Berita

Jamal Khashoggi/Net

Dunia

Satu Tahun Pembunuhan Jamal Khashoggi, Ini Lima Fakta Yang Perlu Diketahui

SELASA, 01 OKTOBER 2019 | 09:33 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Hampir satu tahun nama wartawan senior Jamal Khashoggi mulai menjadi sorotan dunia. Tepatnya pada 2 Oktober 2018 lalu, dia masuk ke konsulat Arab Saudi di Istanbul untuk mendapatkan dokumen untuk pernikahannya yang akan datang dengan tunangannya di Turki, Hatice Cengiz.

Namun, pria 59 tahun itu tidak pernah keluar dari gedung konsulat tersebut.

Beberapa hari setelahnya, sejumlah pejabat Turki mengatakan, kolumnis Washington Post yang lantang mengkritik Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed Bin Salman (MBS) itu meninggal dunia di tangah 15 agen intelijen Arab Saudi.


Arab Saudi sendiri pada mulanya membantah mengetahui soal nasib Khashoggi. Namun selang beberapa waktu kemudian, Arab Saudi mengkonfirmasi bahwa Khashoggi terbunuh dalam operasi jahat.

Pembunuhan itu memicu protes global dan penyelidikan PBB pada Juni lalu mengatakan, Khashoggi telah menjadi korban dari eksekusi yang disengaja dan direncanakan.

Baru awal pekan ini, dalam sebuah wawancara, MBS membantah klaim bahwa dia telah memerintahkan pembunuhan itu. Namun dia mengatakan dia memikul tanggung jawab atas kejadian itu karena terjadi di bawah pengawasannya.

Untuk memahami lebih lanjut masalah ini, berikut lima hal yang perlu diketahui soal pembunuhan Khashoggi, seperti dimuat Al Jazeera:

1. Siapa Jamal Khashoggi?
Dilahirkan di Madinah Arab Saudi pada tahun 1958, Khashoggi pernah dekat dengan keluarga kerajaan dan memiliki reputasi sebagai seorang reformis.

Dia memulai karirnya sebagai wartawan di media Arab Saudi berbahasa Inggris, Gazette. Dia kerap meliput peristiwa besar seperti invasi Soviet ke Afghanistan.

Khashoggi kemudian bekerja sebagai penasihat media untuk Pangeran Turki bin Faisal yang merupakan mantan kepala badan intelijen Arab Saudi dan mantan duta besar negara itu untuk Amerika Serikat.

Di tahun-tahun terakhirnya, dia menjadi penasihat hak-hak perempuan dan kebebasan berbicara di Arab Saudi.

Kemudian pada tahun 2017, dia pergi ke pengasingan di Amerika Serikat dan mengatakan bahwa dia telah diperintahkan untuk tutup mulut.

Di Amerika Serikat, dia mulai menulis kolom bulanan untuk Washington Post, di mana dia sering mengkritik kebijakan MBS, termasuk tindakan keras terhadap perbedaan pendapat dan keputusan untuk campur tangan dalam perang Yaman.

Dalam salah satu artikel pertamanya untuk Post, Khashoggi mengecam penangkapan para intelektual Arab Saudi di bawah MBS.

Khashoggi mengidentifikasi dirinya sendiri sebagai patriot Saudi dan menolak label pembangkang.

2. Apa pendapat MBS tentang Khashoggi?

The New York Times dalam sebuah laporan Februari lalu mengatakan, MBS mengatakan kepada seorang ajudan utama dalam sebuah percakapan pada tahun 2017 bahwa dia akan menggunakan "peluru" pada Khashoggi jika dia tidak kembali ke tanah air dan mengakhiri kritiknya terhadap pemerintah Arab Saudi.
Dengan mengutip mantan pejabat Amerika Serikat dan pejabat asing yang memiliki pengetahuan dengan laporan intelijen, The New York Times mengatakan bahwa MBS juga pernah mengeluh kepada ajudan lain bahwa Khashoggi telah tumbuh terlalu berpengaruh dan bahwa artikel-artikelnya serta unggahannya di Twitter telah menodai citra MBS sebagai seorang reformator yang berpikiran maju.

Ketika ajudan itu mengatakan tindakan apa pun terhadap Khashoggi beresiko menimbulkan kegemparan internasional, MBS dilaporkan mengatakan bahwa Arab Saudi seharusnya tidak peduli dengan reaksi terhadap bagaimana dia menangani warga negaranya sendiri.

Setelah Khashoggi terbunuh, media Amerika Serikat melaporkan bahwa MBS menggambarkan Khashoggi sebagai "Islamis berbahaya" dalam panggilan telepon dengan menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner.

3. Bagaimana reaksi Arab Saudi terhadap pembunuhan Khashoggi?


Arab Saudi menawarkan narasi kontradiktif tentang keberadaan Khashoggi. Mulanya, Arab Saudi mengklaim bahwa Khashoggi telah meninggalkan konsulat di Istanbul.
Tetapi ketika para pejabat Turki terus membocorkan bukti keterlibatan tingkat tinggi, Arab Saudi akhirnya mengakui Khashoggi telah terbunuh di dalam misi diplomatik.

Beberapa hari setelah menghilangnya Khashoggi, MBS mengatakan kepada Bloomberg bahwa Khashoggi telah meninggalkan konsulat setelah beberapa menit hingga satu jam.

Namun kemudian pada 20 Oktober 2018, jaksa penuntut umum Arab Saudi mengeluarkan pernyataan yang menyebut bahwa Khashoggi terbunuh dalam perkelahian di dalam konsulat. Sebanyak 18 warga negara Arab Saudi kemudian ditangkap.

Pernyataan itu tidak menyebutkan di mana keberadaan jasad Jamal Khashoggi.

Lima hari kemudian, jaksa penuntut umum mengatakan bahwa pembunuhan Khashoggi direncanakan. Pernyataan itu membalikkan pernyataan sebelumnya yang menyebut bahwa pembunuhan itu tidak disengaja.

Kemudian pada November 2018, wakil jaksa penuntut umum Arab Saudi Shaalan al-Shaalan, mengatakan Khashoggi terbunuh setelah "negosiasi" untuk membawanya kembali ke Arab Saudi gagal.

Dia mengatakan bahwa Khashoggi meninggal karena suntikan mematikan dan tubuhnya dipotong-potong lalu dikeluarkan dari gedung konsulat.

Pembunuhan itu sambungnya, diperintahkan oleh kepala tim perunding yang dikirim untuk memulangkan Khashoggi.

Sejak saat itu, pemerintah Arab Saudi mendakwa 11 tersangka yang tidak disebutkan namanya atas pembunuhan Khashoggi. Lima di antaranya dikabarkan dapat menghadapi hukuman mati dengan tuduhan memerintahkan dan melakukan kejahatan.

Arab Saudi menentang tekanan Turki untuk mengekstradisi para tersangka.

Sementara itu Raja Salman dari Arab Saudi, memerintahkan pembentukan komite menteri, yang dipimpin oleh MBS, untuk merestrukturisasi badan intelijen kerajaan.

4. Siapa saja tim pembunuh?

Menurut sumber-sumber Turki, Khashoggi dibunuh oleh 15 perwira intelijen Arab Saudi ketika dia memasuki konsulat di Istanbul.

Menurut otoritas intelijen Turki, 15 agen intelijen Saudi terbang ke Istanbul dengan dua jet pribadi beberapa jam sebelum Khashoggi terbunuh.

Sebagian besar dari mereka bekerja di dinas militer, keamanan atau intelijen Saudi, termasuk di pengadilan kerajaan.

Di antara mereka terdapat ahli forensik, Salah al-Tubaigy, yang bekerja di departemen bukti kriminal Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi. Dia diyakini sebagai orang yang memotong-motong tubuh Khashoggi.

Selain itu juga ada Maher Abdelaziz Mutreb, seorang perwira senior intelijen yang juga merupakan pengawal MBS.

Setelah pembunuhan itu, Moustafa al-Madani, seorang perwira intelijen lain di Istana Kerajaan, mengenakan pakaian Khashoggi dan pergi melalui pintu belakang konsulat. Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk membuatnya tampak seperti Khashoggi yang telah berjalan keluar dari gedung.

5. Bagaimana Khashoggi terbunuh?

Rincian tentang apa yang terjadi pada Khashoggi di dalam gedung konsulat telah diungkapkan oleh media Turki serta penyelidikan oleh pelapor PBB tentang eksekusi di luar proses hukum baru-baru ini.

Berdasarkan rekaman intelijen itu, terungkap bahwa para pembunuh Khashoggi mendiskusikan soal cara memotong-motong dan mengangkut jasad.

Beberapa menit sebelum dia memasuki gedung, salah satu anggota tim bertanya apakah "hewan kurban" telah tiba.

Dalam rekaman itu, anggota tim, Mutreb, mengatakan kepada Khashoggi bahwa dia akan dibawa kembali ke Riyadh dan memerintahkannya untuk meninggalkan pesan untuk putranya. Dia juga mengatakan kepada Khashoggi untuk tidak khawatir jika dia tidak dapat menghubungi wartawan.

Namun Khashoggi menolak dan kemudian dibius. Kata-kata terakhirnya sebelum kehilangan kesadaran adalah, "Saya menderita asma. Jangan lakukan itu, Anda tahu saya akan mati lemas,".

Kemudian, sekitar 24 menit setelah kedatangan Khashoggi, sebuah suara dapat terdengar dalam rekaman audio yang oleh intelijen Turki dinilai sebagai gergaji serta suara lembaran plastik.

Hingga satu tahun kematiannya, jasad Khashoggi belum juga ditemukan atau diketahui keberadaaannya.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Telkom Cegah Kerusakan Terumbu Karang Lewat Program ‘Bisa Biru’

Rabu, 15 Juli 2026 | 18:05

Cak Imin dan Parpol Sahabat Ikut Merumput di Turnamen Minisoccer Harlah PKB

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:38

Kebutuhan Dana B50 Capai Rp32,3 Triliun, BPDP Pastikan Kas Aman

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:36

Baliho Ulang Tahun Jokowi Disoal, Pengamat Minta PPID Buka Dokumen Perizinan

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:23

Kejagung Teken Tiga Sprindik Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:16

Zulhas Ungkap Dua Fungsi Utama Kopdes Merah Putih, Tegaskan Bukan Supermarket

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:08

IHSG Sore Ini Menguat ke 6.041, Rupiah Ditutup Rp18.068 per Dolar AS

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:00

Menpar Jamin Setiap Rupiah Anggaran Negara Dikelola Akuntabel

Rabu, 15 Juli 2026 | 16:51

Sentuhan Teknologi Digital Mudahkan Masyarakat Ikuti Gerakan Sedekah Subuh

Rabu, 15 Juli 2026 | 16:48

Curiga Ada Intervensi Jelang Musda Demokrat Aceh, Kader Kirim Surat Terbuka ke AHY

Rabu, 15 Juli 2026 | 16:47

Selengkapnya