Berita

Muhammad Najib

Belajar Memberantas Korupsi Dari China

SENIN, 05 AGUSTUS 2019 | 09:34 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

ADAGIUM yang diperkenalkan Lord Acton tampaknya sudah menjadi bagian dari hukum besi kekuasaan, tidak perduli tempat dan waktu, juga berlaku pada semua sistem maupun ideologi, tidak peduli apakah Komunisme, Kapitalisme, Islam ataupun ideologi lain.

"Power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutly", kekuasaan selalu menghadapi ujian korupsi, tidak peduli siapa yang berkuasa, apa agama, ras, maupun sukunya. Hanya orang-orang hebat yang bisa lulus, yang kemudian mengantarkan bangsa dan negaranya menjadi bangsa yang maju dan makmur, kemudian dicatat dengan tinta emas oleh sejarah.

Seorang pengamat China dari Harvard University John King Fairbank yang menulis buku berjudul: China: A New History, menyebut bahwa sejarah korupsi di China sudah berlangsung sejak zaman kekaisaran kuno,  sehingga membentuk  siklus jatuh dan berdirinya kekaisaran di Tiongkok.


Kekaisaran lama jatuh disebabkan korupsi, para pejabat memperkaya diri sendiri, yang diikuti kerusakan moral lainnya, kemudian berujung pada penderitaan rakyat dan kemarahan publik.

Kekaisaran baru muncul, dimulai dari perlawanan sekelompok orang yang menyuarakan kemarahan rakyat atas praktik korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Setelah kekaisaran lama jatuh, lahir kekaisaran baru dengan semangat baru, sampai mengantarkan masa keemasan. Setelah itu pembusukan di lingkaran kekuasaan, dimulai dari praktik penyalahgunaan kekuasaan kembali muncul. Begitu seterusnya sehingga membentuk siklus.

Memasuki era modern dimulai tahun 1912 dengan berdirinya Republik China. Pemerintahan yang dipimpin oleh kelompok nasionalis Kuomintang juga mengalami tantangan serupa. Bahkan Chiang Kai Shek sang pemimpin tertinggi saat itu dan keluarganya ikut terlibat dalam praktik korupsi. Pemerintahan nasionalis Kuomintang lalu runtuh meninggalkan kenangan buruk.

Muncul pemerintahan baru dengan sistem Komunis tahun 1949 yang dipimpin Mao Tse Tung menggantikan rezim sebelumnya. Walaupun di era Komunisme sejak awal upaya untuk memberantas korupsi tidak pernah berhenti, akan tetapi korupsi terus saja menggerogoti negara, sehingga China terus berada di dalam daftar negara-negara miskin di dunia.

Pemberantasan korupsi di China baru menampakkan hasil, saat Presiden Jiang Zemin berkuasa pada 1999. Jiang Zemin didukung penuh oleh Perdana Menterinya Zhu Rongji. Ucapan Zhu Rongji yang menggambarkan semangatnya dalam memberantas korupsi terus menggiang sampai sekarang adalah “Beri saya seratus peti mati, sembilan puluh sembilan akan saya gunakan untuk mengubur para koruptor dan satu untuk saya, kalau saya melakukannya.”

Sejak saat itu ekonomi China terus menggeliat sampai sekarang, membuat China saat ini bukan saja menjadi raksasa ekonomi dunia, juga membuat teknologinya maju, politiknya diperhitungkan, tentaranya ditakuti, dan rakyatnya makmur.

Mengapa pasangan Ziang Zemin dan Zhu Rongji, diikuti oleh Hu Jintao, kemudian Xi Jinping saat ini, berhasil memberantas korupsi di negara yang sangat korup selama berabad-abad?

Pertama, ada keseriusan dan kesungguhan dalam pelaksanaan kebijakan pemberantasan korupsi. Dengan kata lain, pemberantasan korupsi bukan sekedar untuk pencitraan belaka. Ibarat tangan kanan memberantas, tangan kiri mengambil.

Kedua, ada ketauladanan dari penguasa. Pemimpin perlu memberikan contoh dengan perbuatan nyata. Semakin tinggi posisi seorang pemimpin, maka pengaruhnya akan semakin besar, karena tindak-tanduk atasan akan menjadi model dan ditiru oleh bawahan.

Selama dua masalah di atas belum terselesaikan,  kapanpun dan di negara manapun akan sulit memberantas korupsi, dan selama korupsi masih masif dipraktikan,  jangan harap ekonomi sebuah negara akan berkembang signifikan.

Penulis adalah Pengamat Politik Islam dan Demokrasi.

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

Gibran Jadi Kartu Mati Prabowo di Pilpres 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 03:02

PKB Kutuk Pembunuhan Ali Khamenei dan Desak PBB Jatuhkan Sanksi ke Israel-AS

Minggu, 01 Maret 2026 | 18:07

UPDATE

DPR Minta Data WNI di Kawasan Konflik Diperbarui, Evakuasi Harus Disiapkan

Selasa, 03 Maret 2026 | 14:17

Umat Diserukan Salat Gerhana Bulan dan Perbanyak Memohon Ampunan

Selasa, 03 Maret 2026 | 14:05

KPK Terus Buru Pihak Lain yang Terkait dalam OTT Bupati Pekalongan

Selasa, 03 Maret 2026 | 13:56

Putin dan MBS Diskusi Bahas Eskalasi Timur Tengah

Selasa, 03 Maret 2026 | 13:46

MBG Perkuat Fondasi SDM Sejak Dini

Selasa, 03 Maret 2026 | 13:46

Siap-siap Libur Panjang Lebaran 2026, Catat Jadwal Sekolah dan Cuti Bersama

Selasa, 03 Maret 2026 | 13:45

Angkat Kaki dari BOP Keputusan Dilematis bagi Indonesia

Selasa, 03 Maret 2026 | 13:40

Sunni dan Syiah Tak Bisa Dibentur-benturkan

Selasa, 03 Maret 2026 | 13:25

Perang Iran-AS Bisa Picu PHK Besar-besaran di Indonesia

Selasa, 03 Maret 2026 | 13:19

Melania Bicara Perlindungan Anak di DK PBB Saat Perang Iran Makin Panas

Selasa, 03 Maret 2026 | 13:18

Selengkapnya