Berita

Donald Trump/Net

Dahlan Iskan

Babi Gemuk

SABTU, 27 JULI 2019 | 05:21 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

GAJAH lawan gajah. Babi gemuk yang kelimpungan.

Ekspor Singapura turun drastis: 17 persen. Selama enam bulan pertama tahun ini.

Itulah data terbaru sampai akhir Juni lalu. Pertumbuhan ekonomi Singapura pun diramal hanya akan sekitar 1,5 persen.


Pusing.

Tapi itu biasa.

Di dunia marketing gajah sama sekali tidak takut pada gajah. Mereka tahu: dunia cukup lebar untuk menghidupi dua gajah.

Contohnya: ketika Indomie bertempur lawan Mie Sedap tidak ada yang langsung kalah. Pabrik mie kecil-kecil lah yang sempoyongan --terkena getaran bumi pertempuran.

Begitulah hukum dunia marketing. Banyak kejadian seperti itu. Sampai, kelak, salah satu dari gajah itu berdarah-darah.

Ekspor Tiongkok ke Amerika sendiri tentu turun. Akibat perang dagang sejak setahun lalu itu. Tapi hanya turun 4 persen. Dalam kurun Januari-Juni 2019.

Kelihatannya itu sudsh membuat Tiongkok seperti terkena tembakan Amerika.

Betul. Tiongkok tertembak jari tangannya.

Tapi lihatlah data berikutnya: impor Tiongkok dari Amerika turun 30 persen!

Jari yang tertembak, paha yang balas ditembak. Luka di paha itu mengeluarkan darah kedelai, sorgum, jagung dan daging babi.

Bagi Tiongkok kehilangan utara masih ada timur. Ekspornya ke Eropa naik 6 persen. Bahkan yang ke Inggris naik 12 persen. Dan, ehm, yang ke Asia Tenggara juga naik: 8 persen.

Mengapa dua gajah yang berkelahi tapi beberapa pelanduk yang kelimpungan?

Itulah ekonomi global. Yang sudah sangat berbeda dengan zaman dulu.

Contohnya laki-laki satu ini. Namanya: chip. 'Otak'-nya komputer atau HP.
 
Amerika melarang ekspor chip ke Huawei. Apa hubungannya dengan pelanduk Singapura? Mengapa bisa membuat ekspor Singapura turun?

Chip itu memang milik Amerika. Tapi untuk bisa sampai ke pabrik HP Huawai di Shenzhen jalannya panjang.

Amerika hanya mendesain chip itu. Dirangkainya di Taiwan. Atau di Malaysia. Bisa juga di Korea Selatan. Bahan-bahannya didatangkan dari Jepang. Setelah jadi chip dikirim ke Singapura. Untuk mendapat fasilitas macam-macam: kredit murah, pajak murah dan bea masuk/keluar yang nol. Barulah chip itu dikirim ke Shenzhen. Untuk Huawei.

Jelaslah mengapa bukan impor chip yang turun drastis dari Amerika --tapi impor kedelai!

Kenapa jari tangan yang tertembak, paha lawan yang berdarah.

Larangan presiden Donald Trump di bidang chip itu memukul sekaligus empat pelanduk: Taiwan, Jepang, Korsel dan Singapura. Empat-empatnya sahabat baik Amerika.

Tentu Tiongkok juga menderita --secara ramai-ramai. Bersama para tetangganya itu. Tiongkok lantas bisa menyembuhkan luka jarinya --belum tentu tetangganya itu.

Huawei sendiri bikin kejutan kecil-kecilan: mencari doktor-doktor yang baru lulus. Dengan tawaran gaji di atas UMP - Upah Miliaran Pertahun. Diumumkan Kamis minggu lalu.

Tawaran gaji paling rendah Rp 2 miliar/tahun. Paling tinggi Rp 4 miliar/tahun. Tergantung bidang teknologinya dan potensi ke depan si doktor baru itu.

Trump memang sudah mengijinkan kembali perusahaan chip Amerika jualan ke Huawei. Tapi Huawei akan mengajukan syarat: tidak bisa lagi diganggu pasokan chip itu. Huawei justru menyiapkan sendiri chip baru bikinan grupnya sendiri.

Lalu bagaimana perkembangan perang dagangnya?

Minggu depan perundingan itu dimulai lagi. Antara gajah Amerika dan gajah Tiongkok itu. Yang terhenti sejak Mei lalu. Tiongkok tidak mau lagi dilakukan di Beijing. Lokasi perundingan itu di pindah ke Shanghai.

Kali ini tidak ada lagi yang berharap banyak. Perundingan ulang itu tidak mungkin menghasilkan kesepakatan final. Masih agak jauh untuk ke sana.

Tiongkok justru mengajukan banyak syarat: tidak ada penurunan tarif impor bertahap. Amerika harus menurunkannya menjadi seperti dua tahun lalu. Juga harus mencakup masalah teknologi. Dan terutama politik. Lebih terutama lagi Taiwan.

Kalau toh ada yang masih berharap banyak tampaknya justru negara seperti Singapura. Yang urat nadi ekonominya ada di kemampuan ekspornya.

Tapi tidak apa-apa. Singapura sudah terlanjur kaya raya. Sakitnya kali ini hanya seperti terganggu flu ringan.

Asal jangan keterusan menjadi flu nyamuk.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Presiden Prabowo Patok Belanja Negara Rp4.097 Triliun, Defisit Rp671,2 T di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:15

Pemerintah Anggarkan Belanja Rp4.097 Triliun untuk Delapan Program Prioritas di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:59

Titah Prabowo Usut Tambang Ilegal Wajib Dilaksanakan TNI-Polri

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:55

Prabowo Targetkan Efisiensi Rp360 Triliun dari Belanja Pemerintah

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:41

Muktamar NU dalam Pusaran Politik Kepentingan Umat

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:20

Prabowo Usul Beri Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora dengan Talenta Terbaik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:10

Iwan Sumule: Program Prabowo adalah Amanat Konstitusi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:09

Kepastian RUU Perampasan Aset, Menteri Hukum: Tunggu DPR Gelar Uji Publik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:53

Prabowo Siapkan Ambulans Udara hingga Tim Dokter Terbang untuk Layani Daerah Terpencil

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52

Prabowo Buka Opsi Datangkan Dokter dari Luar Negeri untuk Praktik di Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:32

Selengkapnya