Berita

Foto: Net

Nusantara

Sistem Penilaian Nasional Perlu Diperbaiki, Tak Hanya Andalkan UN

MINGGU, 07 JULI 2019 | 15:12 WIB | LAPORAN:

Wacana penghapusan pelajaran agama kembali mencuat setelah pernyataan praktisi pendidikan, Setyono Djuandi Darmono menjadi kontroversi di tengah masyarakat.

Chairman Jababeka itu menyatakan pendidikan agama sebaiknya cukup diajarkan oleh orang tua, atau bisa dengan guru agama di luar sekolah.

Peneliti Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) sekaligus psikolog juga pendiri Keluarga Kita, Najelaa Shihab menanggapi, Indonesia perlu memperbaiki sistem assessment nasional agar Ujian Nasional (UN) tidak menjadi satu-satunya acuan standar kompetensi.


"Kita perlu perbaikan sistem assessment nasional juga secara komprehensif agar memastikan lulusan setiap tingkatan mencapai standar yang diharapkan untuk kompetensi masa depan dan berbagai pekerjaan. Jadi tidak bisa hanya mengandalkan Ujian Nasional dengan kondisinya saat ini," jelasnya saat dihubungi Kantor Berita RMOL, Minggu (7/6).

Kakak kandung dari Najwa Shihab ini melanjutkan, perbaikan sistem assessment penting untuk menciptakan sistem utuh, dengan tidak hanya menjadikan UN sebagai indikator capaian murid.

"Tapi juga mendiagnosa masalah sejak awal dan diolah datanya dengan baik untuk membuat proses belajar mengajar dengan guru lebih baik," imbuhnya.

Sistem penilaian yang utuh juga akan menjadi indikator bagi kinerja guru maupun sekolah, yang saat ini dinilai Najelaa belum sesuai yang diharapkan.

"Sekarang kita belum punya cukup indikatornya, hanya berfokus aspek tertentu saja dan banyak berkait administrasi belaka," terang dia.

Ia yakin perkembangan pendidikan Indonesia akan membaik namun dengan catatan. "Asal kita melakukan akselerasi perbaikan dalam banyak hal," paparnya.
Selain itu juga perbaikan dijalankan melalui kebijakan lebih baik di tingkat pusat maupun daerah yang didasari data, bukti, juga koordinasi antarlembaga. Kemudian, adanya rencana tata kelola guru baik secara rencana pendek maupun panjang. Dengan begitu, secara kuantitas dan kualitas pendidikan terpenuhi.

"Karena guru adalah kunci dari reformasi pendidikan," tandasnya.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Moreno Soeprapto, Potret Etika Buruk Wakil Rakyat

Senin, 21 September 2026 | 06:25

Suara Rakyat Jangan Dimubazirkan

Senin, 21 September 2026 | 06:05

Ketika Pakar Saking Pintarnya Jadi “Goblok”

Senin, 21 September 2026 | 05:44

Masa Depan Pelabuhan Indonesia antara Peluang dan Tantangan

Senin, 21 September 2026 | 05:13

Serangan Babi Hutan Persoalan Serius bagi Petani

Senin, 21 September 2026 | 05:00

Merapi Empat Kali Luncurkan Lava Pijar dalam 6 Jam

Senin, 21 September 2026 | 04:39

Pramono Lagi Menempatkan Jakarta dalam Peta Persaingan Kota Global

Senin, 21 September 2026 | 04:23

Membaca Berhadiah Koin

Senin, 21 September 2026 | 04:02

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 1448 H Jatuh 8 Februari 2027

Senin, 21 September 2026 | 03:06

Selengkapnya