Berita

Presiden Donald Trump, Ketua Kim Jong Un, dan Presiden Moon Jaein/Net

Dunia

Membicarakan Masa Depan Perdamaian Korea Di Gandaria

RABU, 21 AGUSTUS 2019 | 09:58 WIB | OLEH: DR. TEGUH SANTOSA

Sejak tahun lalu masyarakat internasional menyaksikan dinamika baru yang tidak terbayangkan sebelumnya di Semenanjung Korea.

Eskalasi ketegangan yang begitu tinggi mengalami perubahan mendadak setelah Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden Korea Selatan Moon Jaein bertemu di Panmunjom, di sisi Korea Selatan, pada akhir April 2018.

Pertemuan kedua pemimpin Korea itu kembali terjadi sebulan kemudian, di tempat yang sama, Joint Security Area (JSA) di Demilitarised Zone yang memisahkan Korut dan Korsel.


Masih di tahun 2018, di bulan September, Moon Jaein meningkatkan suasana persahabatan dengan mengunjungi Pyongyang dan Gunung Paektu yang sakral bagi bangsa Korea.

Dalam kunjungan itu, Moon Jaein juga diberi kesempatan oleh Kim Jong Un untuk berbicara di depan masyarakat Korea Utara saat menghadiri pertunjukan gigantik senam massal di Stadiun 1 Mei.

Moon Jaein menjadi presiden pertama Korea Selatan yang tidak hanya berkunjung ke Pyongyang tetapi juga berbicara langsung di hadapan rakyat Korea Utara.

Menyusul peredaan ketegangan antara kedua Korea, hubungan Korea Utara dan Amerika Serikat pun mengalami sedikit koreksi.

Kim Jong Un dan Presiden Donald Trump bertemu di Singapura pada bulan Juni 2018. Sejumlah kesepakatan yang intinya berkaitan dengan upaya mengakhiri konflik dan denuklirisasi ditandatangani dalam pertemuan itu.

Pertemuan Kim Jong Un dan Donald Trump berikutnya terjadi di Hanoi, Vietnam. Pertemuan berlangsung hangat dan bersahabat, walaupun kedua pemimpin urung menandatangani kesepakatan yang sudah disiapkan.

Sebuah kejutan terjadi beberapa hari setelah Donald Trump berkunjung ke Osaka, Jepang untuk menghadiri G-20 Summit, akhir Juni 2019. Dari Jepang, Trump terbang ke Seoul dan keesokan harinya bertemu dengan Kim Jong Un di DMZ.

Trump juga menyempatkan diri melangkahkan kaki melintasi perbatasan Korut dan Korsel. Yang juga istimewa, Presiden Korsel Moon Jaein ikut hadir dalam pertemuan itu.

Namun situasi di Semenanjung kembali menegangkan beberapa pekan belakangan ini. Korea Selatan dan Amerika Serikat melanjutkan latihan militer bersama walau dalam skala yang tidak terlalu besar seperti sebelum-sebelumnya.

Di sisi lain, Korea Utara melakukan ujicoba rudal yang ditembakkan ke sisi timur, ke arah Laut Jepang.

Masyarakat internasional kembali mengkhawatirkan situasi di Semenanjung.

Apakah keadaan akan kembali memburuk? Bagaimana dengan sikap aktor-aktor non-Korea dalam lanskap terbaru di Semenanjung? Apakah perang dagang AS dan RRC yang sedang berlangsung akan memberikan pengaruh pada hubungan kedua Korea? Apakah perang dagang antara Jepang dan Korea Selatan juga akan berdampak pada titik tertentu?

Lalu, bagaimana peran Indonesia yang berkali-kali berusaha ikut memoderatori hubungan kedua Korea? Bagaimana peran ASEAN yang dua kali menjadi “tuan rumah” pertemuan Kim Jong Un dan Donald Trump?

Ini barangkali, antara lain, sejumlah pertanyaan yang akan dibahas dalam diskusi yang digelar Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan Misi Korea Selatan di ASEAN di Hotgel Sheraton Grand, di Gandaria, Jakarta, pagi ini, Rabu (21/8).

Diskusi akan dibuka oleh Dutabesar Korea Selatan untuk ASEAN Lim Sungnam. Sementara pendiri FPCI Dino Patti Djalal akan menjadi pembicara kunci.

Pembicara lain kegiatan ini adalah Direktur Korean Peninsula Peace Regime Division, Kemlu Korsel, Park Sungil, dan Prof. Min Junghoon dari Korea National Diplomatic Academy.

Keduanya akan berbicara dalam sesi yang berjudul Recent Developments on the Korean Peninsula and the ROK’s Strategy for Peace and Security.

Sementara dalam sesi kedua akan dibahas peran ASEAN dan Indonesia untuk menjaga perdamaian dan keamanan Semenanjung Korea.

Sebagai pembicara dalam sesi ini adalah Prof. Dewi Fortuna Anwar dari LIPI, Hoang Anh Tuan dari Sekretariat ASEAN dan Teuku Faizasyah yang merupakan penasehat Menteri Luar Negeri Indonesia.

Populer

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Sangat Aneh Bila Disimpulkan Ijazah Jokowi Asli

Kamis, 19 Februari 2026 | 18:39

Gibran Jadi Kartu Mati Prabowo di Pilpres 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 03:02

Jokowi Sangat Menghindari Pembuktian Ijazah di Pengadilan

Kamis, 19 Februari 2026 | 12:59

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

Paling Rumit kalau Ijazah Palsu Dipaksakan Asli

Jumat, 27 Februari 2026 | 02:00

UPDATE

Kasus Blueray Diduga Puncak Gunung Es Skandal Bea Cukai

Minggu, 01 Maret 2026 | 21:58

Atasi Masalah Sampah dan Parkir, Pansus Matangkan Raperda Pasar Rakyat ?

Minggu, 01 Maret 2026 | 21:57

Sekjen Gelora: Gugurnya Khamenei Peringatan Keras bagi Dunia

Minggu, 01 Maret 2026 | 21:07

Alarm Bagi Pekerja, Ini Daerah Rawan Telat Pembayaran THR

Minggu, 01 Maret 2026 | 20:57

9 Pendukung Iran Tewas Ditembak saat Menerobos Konsulat AS di Pakistan

Minggu, 01 Maret 2026 | 20:43

Para Petinggi PSI di Sumsel Loncat ke PDIP

Minggu, 01 Maret 2026 | 20:20

PKB Dukung Niat Baik Prabowo jadi Juru Damai Iran-AS

Minggu, 01 Maret 2026 | 19:54

AS Ikut Israel Serang Iran, Al Araf: Indonesia Seharusnya Mundur dari BoP

Minggu, 01 Maret 2026 | 19:19

Sukabumi Terjangkit 54 Kasus Demam Berdarah Sepanjang Januari 2026

Minggu, 01 Maret 2026 | 18:59

KPK Ultimatum Salisa Asmoaji

Minggu, 01 Maret 2026 | 18:33

Selengkapnya