Berita

Para santri yang jadi korban penyiksaan pengurus pesantren di Nigeria/Net

Dunia

Lakukan Penggerebekan Di Pesantren, Polisi Temukan 300 Santri Disiksa Dan Dilecehkan

SENIN, 30 SEPTEMBER 2019 | 12:33 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Saat seseorang memutuskan untuk belajar di pesantren, seharusnya dia akan mendapat banyak pelajaran agama yang kuat. Tapi apa daya jika pesantren yang dituju ternyata hanya sebuah kedok dari tindakan perbudakan modern?

Adalah sebuah pesantren di Nigeria yang berubah menjadi rumah penyiksaan. Di dalam pesantren yang diketahui bernama Daru Imam Ahmad Bun Hambal ini, para santrinya ditahan dan disiksa. Bahkan mengalami pelecehan seksual oleh para staf pengajar.

Seperti diberitakan The Sun, Sabtu (28/9), polisi menemukan lebih dari 300 orang, pria dewasa hingga anak kecil, yang mendapat penyiksaan ketika menggerebek sebuah pesantren di daerah Rigasa, Kaduna, Nigeria bagian utara. Para santri ini dirantai, digantung, dan dipukuli


Dari gambar-gambar yang diunggah The Sun, tampak barisan siswa lelaki mengenakan belenggu di pergelangan kakinya, sementara beberapa orang lainnya dirantai di kaki dan tangan. Ada juga foto lain yang menunjukkan punggung seorang anak laki-laki yang penuh luka bekas penyiksaan.

Menurut keterangan Kepala Kepolisian negara bagian Kaduna, Ali Janga, penggerebekan dilakukan setelah ada informasi rahasia yang didapatkan pada Kamis (26/9). Janga mengatakan kasus ini merupakan perbudakan manusia yang berasal dari berbagai negara di Afrika, seperti Burkina Faso dan Mali.

Lebih lanjut, Jurubicara Kepolisian Kaduna, Yakubu Sabo menjelaskan, modus mengajari Al Quran digunakan sebagai dalih untuk menyiksa dan memperkosa para santri. Padahal, keluarga para santri membawa anak mereka ke pesantren itu untuk menjalani rehabilitasi dari narkoba dan penyakit lainnya agar bisa sembuh dan kembali normal.

"Kami menemukan sekitar 100 siswa termasuk anak-anak sembilan tahun dalam rantai di sebuah ruangan kecil. Para korban dilecehkan. Beberapa di antaranya mengatakan telah disodomi oleh guru mereka," ujar Sabo.

Selama penggerebekan, polisi menemukan sebuah ruang penyiksaan tempat para siswa dirantai, digantung, dan dipukuli di pesantren yang telah beroperasi selama 10 tahun terakhir ini. Pemilik pesantren dan enam stafnya langsung ditangkap selama penggerebekan.

Seorang korban berusia 42 tahun menggambarkan, beberapa siswa lainnya bahkan sampai meninggal karena penyiksaan dan dipaksa menjadi homoseksual.

Lebih lanjut, ia menjelaskan,"Saya telah menghabiskan tiga bulan di sini dengan rantai di kaki saya. Saya seharusnya mengejar gelar Master saya di Universitas Pretoria, Afrika Selatan. Saya mendapat izin untuk belajar Matematika Terapan, tetapi di sini saya dirantai."

Saat ini pihak kepolisian setempat tengah mengidentifikasi para korban untuk menghubungi keluarga.

Sementara itu diketahui, sebagian besar sekolah-sekolah Islam swasta di Nigeria memang kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

IHSG Merah, Rupiah Tembus Rp17.130 Usai Negosiasi AS-Iran Gagal

Senin, 13 April 2026 | 10:15

Kebangkitan Saham AI Asia: Investor Global Mulai Agresif Pasca-Redanya Tensi Geopolitik

Senin, 13 April 2026 | 10:02

Kasus Tas Branded Dicuri, EcoRing Diminta Tak Lepas Tangan

Senin, 13 April 2026 | 10:02

AS Blokade Kapal yang Keluar Masuk Pelabuhan Iran Mulai Hari Ini

Senin, 13 April 2026 | 09:52

Pembangunan Kawasan Legislatif dan Yudikatif IKN Terus Dikebut

Senin, 13 April 2026 | 09:43

Feel Good Network Bidik Pasar Ekonomi Digital Asia Tenggara

Senin, 13 April 2026 | 09:24

Australia Tolak Gabung Blokade AS di Selat Hormuz

Senin, 13 April 2026 | 09:21

PM Viktor Orban Tumbang setelah 16 Tahun Berkuasa

Senin, 13 April 2026 | 09:18

Tidak Ada Ajaran Kristen Benarkan Membunuh Sebagai Jalan Spiritual

Senin, 13 April 2026 | 09:16

Ubah Krisis Jadi Peluang: Strategi Indonesia Perkuat Ketahanan Ekonomi

Senin, 13 April 2026 | 09:09

Selengkapnya