Berita

Tagihan BPJS Kesehatan/RMOL Jatim

Publika

Soal BPJS, Negara "Sales" Mengiba Pada Rakyat

SABTU, 14 SEPTEMBER 2019 | 12:39 WIB

BELUM lama ini seorang teman mengeluh sekaligus heran. Dia menerima tagihan via SMS dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Isinya disuruh bayar iuran. Tidak tanggung-tanggung, teman ini nunggak hingga Rp 5.610.000.

Maklum, sudah 5 tahun tidak bayar iuran, kata teman.


Sengaja tidak dibayar. Sebab, dia sudah tidak suka dengan pelayanannya. Berbelit-belit. Antri berjam-jam. Yang sakit bertambah parah, yang sehat (pengantar) malah menjadi sakit. Karena harus antri itu tadi.

Anehnya, setelah bertahun-tahun, nama teman ini rupanya masih terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan. Dikira sudah dihapus.

Lalu selama bertahun-tahun ini namanya sudah melancong kemana saja. Apa namanya dibuat jaminan utang?

Kini setelah bertahun-tahun, baru ditagih. Jadi buruan BPJS. Jadi DPO dia.

"Mohon segera lakukan pembayaran. Abaikan (pesan) jika sudah bayar," demikian bunyi pesan tersebut.

Pesan tersebut terkesan seperti 'intimidasi' meski bernada permohonan. Mengapa disebut intimidasi, karena pesan tersebut dikirim berkali-kali.

Tidak menganggu sih. Cuma kesannya aneh dan lucu. Seperti orang mengiba. Minta utangnya dibayar. Padahal ini kan iuran.

Kesannya, negara kok mengiba pada rakyat.

Di Depok, RT dan RW malah menjadi juru tagih atau dept collector BPJS Kesehatan. Cuma, masih diujicobakan.

Pelayanan BPJS Kesehatan dikiritik pun percuma. Sistemnya sudah bobrok dari awal. Bukannya diperbaiki, malah mau menaikkan iuran.

Sekarang, BPJS Kesehatan malah mengklaim defisit. Diberi solusi dari para ahli, BPJS cuek. Pura-pura pasang muka tebal, telinga ditutup rapat-rapat.

Solusinya ya itu, menaikkan iuran. Malahan kenaikan iuran dibarengi dengan "ancaman".

Sri Mulyani, Menteri Keuangan terbalik - kata Rizal Ramli, mengancam akan memberi sanksi kejam.

Yang nunggak iuran BPJS Kesehatan tidak boleh memperpanjang surat izin mengemudi (SIM) dan mendaftarkan sekolah anaknya.

Separah itukah kondisi keuangan negara? Apa negara ini mau bangkrut? Atau jangan-jangan negara mau dijual ke Asing dan Aseng. Sampai-sampai harus mengiba dan mengancam pada rakyatnya.

Cara-cara yang digunakan mirip komunis.

Main ancam, main gebuk. Pokoknya rakyat ditindas.

Lihat saja laporan Direktur Bank Dunia untuk Indonesia Rodrigo A. Chaves saat bertemu Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Panjaitan.

Bank Dunia melaporkan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahwa tak ada satupun dari 33 perusahaan China yang merelokasi pabriknya ke Indonesia.

Chaves membeberkan ada 33 perusahaan terbuka asal China merelokasi pabriknya ke Vietnam, Thailand, bahkan Meksiko.

Kasihan, Indonesia sama sekali tidak dilirik. Meski pemerintah telah menggelar 'karpet merah' selebar-lebarnya pada China dari Sabang sampai Merauke. Bahkan, rela ibukota pindah.

Barangkali China memang bukan mau berinvestasi, melainkan memberi pinjaman alias utang. Beda investasi dan utang. Silahkan tanya pada ahli ekonomi.

Dengan utang menumpuk, negara bisa diambil alih. Seperti empat negara yang gagal membayar utang ke China yakni Zimbabwe, Nigeria, Sri Lanka dan Pakistan.

Gagal bayar utang mencapai 40 juta dolar AS ke China karena pembangunan infrastruktur, Zimbabwe kini harus mengikuti keinginan China mengganti mata uangnya menjadi yuan. Sebagai imbalan penghapusan utang.

Atau kemungkinan buruk lainnya, Indonesia hanya dijadikan negara "sales". Menjualkan mobil merk Changan milik China yang sudah diganti merk menjadi Esemka, seperti tudingan banyak kalangan.

Noviyanto Aji
Wakil Pemimpin Redaksi RMOL Jatim.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Investor Diminta Wait and See, Pengamat Prediksi Banyak yang Ditangkap Imbas MSCI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:30

Serangan Houthi Ganggu Ajang Olahraga Saudi, Piala Asia Tetap Sesuai Jadwal

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:14

Putusan MK soal UU Peradilan Militer Momentum Akhiri Impunitas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:06

Komisi III DPR Desak Pelaku Korupsi Dana Bencana Dihukum Maksimal!

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:46

Daftar Negara Masuk Standalone Market MSCI, Ada 12 Negara

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:34

Dihantam Ancaman MSCI, IHSG Terancam Anjlok ke 4.700 Pekan Depan

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:24

Minyak Dunia Tembus 110 Dolar AS

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:07

Profil Hamenang Wajar Ismoyo, Bupati Klaten Tersangka Kasus Suap Audit BPK

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:53

Karhutla Meluas, Legislator Golkar Desak Evaluasi Pencegahan dan Penegakan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:52

BMKG Deteksi Sebaran Asap Karhutla hingga Jakarta dan Papua

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:39

Selengkapnya