Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Tudingan Harvard Lakukan Diskriminasi Ras Ditolak Hakim Federal

RABU, 02 OKTOBER 2019 | 15:22 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Hakim Federal Amerika Serikat menolak gugatan kelompok Students for Fair Admissions yang menuding Universitas Harvard telah melakukan diskriminasi terhadap pelamar berdasarkan ras pada Selasa, (2/10).

"Pengadilan tidak akan membongkar program penerimaan yang sangat bagus yang lolos dari konstitusi, hanya karena itu bisa lebih baik," ujar Hakim Distrik AS di Boston, Allison Burroughs ketika membaca putusan setebal 130 halaman seperti yang dilansir oleh Reuters.

Lebih lanjut, Burroughs mengatakan program penerimaan sarjana Universitas Harvard tidak mendiskriminasi pelamar Asia-Amerika dan justru menyimpulkan bahwa program Harvard telah lolos dari pengawasan hukum yang ketat.


Diketahui, Students for Fair Admissions (SFFA) merupakan sebuah kelompok yang didirikan oleh Edward Blum. SFFA menuduh Harvard terlibat dalam penyeimbangan rasial ilegal.

Pasalnya dalam kebijakannya, Harvard membatasi kuota pelamar Asia-Amerika tidak lebih dari 20 persen dari kelas yang masuk. Alhasil, peluang pelamar Asia-Amerika untuk diterima lebih rendah dibanding pelamar kulit putih, kulit hitam, dan Hispanik yang memiliki kualifikasi yang sebanding.

Menanggapi putusan hakim, Blum mengatakan akan mengajukan banding dan jika perlu meminta tinjauan Mahkamah Agung.

"Dokumen, email, analisis data, dan deposisi yang disajikan SFFA di persidangan secara meyakinkan mengungkapkan diskriminasi sistematis Harvard terhadap pelamar Asia-Amerika,” kata Blum.

Sementara itu, Harvard belum menanggapi rencana ini, namun sebelumnya telah membantah tuduhan SFFA.

Di sisi lain, Departemen Kehakiman AS memihak SFFA dengan menyatakan kebijakan Harvard secara signifikan merugikan orang Asia-Amerika, dan bahwa universitas tidak secara serius mempertimbangkan pendekatan penerimaan ras yang netral ras.

Selain Universitas Harvard, Departemen Kehakiman AS juga menyelidiki sekolah lain seperti Ivy League dan Yale University untuk kasus yang sama. 

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Tiga Tahun UU TPKS: DPR Soroti Masalah Penegakan Hukum dan Temuan Kasus di Lapas

Kamis, 15 Januari 2026 | 12:08

Komisi III DPR Mulai Bahas RUU Perampasan Aset Tindak Pidana

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:48

Utang Luar Negeri Indonesia Kompak Menurun

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:34

Giliran Ketua DPD PDIP Jawa Barat Ono Surono Diperiksa KPK di Kasus OTT Bupati Bekasi

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:19

Muncul Tudingan Pandji Antek Asing di Balik Kegaduhan Mens Rea

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:04

Emas Antam Naik Terus, Tembus Rp2,67 Juta per Gram!

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:54

KPK Tak Segan Tetapkan Heri Sudarmanto Tersangka TPPU

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:43

TAUD Dampingi Aktivis Lingkungan Laporkan Dugaan Teror ke Bareskrim

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:28

Istana Ungkap Pertemuan Prabowo dan Ribuan Guru Besar Berlangsung Tertutup

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:27

Update Bursa: BEI Gembok Saham Tiga Saham Ini Akibat Lonjakan Harga

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:17

Selengkapnya