Berita

Ilustrasi perdagangan manusia/Net

Dunia

PBB: Perkembangan Kejahatan Transnasional Di Asia Tenggara Mengkhawatirkan

KAMIS, 18 JULI 2019 | 23:58 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Kejahatan transnasional yang terorganisir saat ini berkembang secara agresif di Asia Tenggara dan sekitarnya. Begitu data terbaru yang dimuat dalam laporan PBB terbaru yang dirilis pada Kamis (18/7).

Laporan itu menguraikan bagaimana jaringan kriminal transnasional telah meraup puluhan miliar dolar AS per tahun melalui obat-obatan, barang palsu, dan perdagangan manusia serta satwa liar.

Laporan yang dibuat oleh Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) itu juga menemukan bahwa sindikat kriminal telah mengubah perdagangan narkoba di kawasan Asia Tenggara dengan pasar metamfetamin yang bernilai antara 30 miliar dolar AS hingga 61 miliar dolar AS per tahun di Asia Timur dan Tenggara, Australia, Selandia Baru dan Bangladesh.


Selain perdagangan obat-obatan terlarang, masalah penyelundupan manusia juga masih menjadi masalah utama. UNODC dalam laporan itu mencatat, perdagangan perempuan dan anak perempuan untuk eksploitasi seksual tetap menjadi masalah serius di sebagian besar negara-negara Asia Tenggara dan Asia Timur.

"Dari jumlah total korban yang diperdagangkan untuk eksploitasi seksual, hampir 70 persen adalah perempuan di bawah umur," begitu bunyi laporan itu.

Meskipun di sisi lain, laporan tersebut mengatakan penegakan hukum telah mempengaruhi rute yang digunakan oleh kelompok-kelompok kriminal, namun temuan lain menunjukkan bahwa sindikat-sindikat tersebut meningkatkan upaya mereka dengan mengalihkan perhatian ke zona-zona yang kurang terlindungi yang kurang pengawasan.

Laporan yang sama juga menyoroti bahwa kejahatan terorganisir memanfaatkan perusahaan swasta, seperti operasi kasino bernilai miliaran dolar di kawasan itu, untuk mencuci uang dalam skala luas.

"Kelompok-kelompok kejahatan terorganisir menjalankan bisnis, dan kondisi untuk lalu lintas narkoba dan manusia, dan komoditas lainnya," kata perwakilan regional UNODC untuk Asia Tenggara dan Pasifik, Jeremy Douglas.

Dia mengatakan bahwa agar kejahatan terorganisir dapat diatasi, pemerintah masing-masing negara perlu mulai menerapkan strategi yang serius dan bermakna yang akan mengatasi keparahan masalah.

"Bagian dari respon akan dapat berupa kerjasama penegakan hukum lintas-batas untuk mengatasi pasokan, tetapi juga akan memerlukan dorongan politik oleh tingkat tertinggi pemerintah, dan investasi dalam pencegahan, perawatan narkoba," sambungnya seperti dimuat Al Jazeera.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Pemerintah Hadirkan Tsunami Ekonomi Kelas Menengah

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:14

KPK Panggil 10 Saksi dalam Kasus Gratifikasi IUP Kutai Kartanegara

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:06

ASII Siapkan Hingga 100 Juta Saham untuk Program MSOP

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:04

Segera Matangkan Regulasi Kebijakan Ekspor Satu Pintu

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:59

BrahMos Masuk Indonesia, Pemerintah Perlu Hitung Ulang Prioritas Anggaran

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:57

Pangdam Mandala Trikora Buka Suara di Tengah Isu Kasus Mama Sinta

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:48

Menhub Dipanggil Prabowo ke Istana, Bahas TBA Tiket Pesawat?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Model Fitri Assiddikki Dipanggil KPK terkait Korupsi CSR BI

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Lahan 2,4 Hektare Bekas BPSDM akan Disulap jadi Pusat Bisnis

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:38

Kenaikan Pertamax Berpotensi Jadi Bumerang bagi Pemerintah

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:30

Selengkapnya