Berita

Trump/Net

Dunia

Ini Cara Demokrat "Jual" Upaya Pemakzulan Trump

KAMIS, 26 SEPTEMBER 2019 | 10:00 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Partai Demokrat Amerika Serikat berjuang untuk melakukan penyelidikan dan pemakzulan terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump karena dinilai telah melakukan penyalahgunaan kekuasaan.

Trump dituduh menekan presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dalam penrcakapan telepon bulan Juli lalu untuk menyelidiki dugaan korupsi yang melibatkan perusahaan milik putra calon rival terkuatnya dalam pemilu 2020 mendatang, Joe Biden.

Ketua DPR Nancy Pelosi yang berasal dari Demokrat pada Selasa (24/9) meluncurkan penyelidikan formal terkait tuduhan itu. Dengan tuduhan tersebut, Demokrat berjuang untuk menyusun alasan terpadu yang menjelaskan mengapa dia mungkin layak dimakzukan.


Karena itulah mereka berupaya "menjual" pemakzulan itu demi menggalang dukungan atas upaya tersebut.

Di aula Kongres, di jalur kampanye dan di media sosial, banyak politikus Demokrat yang menyuarakan penyelidikan dan pemakzulan atas hal tersebut.

"Ini tentang masa depan. Ini tentang melindungi pemilihan Amerika dan keamanan nasional Amerika. Ini masalah yang saya pikir tidak sulit untuk dipahami," kata Ketua Mayoritas DPR Steny Hoyer pekan ini.

Sementara itu, politikus Demokrat dengan latar belakang militer dan intelijen menggambarkan penyelidikan pemakzulan itu sebagai tugas, bukan perjuangan politik yang mereka sukai.

"Di distrik seperti milik saya, semuanya beresiko," kata perwakilan dari Virginia Abigail Spanberger, yang juga merupakan mantan perwira CIA kepada konstituennya.

Dia menambagkan bahwa tuduhan terhadap Trump adalah ancaman signifikan bagi keamanan nasional.

Namun, di tubuh Demokrat itu sendiri ada suara sumbang yang menilai bahwa tuduhan tersebut akan mungkin menjadi bumerang bagi Demokrat sendiri.

Perwakilan Amerika Serikat Jeff Van Drew, yang merupakan seorang Demokrat New Jersey, mengatakan dia tidak keberatan dengan penyelidikan tersebut. Namun dia mengatakan tidak siap untuk mendukung pemakzulan.

Drew mengatakan dia telah menghadapi beberapa tekanan dari rekan-rekannya untuk berubah pikiran dan bergabung.

"Ini bukan tekanan seperti seseorang yang memojokkan Anda, tetapi itu adalah tekanan seperti 'Wah kita semua melakukan ini bersama-sama, kita semua memiliki pesan yang sama'. Dan itu tidak benar," ujarnya seperti dimuat Reuters.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Kemendag: Wajib Halal Bukan Pelarangan Impor

Sabtu, 26 September 2026 | 06:30

Baznas dan Komite Bantuan Kepresidenan Palestina Perkuat Kerja Sama Kemanusiaan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:12

Instruksi Prabowo soal Kuliah Gratis PTN Harus Diprioritaskan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:00

Serba ‘Tidak’ di Sidang Gibran

Sabtu, 26 September 2026 | 05:41

Cuma Tambah Dua Perunggu, Peringkat Indonesia Merosot

Sabtu, 26 September 2026 | 05:17

Jalur Sepeda Jangan cuma Jadi Pajangan

Sabtu, 26 September 2026 | 05:00

Benarkah Pengganti Gibran Sudah Ada?

Sabtu, 26 September 2026 | 04:29

Korlantas Polri Luncurkan Empat Inovasi Digital

Sabtu, 26 September 2026 | 04:18

Jangan Istimewakan Oknum DPRD Diduga Bakar Lahan

Sabtu, 26 September 2026 | 04:00

Kepala BNPB Minta Maaf soal Karhutla: Klarifikasi Istilah 'Normal'

Sabtu, 26 September 2026 | 03:46

Selengkapnya