Berita

Macron berusaha damaikan Trump dan Rouhani/Net

Dunia

Presiden Perancis Coba "Comblangi" Rouhani Dengan Trump

RABU, 25 SEPTEMBER 2019 | 16:07 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Presiden Perancis, Emmanuel Macron, masih yakin pemipin Amerika Serikat dan Iran bisa melakukan pertemuan di sela-sela Sidang Umum PBB. Karena Macron menilai kedua belah pihak sebenarnya punya keinginan yang sama untuk menghentikan ketegangan diplomatik di antara mereka.

Macron pun terus mendorong adanya pertemuan antara Presiden Iran Hassan Rouhani dengan Presiden AS Donald Trump di sela-sela pertemuan tahunan PBB. Macron bahkan telah mengadakan pertemuan secara terpisah dengan Trump dan Rouhani.

"Saya percaya bahwa kondisi seperti saat ini akan mengembalikan negosiasi yang sudah dibuat. Tapi itu tergantung kepada keinginan kedua belah pihak," ujar Macron seperti yang dilansir oleh Al Jazeera, Selasa (24/9).


Lebih lanjut, Macron mengungkapkan, baik Iran maupun AS memiliki niat yang sama untuk menghentikan ketegangan. Termasuk untuk menjalin kesepakatan jangka panjang. Oleh karenanya, Macron merasa Rouhani dan Trump tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan saat ini.

"Saya tidak berpikir dalam beberapa minggu dan bulan mendatang akan ada kesempatan baginya (Rouhani) untuk kembali ke AS, dan saya tidak berpikir Presiden Trump akan pergi ke Teheran," tambah Macron

Namun, upaya Macron tampaknya tidak akan mudah terwujud. Karena Rouhani pernah mengatakan dirinya tidak akan bertemu dengan Trump sebelum sanksi yang diberlakukan AS terhadap Iran dicabut. Rouhani juga mengindikasikan tidak akan melakukan sesi foto bersama dan bertemu Trump, sebelum mendapatkan komitmen AS.

Macron sendiri dikenal tengah berusaha menjadi mediator perselisihan AS dan Iran. Macron bahkan menawarkan sejumlah bantuan ekonomi demi membujuk Rouhani agar mau bertemu dengan Trump.

Tidak hanya Macron, beberapa pemimpin dunia lainnya juga sangat mengharapkan Rouhani dan Trump bisa membuat sebuah pertemuan bersejarah. Sekaligus mengakhiri ketegangan di antara kedua negara.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Tiga Tahun UU TPKS: DPR Soroti Masalah Penegakan Hukum dan Temuan Kasus di Lapas

Kamis, 15 Januari 2026 | 12:08

Komisi III DPR Mulai Bahas RUU Perampasan Aset Tindak Pidana

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:48

Utang Luar Negeri Indonesia Kompak Menurun

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:34

Giliran Ketua DPD PDIP Jawa Barat Ono Surono Diperiksa KPK di Kasus OTT Bupati Bekasi

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:19

Muncul Tudingan Pandji Antek Asing di Balik Kegaduhan Mens Rea

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:04

Emas Antam Naik Terus, Tembus Rp2,67 Juta per Gram!

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:54

KPK Tak Segan Tetapkan Heri Sudarmanto Tersangka TPPU

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:43

TAUD Dampingi Aktivis Lingkungan Laporkan Dugaan Teror ke Bareskrim

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:28

Istana Ungkap Pertemuan Prabowo dan Ribuan Guru Besar Berlangsung Tertutup

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:27

Update Bursa: BEI Gembok Saham Tiga Saham Ini Akibat Lonjakan Harga

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:17

Selengkapnya