Berita

Joe Biden/Net

Dunia

Jika Jadi Presiden, Biden Janji Akan Batasi Penjualan Senjata

KAMIS, 03 OKTOBER 2019 | 11:54 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Di tengah kontroversi mengenai kasus korupsi dan impeachment Presiden Donald Trump, Joe Biden sudah mulai menggalang dukungan. Rabu (2/10), Biden berjanji untuk melakukan pembatasan penjualan senjata, khususnya senapan serbu di AS.

"Pada 1994, Senator (Dianne) Feinstein dan saya memimpin perjuangan untuk melarang penyalahgunaan senjata dan high-capacity magazine," tulis Biden dalam akun Twitter-nya.

Mantan Wakil Presiden sekaligus kandidat presiden terkuat dari Partai Demokrat kemudian menambahkan, "Sebagai Presiden, aku akan melarang senjata perang ini sekali lagi. Kita akan menyingkirkan mereka dari jalan kita," kata Biden.


Dalam Undang-undang 1994 diberlakukan larangan selama sepuluh tahun pada senjata serbu yang diproduksi setelah UU itu ditandatangani dan menjadi hukum oleh Presiden Bill Clinton. Namun, larangan ini berakhir pada 2014 dan tidak diperpanjang.

Alhasil, dalam beberapa tahun terakhir, senapan serbu telah menjadi senjata pilihan dalam serangkaian penembakan massal. Kini banyak pihak mendorong adanya pembaruan larangan senjata itu lagi.

Asosiasi Senapan Nasional (NRA) adalah salah satu kelompok di AS yang paling kuat dan menentang hampir semua proposal pengendalian senjata. Tetapi pada 1994, Biden berhasil melakukan negosiasi dengan kelompok ini dan membuat UU.  

AS memang seringkali terjadi penembakan masal. Baru-baru ini kasus penembakan massal yang cukup mendunia seperti penembakan di Festival Gilroy Garlic, California yang menewaskan tiga orang dan belasan lainnya terluka.

Sementara pada awal Agustus lalu, pusat perbelanjaan Walmart di El Paso, Texas menjadi target penyerangan yang menewaskan 20 orang.  

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

IHSG Merah, Rupiah Tembus Rp17.130 Usai Negosiasi AS-Iran Gagal

Senin, 13 April 2026 | 10:15

Kebangkitan Saham AI Asia: Investor Global Mulai Agresif Pasca-Redanya Tensi Geopolitik

Senin, 13 April 2026 | 10:02

Kasus Tas Branded Dicuri, EcoRing Diminta Tak Lepas Tangan

Senin, 13 April 2026 | 10:02

AS Blokade Kapal yang Keluar Masuk Pelabuhan Iran Mulai Hari Ini

Senin, 13 April 2026 | 09:52

Pembangunan Kawasan Legislatif dan Yudikatif IKN Terus Dikebut

Senin, 13 April 2026 | 09:43

Feel Good Network Bidik Pasar Ekonomi Digital Asia Tenggara

Senin, 13 April 2026 | 09:24

Australia Tolak Gabung Blokade AS di Selat Hormuz

Senin, 13 April 2026 | 09:21

PM Viktor Orban Tumbang setelah 16 Tahun Berkuasa

Senin, 13 April 2026 | 09:18

Tidak Ada Ajaran Kristen Benarkan Membunuh Sebagai Jalan Spiritual

Senin, 13 April 2026 | 09:16

Ubah Krisis Jadi Peluang: Strategi Indonesia Perkuat Ketahanan Ekonomi

Senin, 13 April 2026 | 09:09

Selengkapnya