Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Kebakaran Hutan dan Moralitas Kita

MINGGU, 22 SEPTEMBER 2019 | 15:45 WIB | OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN*

SEWORD.com, situs berita pendukung die hard Jokowi menampilkan berita dengan judul "Jokowi Doa Sekali, Hujan Langsung Turun, Kampret Doa Berjilid-jilid Jokowi Tidak Turun-turun". Berita ini terkait dengan kebakaran hutan di mana doa Jokowi ini telah menolong rakyat bukan pemilihnya (kampret) dari asap kebakaran, yang dalam ulasan berita itu disebut azab Tuhan.

Pada saat bersamaan soal kebakaran hutan dan asap ini, beberapa situs nasional menurunkan judul berita seperti berikut: Kompas.com. mengangkat headline kebakaran hutan di Jambi dengan judul "Kesaksian Warga Saat Langit Jambi Merah, Memcekam dan Sesak Napas", Detik.com mengangkat judul "Kabut Asap di Medan Kian Pekat", RMOL.id mengangkat judul "Jurnalis untuk Karhutla", Liputan6.com "Warga Balikpapan Meninggal Terkepung Asap Saat Padamkan Kebakaran Hutan", Tirto.id "Kualitas Udara Pekanbaru dan Empat Kota Terdampak Asap Kebakaran Hutan" dan Tempo.co menampilkan berita "Kebakaran Hutan, Greenpeace: Pemerintah saja Tidak Taat Hukum".

Entah di mana letak moralitas dan kemanusian pendukung Jokowi dalam melihat masalah kebakaran hutan ini.


Kebakaran hutan bukanlah azab tuhan. Ustaz Abdul Somad tidak mau berdoa meminta hujan kepada Allah SWT, sebab menurutnya hukum besi harus ditegakkan kepada pembakar hutan itu. Gubernur Jakarta, misalnya pula, mengirimkan pasukan pemadam api ke Kalimantan bukan meminta orang mengirim doa.

Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi, juga mengeluarkan pernyataan bahwa yang harus dimatikan bukanlah apinya (saja) tapi yang harus dimatikan adalah orang yang membakar hutan itu. Menurutnya itu dapat personal dan dapat juga menyentuh korporasi.

Dari sisi masyarakat, gerakan anti kebakaran hutan belum maksimal. Iwan Fals, Slank, dan artis-artis hebat pendukung Jokowi mungkin tidak tertarik urusan lingkungan hidup, setidaknya soal asap dan kebakaran hutan ini.

Sedangkan pecinta lingkungan hidup seperti Arie Rompas dan Chalid Muhammad mungkin tidak mampu menggubah sebuah lagu. Akhirnya youtube dihiasi lagu-lagu asap dan kebakaran hutan dari orang-orang amatiran namun peduli.

Lagu terbaru yang diunggah ke youtube adalah HAZE dengan mengubah lirik lagu Jamaican Folk Song "Banana Boat". Baru beberapa hari unduhan itu sudah diunduh 30.000 penonton. Lagu ini merupakan salah satu dari puluhan lagu soal asap yang diupload orang-orang Malaysia dan Singapura.

Meninggalkan urusan kerusakan lingkungan hidup hanya pada aktivis lingkungan, akan membuat perlawanan atas kekurang becusan rezim Jokowi dalam penanganan isu ini selama 4 tahun terakhir menjadi kurang berdaya. Bahkan negara kita menihilkan bantuan internasional atau negara tetangga.

Mahathir Mohamad, misalnya, kecewa dengan Jokowi karena ajakannya untuk melakukan kerja sama soal pemadaman api kebakaran hutan tidak ditanggapi. Alhasil, kita harus mendorong gerakan anti kebakaran hutan ke depan adalah gerakan semua rakyat.

Gerakan rakyat itu artinya dapat menekan terus pemerintah untuk membocorkan semua pemilik konsesi lahan hutan dan kebun. Dan tentu saja selain untuk memberi kecaman sosial bagi yang terlibat pembakar hutan, juga dapat dinyatakan sebagai hak rakyat untuk perolehan informasi publik.

Selain itu, gerakan rakyat juga dapat dikembangkan menjadi gerakan memboikot produk-produk kelapa sawit, dan produk kayu, khususnya yang terkait pembakar hutan. Baik dalam skala Asean, maupun kampanye tingkat dunia.

Mahathir sendiri ketika merasa jalan bersama antara pemerintah gagal, mendorong rakyatnya untuk membangun gerakan civil society lintas negara. Sebab, kebakaran hutan dan dampak asap ini sudah lampu merah alias berbahaya.

Saat ini kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK) telah menyegel 9000 hektare lahan milik 52 perusahan yang bertanggung jawab atas kebakaran hutan. Entah kenapa Seword.com mengatakan ini azab dari Tuhan, bukan kejahatan korporasi.

Kita sebagai sebuah bangsa beradab harus sadar bahwa kita telah menyerang negara tetangga, bertahun-tahun. Jika moralitas kita ada, maka kita harus meminta maaf secara terbuka kepada rakyat Malaysia dan Singapura. Dan kepada rakyat kita sendiri, pemerintah harus meminta maaf dan menghukum pembakaran hutan yang terkait bisnis besar perkebunan, kayu, mining dan sebagainya.

Jadilah bangsa yang bermoral.

Penulis adalah Direktur Sabang Merauke Institute.

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Purbaya Santai Tanggapi Risiko Pencucian Uang di Patriot Bond: Bisa Dipakai untuk Bangun Ekonomi

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:16

7 Cara Mencegah ISPA saat Musim Kemarau

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:10

ITDC Buka Suara soal Laporan Dugaan Korupsi PPK Mandalika ke KPK

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:07

Nadiem Apresiasi Mahasiswa yang Turun ke Jalan

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:04

Usulan Penderita TB Jadi Penerima MBG Harus Dikaji Matang

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:01

Kemenkeu Belum Berminat Miliki Saham BEI

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:59

Tiga Pejabat Bea Cukai Segera Diadili Gegara Terima Suap dan Gratifikasi Rp71 Miliar

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:53

Update Harga iPhone Terbaru di Indonesia 22 Juni 2026

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:49

Kuasa Hukum Sulaiman Minta Komnas HAM Awasi Dugaan Kriminalisasi

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:45

Joko Anwar Umumkan Pengabdi Setan 3 Akan Tayang 2027

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:32

Selengkapnya