Berita

Agung Sampurno/RMOL

Politik

Belum Bebas Visa Karena E-Paspor Indonesia Tidak Kuat, Begini Penjelasan Imigrasi

SABTU, 06 JULI 2019 | 21:39 WIB | LAPORAN:

Elektronik Paspor (E-Paspor) sudah diterapkan di beberapa negara seperti halnya Malaysia, Australia, Inggris, Amerika Serikat, dan Selandia Baru. Indonesia sediri telah menerapkannya sejak 2011. Namun, E-Paspor keluaran Indonesia dinilai belum kuat, dan hal tersebut masih menjadi hambatan untuk mendapatkan bebas visa dari sejumlah negara.

Bidang Analis Imigrasi, Direktorat Jenderal Imigrasi Agung Sampurno mengatakan, setiap negara yang menerbitkan E-Paspor harus sesuai dengan standard International Civil Aviation (ICAO), dengan kepemilikan sertifikasi Public Key DIrectory (PKD) dan Key Performance Indicators (KPI).

“Ketika Imigrasi Indonesia sudah menetapkan Indonesia E-Paspor harus mendapatkan sertifikasi dari ICAO, sertifikasinya namanya KPI, ada tahapan berikutnya namanya PKD semacam password, finger print dan biometrik,” ungkapnya dalam acara diskusi bertajuk “Bebas Visa Sudah Sampai Dimana?” yang diselenggarakan oleh komunitas BebasVisa di R2R, Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (5/7).


Dengan kepemilikan sertifikasi KPI dan PKD, secara otomatis data pribadi kita diketahui oleh negara yang juga memiliki kedua sertifikasi tersebut. Dan saat ini meskipun Indonesia sudah menyediakan E-paspor namun sertifikasi PKD ini belum dimiliki.

Rencananya kata Agung, Indonesia akan memiiliki PKD tersebut pada September tahun ini, dengan melakukan kesepakatan Memorandum of Understanding (MoU) terkait PKD bersama ICAO di Montreal, Kanada.

“Kita 2011 sampai sekarang kok masih KPI tapi belum PKD? September kami akan signing PKD, sudah ketemu dengan direktur ICAO akan bantu prosesnya juga sudah dikasih tau, sekarang kami on progres mempersiapkan itu, MoU September 2019 di Montreal,” ungkapnya.

Menurut Agung, lambatnya progres mewujudkan PKD disebabkan karena perlu analisis mendalam dan kehati-hatian dalam kepemilikan E-Paspor, dimana imigrasi secara langsung bertanggungjawab untuk melindungi data pemiliki E-Paspor.  

“2011 kami masih menutup diri, kenapa? harus memastikan jangan sampai data kita ini jatuh ke negara yang tidak bertanggung jawab, setiap negara yang sudah memiliki paspor dia harus punya KPI dia harus punya PKD, negara yang sudah memiliki keduanya hanya boleh sharing ke negara yang sudah atau sama sama punya keduanya,” kata dia

Saat ini kata Agung dari 135 negara hanya 66 negara yang secara resmi telah memiliki E-Paspor.

“Didunia ini hanya 135 negara yang sudah memikiki E-Paspor tapi hanya 66 nya PKD, artinya baru 66 yang bisa dipercaya, yang lain belum mau membuka diri, dia mempercayakan datanya dan dibagi ke 66 negara,” jelasnya.

Lanjut Agung, Philipina yang dinilai jauh dengan Indonesia dalam hal perekonomian, namun secara peringkat bebas visa lebih unggul dibandingkan Indonesia, lantaran sudah memiliki E-Paspor sejak Tahun 2014.

“Philipina secara ekonomi jauh dari pada kita, tapi karena secara teknis, paspornya sudah di registrasi sehingga KPI dan PKD nya keluar, meningkatlah grade paspor nya jadi kuat,” tandasnya.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Mengejar Halusinasi 2045: Mengapa Ekonomi Hanya Bisa Tegak di Atas Literasi

Senin, 27 April 2026 | 14:15

Penerjemah Bible Dibakar Hidup-hidup pada Zaman Renaisans Eropa

Senin, 27 April 2026 | 14:07

Bitcoin Melaju Mendekati 80.000 Dolar AS

Senin, 27 April 2026 | 14:06

Luar Biasa Kiandra, Start ke-17, Finis Pertama

Senin, 27 April 2026 | 13:59

Digitalisasi dan Green Dentistry, Layanan Kesehatan Gigi yang Minim Limbah

Senin, 27 April 2026 | 13:46

Usul KPK Berpotensi Paksa Capres Harus Kader Parpol

Senin, 27 April 2026 | 13:43

Pemda Didorong Lakukan Creative Financing

Senin, 27 April 2026 | 13:36

Citra Negatif Bahlil di Dalam Negeri Pengaruhi Negosiasi Energi Presiden?

Senin, 27 April 2026 | 13:35

Qodari Respons Isu Dilantik Jadi Kepala Bakom: Itu Hak Prerogatif Presiden

Senin, 27 April 2026 | 13:30

Selengkapnya