Berita

Zulkifli Lubis (tengah)/Net

Publika

Tionghoa Dari Hari Ke Hari

SELASA, 27 AGUSTUS 2019 | 17:51 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

BEBERAPA hari Pasca 17 Agustus 1945, first step yang dilakukan Sukarno adalah membentuk Badan Intelijen.

Dua puluhan pengusaha Tionghoa dikumpulkan. Di depan mereka, Sukarno kurang-lebih berkata, "Kita baru saja mendirikan negara baru. Salah satu yang dibutuhkan negara adalah sebuah badan intelijen. Tapi kita tidak punya uang".

Para pengusaha Tionghoa setuju bantu. Sumbang duit. Maka "Badan Istimewa" dibentuk.


Seorang jebolan Sekolah Intelijen Jepang Nakano di Tangerang bernama Kolonel Zulkifli Lubis bersama 40 veteran PETA (penyelidik khusus militer) memimpin lembaga rahasia itu.

Bulan Mei 1946, "Badan Istimewa" ganti nama jadi "Badan Rahasia Negara Indonesia" disingkat "Brani".

Pasca Agresi Belanda II atau Operatie Kraai, Zaman Orde Lama dimulai.

Hanya ada dua golongan Tionghoa; Pro Tiongkok dan Pro Republik Indonesia. Tionghoa Pro Belanda meleburkan diri ke barisan Pro Republik Indonesia.

Tionghoa Pro Tiongkok semakin mengecil dan terisolasi pasca pertemuan PM Zhou Enlai dengan Ketua Baperki Siauw Giok Tjan di Jakarta.

Pertarungan ganas pecah di internal Tionghoa Pro Republik Indonesia. Siauw Giok Tjan memimpin Peranakan Pro Sukarno. Sebarisan dengan element Progressive Revolusioner.

Lawannya adalah Klik Tionghoa Poros Taiwan penentang Sukarno. Pertarungan konsep integrasi dan asimilasi.

G-30S/PKI pecah tahun 1965. Tiongkok support PKI. Sukarno tumbang. PKI kocar-kacir. Baperki dan Kelompok Tionghoa Pro Sukarno jadi collateral damage.

Semasa Orde Baru, Klik Tionghoa pemenang membentuk CSIS. Menyerap residu Tionghoa menjadi Kristen-Katolik. Lahirkan banyak konglomerat. Bareng keruk kekayaan alam.

Sampai Jenderal LB Murdani dicopot Pak Harto. Jadi macan ompong. Peran CSIS diganti ICMI.

Dekade terakhir Pak Harto, Setelah era cold war, lahir generasi Tionghoa Baru. Andreas Harsono dan Stenly Prasetyo gabung di Aliansi Jurnalis Independen.

Masuk era reformasi, 500-an perkumpulan Tionghoa muncul. Ex CGMI Benny G Setiono ikut melahirkan Perhimpunan Indonesia Tionghoa. Lieus Sungkharisma mendeklarasikan Partai Reformasi Tionghoa disingkat Parti di Gedung KNPI Jakarta.

Pemenang Era Reformasi adalah Taipan Tionghoa. NGO Solidaritas Nusa Bangsa pimpinan aktivis Ester Indahyani Jusuf Purba atau Siem Ai Ling disokong James Riyadi.

Mantan Bupati Belitung Timur Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok ditampung Grup Sinar Mas.

Ahok dan segenerasinya memetik panen reformasi di tahun 2004. Dia masuk Partai PIB. Jadi kesayangan Dr. Syahrir dan Rocky Gerung yang menjadi mentornya.

Kulminasi sukses Tionghoa reformis adalah terlibat menciptakan skenario Jokowi-Ahok.

Jokowi jadi presiden. Ahok jadi Gubernur DKI Jakarta. Kepleset lidah. Ahok tumbang dihantam Aksi Bela Islam 1 sampai 3 dan Lieus Sungkharisma.

Sejak Era Ahok, provokasi "Anti Cina" menguat. Politics of hatred. Tuntutan kembali ke UUD 45 text asli hanya berkutat pada pasal 6. Anulir pasal-pasal baik hasil amandemen. Hanya karena ingin tutup kemungkinan WNI Tionghoa jadi presiden.

Layaknya semua kelompok ethnik, Tionghoa tidak monolith. Fragmentasinya banyak. Ada yang pro NKRI, cari duit, ngartis, mualaf, Papang Hidayat Tionghoa Lampung masuk Amnesty Internasional urus korban 21-22 Mei, dan beberapa orang memilih jadi antek-antek Taipan.

Grace Natalie diplot tampil di atas panggung PSI. Arief Poyuono dikenal sebagai waketum Gerindra dan klaim diri sebagai “titisan semar". Jusuf Hamka yang pernah ditangkap Hendropriyono dengan tuduhan terlibat Komando Jihad jualan Nasi Kuning. Sementara Lieus Sungkharisma giat kampanye pulangkan Habib Rizieq Shihab.

Minoritas Tionghoa harus tahu diri. Publik mesti paham; Para player politik-ekonomi yang kebetulan beretnis Tionghoa jumlahnya sedikit.

Rata-rata Tionghoa hanya ngerti hidup dan kerja. Sesekali berkarya di bidang seni. Cari nafkah. Ngga peduli kekuasaan negara. Lebih suka makan duren.

Penulis adalah Aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (Komtak)

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

KPK Cium Skandal Baru Izin Tambang di Maluku Utara, Nama Haji Romo Ikut Terseret

Rabu, 01 April 2026 | 08:16

Wall Street Kembali Sumringah

Rabu, 01 April 2026 | 08:07

WFH ASN Diproyeksikan Hemat Kompensasi BBM Rp 6,2 Triliun

Rabu, 01 April 2026 | 07:53

Emas Melonjak 3 Persen, tapi Cetak Rekor Penurunan Bulanan Terburuk Sejak 2008

Rabu, 01 April 2026 | 07:42

RI Murka di DK PBB, Nilai Serangan TNI di Lebanon Tak Lepas dari Israel

Rabu, 01 April 2026 | 07:35

Pasar Saham Eropa Tutup Maret dengan Koreksi Terburuk dalam Empat Tahun

Rabu, 01 April 2026 | 07:24

Menhan AS Sebut Perang Iran Masuk Fase Penentuan

Rabu, 01 April 2026 | 07:17

Italia Gagal Lolos Piala Dunia Setelah Ditekuk 4-1 oleh Bosnia

Rabu, 01 April 2026 | 06:57

Katastropik Demokrasi Kita

Rabu, 01 April 2026 | 06:48

Soleman Ponto: Intelijen pada Dasarnya Teroris

Rabu, 01 April 2026 | 06:20

Selengkapnya