Berita

Ilustrasi/Net

Politik

"Pemerintah Otoriter" dan "Kerusuhan"

SABTU, 06 JULI 2019 | 13:20 WIB | LAPORAN: YELAS KAPARINO

Kepolisian RI telah mengumumkan hasil investigasi kerusuhan yang terjadi pada tanggal 21 dan 22 Mei lalu.

Sejauh ini polisi belum bisa menemukan master mind atau pelaku utama kerusuhan. Namun menurut Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo, yang menjelaskan hasil investigasi dalam jumpa pers kemarin (Jumat, 5/7), sepuluh anggota Polri yang melakukan pengeroyokan terhadap salah seorang pelaku kerusuhan telah dijatuhi sanksi administrasi.

Mengomentari penjelasan pihak Polri itu, ekonom senior DR. Rizal Ramli mengatakan, pemerintahan otoriter biasa dan doyan merancang “kekerasan” untuk menghancurkan legitimasi gerakan damai non-violence.


Dengan demikian kekuatan oposisi bisa ditangkap sementara rakyat bisa ditakut-takuti agar tidak ikut gerakan damai.

Mantan Menko Perekonomian itu mencontohkan kasus kerusuhan 15 Januari 1974 yang akrab disebut Malari.

Kelompok mahasiswa yang dipimpin Hariman Siregar dkk menggelar aksi damai. Namun pimpinan militer mengerahkan kelompok berambut cepak untuk membakar pasar Senen. Lalu Hariman Siregar, Buyung Nasution dan beberapa lainnya ditangkap.

Bagaimana dengan peran media?

Menurut Rizal Ramli, ketika itu media hanya memberitakan informasi versi penguasa.

Dia juga mencontohkan kejadian sejenis di pertengahan tahun 2008. Ketika itu Rizal Ramli memimpin demonstrasi menolak kenaikan harga BBM yang diikuti sekitar 40.000 orang.

“Demo berjalan damai,” kata Rizal Ramli dalam perbincangan dengan redaksi.

Sekitar seminggu kemudian, lima mobil pemerintah dibakar di depan Universitas Atmajaya di Jalan Sudirman, Jakarta. Lalu entah bagaimana ceritanya, Rizal Ramli dituduh menjadi otak di belakang pembakaran itu.

“Tuduhan itu betul-betul dang ngawur. Hanya cari-cari alasan untuk menangkap saya,” sambungnya.

Dia mengatakan, belakangan diketahui bahwa yang memerintahkan pembakaran di depan Universitas Atmajaya adalah ketua lembaga counter-intelligence.

“Media-media memberitakan kasus itu hanya sesuai versi lembaga counter-intelligence. Tidak ada cross-checking kepada saya. Media mainstream jadi sekadar megaphone pihak yang berkuasa,” urai Rizal Ramli lagi.

Dia percaya, bila kerusuhan yang terjadi pada tanggal 21 dan 22 Mei 2019 diselidiki secara objektif, besar kemungkinan akan diperoleh kesimpulan bahwa kerusuhan dipicu oleh preman-preman bertato yang merupakan bagian dari operasi otoriter.

“Seperti yang sebelum-sebelumnya, ini untuk merusak image gerakan damai sehingga dicap sebagai perusuh,” demikian Rizal Ramli.

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Atap Terminal 3 Ambruk, Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Dialihkan

Senin, 06 April 2026 | 16:10

UPDATE

Kasum TNI Buka Rakernas Taekwondo Indonesia 2026

Jumat, 17 April 2026 | 03:56

Gubernur Luthfi Ajak Kadin Berantas Kemiskinan Ekstrem di Jateng

Jumat, 17 April 2026 | 03:42

Halalbihalal dan Syal Palestina

Jumat, 17 April 2026 | 03:21

Soenarko Minta Prabowo Jangan Diam soal Kasus Ijazah Jokowi

Jumat, 17 April 2026 | 02:59

BGN Minta Pemprov Sulteng Gandeng Influencer Lokal Tangkal Hoax MBG

Jumat, 17 April 2026 | 02:49

Prabowo Jangan Lagi Pakai Orang Jokowi Buntut Penangkapan Ketua Ombudsman

Jumat, 17 April 2026 | 02:24

Penyidik Kejati Angkut Sejumlah Berkas Usai Geledah Kantor Dinas ESDM Jatim

Jumat, 17 April 2026 | 01:59

Aktivis dan Purnawirawan TNI Gelar Aksi di DPR soal Kasus Ijazah Jokowi

Jumat, 17 April 2026 | 01:45

Purbaya Anggap Santai Peringatan S&P: Defisit Kita Masih Terkendali

Jumat, 17 April 2026 | 01:25

Anak TK Pun Tidak Percaya Motif Pelaku Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus

Jumat, 17 April 2026 | 00:59

Selengkapnya