Berita

BJ Habibie sempat dijegal usai gantikan Soeharto memimpin negeri ini/Net

Publika

Puja-Puji Penjegal Habibie Dan Kesadaran Yang Terlambat

KAMIS, 12 SEPTEMBER 2019 | 17:11 WIB

HABIBIE menjadi Presiden ke-3 RI menggantikan Soeharto pada 21 Mei 1998. Pekerjaan berat menanti. Saat itu ekonomi nasional hancur lebur dengan nilai tukar Rupiah pada Januari 1998   Rp 14.800. Bahkan 40 hari setelah menjadi Presiden, nilai tukar Rupiah anjlok lagi ke Rp 16.800. Krisis ekonomi juga diperparah dengan kerusuhan-kerusuhan di berbagai kota.

Habibie terus bekerja keras bersama para menterinya. Pelan-pelan ekonomi nasional diperbaiki dengan kebijakan yang efektif.

Dalam kurun waktu 17 bulan masa kepemimpinannya, Habibie berhasil menurunkan kurs Rupiah ke Rp 6.500. Bahkan hiperinflasi yang sempat double digit akibat rupiah anjlok dan kelangkaan bahan-bahan sembako juga dapat kembali ke single digit. Januari-September 1999, laju inflasi hanya mencapai 2 persen, padahal dalam periode sama tahun 1998 mencapai 75,47 persen.


Di era Habibie ini pula berbagai kebijakan IMF harus dilakukan pemerintah RI sesuai LOI bailout IMF antara presiden Soeharto dan IMF yang diwakili Direktur Michel Camdessus pada 15 Januari 1998. Antara lain likuidasi bank-bank bermasalah dan menghentikan proyek-proyek besar seperti industri pesawat terbang nasional.

Di saat yang bersamaan, Habibie juga mempertahankan kebijakan tarif dasar listrik dan BBM bersubsidi, serta subsidi bahan-bahan pokok agar terjangkau oleh masyarakat di tengah krisis ekonomi.

Keberhasilan dalam menyelamatkan ekonomi nasional tidak otomatis memuluskan langkah politik Habibie. Musuh-musuh politik Habibie tetap berkeras menghentikan Habibie. Pidato pertanggungjawaban Habibie dalam Sidang Istimewa MPR pada 20 Oktober 1999 dinyatakan ditolak . Inilah yang menyurutkan langkah Habibie mencalonkan diri lagi sebagai presiden berikutnya.

Isu utama untuk menjegal Habibie maju lagi dalam Pilpres berikutnya adalah stigma bahwa Habibie bagian dari Orde Baru. Pihak oposisi, yang dimotori oleh parpol-nya Habibie sendiri Golkar dengan aktornya Akbar Tanjung, menyebutkan salah satu kesalahan terbesar yang Habibie lakukan saat menjabat sebagai presiden ialah memperbolehkan diadakannya referendum provinsi Timor Timur (sekarang Timor Leste). Hingga kemudian Timor Timur lepas dari NKRI pada 30 Agustus 1999.

Dalam bukunya, Habibie mengaku hendak sesegera mungkin menyelenggarakan referendum Timor Timur -dalam konteks krisis ekonomi yang mana RI membutuhkan bantuan finansial negara-negara donor dan IMF, yang mensyaratkan penyelesaian persoalan Timor Timur- agar presiden yang menggantikannya tidak perlu pusing dibuatnya.

"Dengan demikian, siapa pun menjadi presiden dan wakil presiden nanti, dapat memberi perhatian penuh kepada...penyelesaian masalah politik, dan masalah ekonomi nasional."

Kini, ketika Habibie wafat menghadap Sang Khalik, para elit dan tokoh lawan politik Habibie yang dulu menjegal langkah Habibie menjadi Capres lagi, yang menilai negatif kebijakan-kebijakan  Habibie, justru kini dengan tinggi memuja-muji Habibie.

Bahkan tidak ada elit yang menolak dengan penyematan gelar Bapak Demokrasi kepada Habibie. Gelar yang sesungguhnya punya relevansi kuat pada referendun Timor Timur. Sesuatu yang sebenarnya tidak mengherankan, karena berjalan dengan waktu banyak pihak yang berbalik menilai positif pemerintahan Habibie.

Entah apakah puja-puji para pembenci Habibie dahulu ini sebagai kesadaran yang terlambat atau hanya sekadar mengikuti emosional mainstream ketika menerima kabar wafatnya Habibie. Padahal prestasi Habibie dalam 17 bulan pemerintahannya telah menyelamatkan ekonomi nasional.

Tetap saja Habibie tidak diakui demi agenda politik para elit, yang nyatanya 20 tahun kemudian Indonesia menjadi negara dengan begitu banyak masalah seperti saat ini.

Satu yang tidak bisa dibantah siapapun dari jasa-jasa Habibie adalah "penguasaan teknologi dirgantara oleh bangsa Indonesia" yang telah diakui dunia. Habibie sendiri yang buat Rancang Bangun pesawat produksi Nurtanio/IPTN. Terkait teknologi ini, saya berharap semoga kisah mobil nasional nanti tidak "jomplang" dengan kisah suksesnya pesawat terbang nasional.

Tidak mengherankan jika Habibie menjadi pemimpin yang inspiratif. Habibie satu-satunya Presiden RI yang dijadikan benchmark/contoh para orang tua ketika nasihati anaknya belajar agar jadi orang pintar seperti Habibie. Para orang tua tak pernah bilang kepada anak-anaknya agar jadi orang seperti Soekarno, Soeharto, Gus Dur, Mega, SBY, apalagi Jokowi.

Kembali kepada kesadaran yang terlambat, apakah perlu waktu 20 tahun untuk menyadarinya dan apakah ini merupakan penyakit kultural bangsa Indonesia?

Saat negara asing -China dan Barat- ingin menguasai Indonesia, bisa jadi kesadaran terlambat datang 20 tahun lagi. Ketika kita sebagai bangsa sudah tidak memiliki apapun.

Atau apakah memang naturnya elit politik kita takut kepada pemimpin yang cerdas dan punya visi atas masa depan bangsanya. Lebih baik memilih pemimpin bodoh, dan mudah diatur oleh elit, bahkan oleh negara asing.

Tetapi saya menduga, para elit ini juga yang akan pertama kali berbalik meninggalkan pemimpin pilihannya di saat kesulitan negara tak lagi bisa diobati. Agar para elit tidak dituduh sebagai dalang semua bencana.

Selamat jalan BJH, Bapak Demokrasi Indonesia. Semoga kembali sebagai jiwa yang tenang. Indonesia akan selalu mengenangmu. Aamiin.

Gde Siriana Yusuf

Pengamat Politik

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Merawat Tradisi Intelektual Mahasiswa Lewat Peluncuran Buku Pergerakan

Senin, 06 Juli 2026 | 03:59

Demokrasi Liberal dan Benteng Oligarki

Senin, 06 Juli 2026 | 03:43

ICX Realisasikan Buyback Rp71 Miliar Perkuat Sistem Tata Kelola

Senin, 06 Juli 2026 | 03:20

Polresta Bandara Soetta Bongkar Home Industry Vape Isi Ganja Beromzet Miliaran

Senin, 06 Juli 2026 | 02:59

Manifesto AJIP Bali: Ketika Pariwisata Kehilangan Arah

Senin, 06 Juli 2026 | 02:35

Perpres 111/2025 soal LGBT Ancaman Nirmiliter jadi Langkah Preventif Terukur

Senin, 06 Juli 2026 | 02:12

Nyali Semesta: Ali Khamenei dan Puncak Kepemimpinan Transendental

Senin, 06 Juli 2026 | 01:57

UMKM dan Budaya Minangkabau Bergaung di Malaysia

Senin, 06 Juli 2026 | 01:40

Jaksa telah Berubah Menjadi Pengacara Jokowi

Senin, 06 Juli 2026 | 01:20

Aiptu Sumaryanto jadi Korban Ketiga yang Gugur saat Gerebek Bandar Narkoba di Katingan

Senin, 06 Juli 2026 | 00:59

Selengkapnya