1 juta ton, turun menjadi 4,8 juta ton pada tahun 2020 jika dibandingkan 2016 dengan 9,9 juta ton.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

IHSG Merah, Rupiah Tembus Rp17.130 Usai Negosiasi AS-Iran Gagal

Senin, 13 April 2026 | 10:15

Kebangkitan Saham AI Asia: Investor Global Mulai Agresif Pasca-Redanya Tensi Geopolitik

Senin, 13 April 2026 | 10:02

Kasus Tas Branded Dicuri, EcoRing Diminta Tak Lepas Tangan

Senin, 13 April 2026 | 10:02

AS Blokade Kapal yang Keluar Masuk Pelabuhan Iran Mulai Hari Ini

Senin, 13 April 2026 | 09:52

Pembangunan Kawasan Legislatif dan Yudikatif IKN Terus Dikebut

Senin, 13 April 2026 | 09:43

Feel Good Network Bidik Pasar Ekonomi Digital Asia Tenggara

Senin, 13 April 2026 | 09:24

Australia Tolak Gabung Blokade AS di Selat Hormuz

Senin, 13 April 2026 | 09:21

PM Viktor Orban Tumbang setelah 16 Tahun Berkuasa

Senin, 13 April 2026 | 09:18

Tidak Ada Ajaran Kristen Benarkan Membunuh Sebagai Jalan Spiritual

Senin, 13 April 2026 | 09:16

Ubah Krisis Jadi Peluang: Strategi Indonesia Perkuat Ketahanan Ekonomi

Senin, 13 April 2026 | 09:09

Selengkapnya