Berita

Ilustrasi

Publika

Anak STM Melihat Pancaroba…

KAMIS, 26 SEPTEMBER 2019 | 08:56 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

KEBANGKITAN nasionalisme Indonesia tidak lahir dari golongan kelas menengah. Andai tidak ada revolusi kemerdekaan golongan yang umumnya priyayi dan feodal ini lebih nyaman ikut sama Belanda. Pemerintah kolonial Belanda sendiri telah mempersiapkan mereka sebagai golongan Pangrehpraja, yaitu aparatur pemerintah yang dididik dan dipersiapkan untuk meneruskan administrasi kolonial.

Itulah sebabnya Wahidin Sudirohusodo tidak mendapat respon dari golongan kelas menengah ketika ia melakukan tourne untuk menggalang cita-cita memajukan bangsa. Hingga akhirnya dia bertemu dengan mahasiswa dan para pelajar yang kemudian mencetuskan lahirnya Budi Utomo.

Yaitu para mahasiswa Stovia dan pelajar Osvia.


Hari ini kebangkitan akan perubahan selain muncul dari mahasiswa juga datang dari anak-anak STM. Anak-anak yang umumnya berasal dari keluarga kurang mampu yang sehari-hari merasakan kesulitan hidup karena merupakan korban paling depan dari sistem brengsek perekonomian neoliberal yang tidak memihak kepentingan rakyat kecil.

Korban jargon-jargon gombal seperti Trisakti sampai Revolusi Mental, yang telanjur kena stigma “tukang tawuran”. Padahal energi dan kreativitas mereka tidak tersalurkan karena kemiskinan dan tidak adanya kepedulian pemerintah selain iming-iming jargon kosong dari menteri urusan pemudanya yang koruptor.

Anak-anak STM ini ternyata punya kepekaan terhadap keadaan walaupun mungkin referensi mereka mengenai politik sangat terbatas, tetapi mereka punya cara dan punya keberanian untuk mengekspresikan keinginan agar terjadi perubahan di negeri ini. Mereka merasakan sendiri pancaroba yang membahayakan bangsanya. Merasakan bahwa pemerintahan ini sudah tidak punya trust, tidak punya kredibilitas dan tidak punya keberpihakan kepada rakyat.

Pancaroba dalam konteks hari ini adalah cekikan perekonomian neoliberal seperti BPJS yang malah menyengsarakan rakyat, bakal naiknya tarif listrik, kebakaran hutan yang masif dan merusak lingkungan hidup tetapi tanpa keadilan penegakan hukum.

Hal lainnya ialah upaya pelemahan KPK demi untuk menyuburkan korupsi, RUU KUHP yang semangatnya lebih kolonial daripada kolonialis, persoalan kedekatkan politik dan ekonomi yang sangat berlebihan dengan Tiongkok, hingga bahaya laten rasisme yang bisa menjalar karena masalah Papua tidak tepat penanganannya.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

KPK Benaran Sakit Jiwa, Gedung Merah Putih Mending untuk Merawat ODGJ

Kamis, 16 Juli 2026 | 19:00

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Berkunjung ke USS Missouri

Sabtu, 18 Juli 2026 | 06:08

Legislator PDIP Minta Pemerintah Gercep Atasi Titik Panas di Sejumlah Wilayah

Sabtu, 18 Juli 2026 | 05:48

Menakar Arah Pemerataan Lewat Pelayaran Perintis

Sabtu, 18 Juli 2026 | 05:20

TNI Kirim Satgas Kompi Zeni dalam Misi Perdamaian PBB di Kongo

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:58

Pemerintah Didorong Segera Bentuk Badan Rempah dan Herbal Nasional

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:38

PBB Dukung Penuh Pemerintahan Prabowo dan Bidik Kemenangan 2029

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:18

Ancaman Industri Hasil Tembakau dan Agenda Global

Sabtu, 18 Juli 2026 | 03:59

BRI Gelar KKB Expo Hadirkan Kemudahan Layanan Pembiayaan Kendaraan

Sabtu, 18 Juli 2026 | 03:45

Data Pengungsi Papua Harus dapat Dipertanggungjawabkan

Sabtu, 18 Juli 2026 | 03:20

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Selengkapnya