Berita

Ilustrasi/Net

Muhammad Najib

Menyongsong Kebebasan Di Saudi Arabia

SABTU, 10 AGUSTUS 2019 | 12:51 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

MASYARAKAT kini bisa menikmati musik, perempuan boleh nyetir mobil, merupakan barang mewah yang kini bisa dinikmati warga Saudi Arabia. Bagaimana dengan olahraga untuk perempuan, tampaknya hanya menunggu waktu, cabang-cabang olehraga mana saja yang akan dijinkan untuk perempuan di sana.

Bagi negara lain mungkin saja hal-hal di atas sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, sehingga tidak terfikir lagi atau bukan lagi masalah besar. Akan tetapi tidak demikian dengan warga di kerajaan minyak yang kaya ini yang harus berjuang cukup lama untuk bisa menikmatinya.

Kelonggaran atau kebebasan yang menjadi hak masyarakat tentu perlu disambut gembira, karena bukan saja ia merupakan bagian dari sumber kebahagiaan dalam kehidupan, lebih dari itu ia juga merupakan sarana untuk mengembangkan potensi diri setiap insan.


Meskipun demikian kalangan ulama di sana yang terkenal konservatif masih berbeda pendapat dalam masalah ini. Sayangnya perbedaan pendapat dan perdebatan dalam masalah ini tidak muncul ke permukaan.

Masalahnya pihak Kerajaan tidak terbiasa dengan perbedaan pendapat. Apalagi jika perbedaan itu terkait dengan kebijakan kerajaan, maka represif sampai saat ini menjadi pilihan tak terhindarkan.

Dengan mulai dibukanya pintu kebebasan, seyogyanya juga merambah wilayah kebebasan berfikir dan kebebasan menyatakan pendapat, baik di kalangan ilmuwan maupun ulama. Dengan demikian, setiap kebijakan terkait kebebasan yang diambil Kerajaan, akan mendapatkan landasan kesadaran yang ditopang bukan saja dari pendekatan ilmiah yang objektif, juga landasan religius keagamaan yang menjadi bagian dari keyakinan yang hidup di masyarakat.

Perbedaan pendapat di antara para ulama, sebagaimana perdebatan di antara para ilmuwan perlu diberikan ruang di media massa, sebagai bagian dari pendekatan untuk mendidik publik, agar jangan terperangkap hanya dengan meniru gaya hidup, baik terkait pakaian, makanan, maupun selera musik ataupun olahraga.

Selain masalah-masalah di atas, pihak Kerajaan sudah harus mulai bergerak ke wilayah yang lebih substansial bagi kemajuan bangsa dan negaranya. Bagaimana membuat perguruan tinggi yang berkualitas,  juga bagaimana membangun kesadaran agar masyarakat punya minta besar terhadap perkembangan sain dan teknologi, riset ilmiah dikembangkan, diikuti dengan dibangunnya berbagai laboratorium modern sebagai sarana untuk pengembangan sain dan teknologi di semua bidang, termasuk pertanian dan kedokteran.

Jika Kerajaan Saudi Arabia tidak memiliki road map seperti ini, maka keran kebebasan yang mulai dibukanya saat ini, akan bermuara pada kebebasan semu yang hanya menawarkan kehidupan hura-hura yang bisa menjadi sumber bencana.

Para pemimpin Saudi Arabia harus sadar bahwa minyak bumi yang membuatnya makmur saat ini, pada saatnya akan habis. Jadi harus diantisipasi sedini mungkin dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Semoga saja mereka tidak terlambat.

Pola hidup glamor dan berfoya-foya, khususnya yang dijalani keluarga Kerajaan saat berlibur ke luar negri sudah harus diakhiri. Pola hidup bersahaja, yang produktif dan berorientasi masa depan perlu mulai dipupuk. Karena semua ini akan sangat menentukan keberlangsungan eksistensi anak-cucu Ibnu Saud.

Pengamat Politik Islam dan Demokrasi.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

UPDATE

Naming Rights Halte untuk Parpol Dinilai Politisasi Ruang Publik

Rabu, 15 April 2026 | 12:19

Iran Taksir Kerugian Akibat Serangan AS-Israel Capai Rp4.300 Triliun

Rabu, 15 April 2026 | 12:13

Prima Sebut Wacana PDIP Gaji Guru Rp5 Juta Ekspektasi Semu

Rabu, 15 April 2026 | 12:12

Kasus Pelecehan di FHUI Jadi Ujian Integritas Kampus

Rabu, 15 April 2026 | 12:06

Temui Dubes UEA, Waka MPR Pacu Investasi dan Transisi Energi

Rabu, 15 April 2026 | 11:52

IPC TPK Sukses Kelola 850 Ribu TEUs di Awal 2026

Rabu, 15 April 2026 | 11:41

Diduga Dianiaya Senior, Anggota Samapta Polda Kepri Tewas

Rabu, 15 April 2026 | 11:34

Auditor BPKP Ungkap Kerugian Pengadaan Chromebook Terjadi Selama 3 Tahun

Rabu, 15 April 2026 | 11:32

Soal Kasus Bea Cukai, Faizal Assegaf Ungkap Kronologi Hubungan dengan Rizal

Rabu, 15 April 2026 | 11:21

Zelensky Sindir AS Kehilangan Fokus ke Ukraina Akibat Perang Iran

Rabu, 15 April 2026 | 11:03

Selengkapnya