Berita

Wanita menyetir/Net

Dahlan Iskan

Revolusi Wanita

JUMAT, 23 AGUSTUS 2019 | 05:05 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

REVOLUSI wanita sedang dilakukan Pangeran MbS.  Sekarang ini. Semula saya melihatnya sepotong-sepotong.
 
Akhirnya saya melihatnya secara menyeluruh. Kesimpulan saya: Pangeran MbS lagi melakukan pembentukan “social capital”. Modal sosial. Yang tidak kalah penting dari modal uang.
 
Begitulah salah satu teori pembangunan: modal sosial harus sama kuat dengan modal uang. Agar pembangunan berhasil.
 

 
Tapi, biasanya, orang lebih fokus ke pembentukan modal dalam bentuk dana. Akibatnya, uang itu pun tidak menghasilkan pembangunan. Masyarakatnya tidak cukup siap untuk menggerakkan uang yang disediakan.
 
Lihatlah langkah Pangeran MbS, Mohamad bin Salman di Saudi Arabia ini:
 
Wanita mulai boleh mengendarai mobil. Wanita boleh masuk stadion.
 
Wanita, ini mengejutkan, boleh bepergian ke luar negeri sendirian. Tanpa didampingi muhrim, laki-laki dari keluarganya: suami, ayah, saudara kandung.
 
Saat mengurus paspor pun wanita boleh melakukannya sendiri. Pembuatan paspor tidak lagi harus seizin muhrim.
 
Wanita juga mulai diizinkan mendaftarkan kelahiran anaknya ke catatan sipil. Sendirian. Tanpa muhrim.
 
Semua itu terjadi hanya dalam dua tahun terakhir. Perubahan yang begitu cepat.
 
Tentu Mohamad bin Salman, putra mahkota Saudi Arabia, mendapat tentangan berat.
 
Dari dalam keluarga kerajaan sendiri, sepupu-sepupu sudah ia masukkan penjara.
 
Dari wartawan kritis, yang  tokohnya sudah dibunuh itu. Dan mayatnya lenyap itu.
 
Dari para ulama, sudah begitu banyak ulama yang ditangkap. Termasuk salah satunya imam di Masjidil Haram, Mekah itu.
 
Semula saya hanya melihat itu sebagai serpihan peristiwa.
 
Saya pun tidak pernah menulis soal wanita boleh mengemudi. Tidak menulis penangkapan-penangkapan. Tidak menulis wanita boleh masuk stadion.
 
Saya hanya menulis panjang soal pembunuhan wartawan itu.
 
Saya juga tidak pernah menulis proyek besar MbS: Visi Saudi 2030. Yakni target pembangunan Saudi yang tidak lagi mengandalkan minyak mentah.
 
MbS merancang, bagaimana pasca minyak nanti Saudi bisa menjadi negara maju, modern, dan kuat. Sepuluh tahun lagi.
 
Mimpi "Visi Saudi 2030" sudah begitu dekatnya. Baru dicanangkan 25 April 2016. Baru tiga tahun lalu. Sudah harus berhasil 10 tahun lagi.
 
Kini nyaris tidak ada oposisi di Saudi. Pun dari kalangan ulama. Yang menentang pun tidak bisa berkutik. Maksimum mereka hanya bisa “beroposisi dalam diam”.
 
Baru sekarang saya mencoba melihatnya secara menyeluruh. Menghubung-hubungkan semua kejadian itu. Satu dengan lainnya.
 
Ternyata MbS lagi menjalankan skenario besar. Membuat konsep. Menggalang modal finansial. Juga modal sosial.
 
Salah satu modal sosial yang besar adalah wanita.
 
Bagaimana pembangunan bisa berhasil kalau yang produktif hanya laki-laki?
 
Mari kita hitung: Produktivitas penduduk laki-laki, katakanlah 80. Tidak mungkin 100. Sebagian laki-laki sudah sangat tua, sakit, atau gila.
 
Produktivitas penduduk wanita, katakanlah 10. Ini lantaran wanitanya dikekang: tidak boleh keluar rumah, tidak boleh mengemudi.
 
Maka 80 ditambah 10 = 90. Berarti angka rata-ratanya 45.
 
Bandingkan dengan negara seperti Tiongkok.
 
Produktivitas penduduk laki-laki 80. Produktivitas penduduk perempuan 75.
 
Kalau ditotal: 155. Berarti rata-rata 75 lebih.
 
Begitu banyak selisihnya. Belum lagi dihitung faktor pengurang. Misalnya terjadinya pertengkaran. Berkurang sekian poin.
 
Terjadi demo besar. Berkurang lagi. Terjadi konflik. Berkurang terus.
 
Coba sekarang kita hitung sendiri modal sosial kita. Ups, tidak jadi. Sebaiknya Anda sendiri yang menghitung.
 
Saya tinggal membaca hasil hitungan Anda. Menyenangkan, bisa untuk permainan game teori pembangunan.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Noel Pede Didampingi Munarman

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:17

Arief Hidayat Akui Gagal Jaga Marwah MK di Perkara Nomor 90, Awal Indonesia Tidak Baik-baik Saja

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:13

Ronaldo Masuki Usia 41: Gaji Triliunan dan Saham Klub Jadi Kado Spesial

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:08

Ngecas Handphone di Kasur Diduga Picu Kebakaran Rumah Pensiunan PNS

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:00

Pegawai MBG Jadi PPPK Berpotensi Lukai Rasa Keadilan Guru Honorer

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:51

Pansus DPRD akan Awasi Penyerahan Fasos-Fasum

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:32

Dubes Sudan Ceritakan Hubungan Istimewa dengan Indonesia dan Kudeta 2023 yang Didukung Negara Asing

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:27

Mulyono, Anak Buah Purbaya Ketangkap KPK

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:20

Aktivis Guntur 49 Pandapotan Lubis Meninggal Dunia

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:08

Liciknya Netanyahu

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:06

Selengkapnya