Berita

Mohamed Morsi/Net

Muhammad Najib

Mengenang Kepergian Presiden Mesir Mohamed Morsi

KAMIS, 20 JUNI 2019 | 22:30 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

MESIR merupakan salah satu negara Arab yang pertama maju. Saat negara yang memiliki piramid ini dibebaskan tentara Islam yang dipimpin oleh Amru bin Ask, masyarakatnya telah  mewarisi peradaban yang dibangun oleh Romawi. Sebelumnya, Yunani dan Firaun juga mewarisi peradaban yang sangat maju pada masanya.

Saat gerakkan tajdid atau pembaharuan muncul di dunia Islam dengan tujuan mengejar ketertinggalannya dari Barat, baik dalam masalah sains, teknologi, hukum, pendidikan, dan sebagainya, Mesir dan Turki menjadi pionernya. Bahkan bisa dikatakan Mesir lebih maju dibanding Turki bila diukur dari kualitas pendidikannya dan tokoh-tokoh yang dilahirkannya, seperti at-Tahtawi (1801- 1873), Jamaluddin al- Afghani (1839-1997), Muhammad Abduh (1845-1905). Itulah sebabnya mengapa di masa lalu banyak orang Indonesia yang menimba ilmu di Mesir khususnya di Universitas Al Azhar.

Sayangnya tragedi demi tragedi menimpa bangsa ini seperti kata pepatah: Tak putus dirundung malang. Tragedi pertama yang menimpa bangsa ini adalah datangnya penjajah Prancis, yang kemudian diganti oleh Inggris.


Muncul reaksi dalam bentuk gerakan-gerakan perlawanan yang tak pernah putus, baik yang menggunakan semangat Islam, nasionalisme, atau kombinasi dari keduanya.

Perlawanan yang paling besar dan paling fenomenal yang kemudian melahirkan tragedi kedua. Hasan Albana yang mendirikan Ikhwanul Muslimin (IM) sebagai gerakan dakwah pada tahun 1928, yang kemudian berubah menjadi gerakan politik pada tahun 1938, dibunuh pada tahun 1949 oleh konspirasi penguasa yang didukung oleh penjajah Inggris.

Para tokoh IM kemudian berkolaborasi dengan para perwira muda yang menyebut dirinya Perwira Bebas Mesir, dan berhasil menggulingkan Raja Faruq dari singgasananya 3 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1952. Mereka kemudian mengubah Kerajaan Mesir menjadi Republik Arab Mesir.

Seorang Jenderal senior yang sangat disegani bernama Muhammad Najib diangkat sebagai Presiden. Akan tetapi pemerintahan secara de facto dikendalikan oleh Jamal Abdul Nasser, sang komandan perwira muda sekaligus inisiator dan komandan kudeta.

Tragedi ketiga muncul saat Muhammad Najib digulingkan, kemudian diganti oleh Jamal Abdul Nasser pada tahun 1956. Muhammad Najib ingin mengimplementasikan demokrasi, sementara Jamal Abdul Nasser menginginkan pemerintahan yang otoriter dan militeristik. Ternyata Naser dan para perwira muda yang muncul sebagai pemenang dalam pertarungan politik di tingkat elite Mesir.

Sejak naiknya Nasser menjadi orang nomor satu, secara sistematis IM disingkirkan dan tokoh-tokohnya diintimidasi dan dipenjarakan. Puncaknya terjadi pada 1966, ketika Sayyid Kutub dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung, setelah setelah keluar-masuk penjara selama bertahun-tahun. Padahal Sayyid Kutub merupakan tokoh senior IM, sekaligus ideolog organisasi politik ini yang sangat disegani oleh para pengikutnya. Hal ini menjadi tragedi ketiga yang menimpa bangsa Mesir.

Sejak saat itu IM menjadi organisasi terlarang dan menjadi musuh pemerintah. Akibatnya IM bergerak di bawah tanah, dan melahirkan banyak pecahan yang melakukan perlawanan bersenjata. Saat Presiden Nasser meninggal pada tahun 1970, kemudian digantikan oleh Anwar Sadat yang saat itu menduduki posisi sebagai Wakil Presiden. Tekanan terhadap IM secara bertahap dilonggarkan, bahkan dapat dikatakan Anwar Sadat berusaha untuk merangkulnya.

Tragedi keempat muncul, saat Presiden Anwar Sadat melakukan perjanjian damai dengan Israel melalui perjanjian Camp David yang ditandatangani pada tahun 1978. Salah satu sempalan radikal IM yang menamakan diri Jamaah Islamiah (JI), kemudian melalui kadernya bernama Khalid Ahmad Showky Al-Islambuli menembak Anwar Sadat yang duduk di panggung kehormatan saat parade militer memperingati Kemenangan Mesir dan negara-negara Arab dalam perang Arab-Israel 1973.

Presiden Sadat kemudian digantikan Husni Mubarak pada tahun 1981. Mubarak kemudian kembali menempatkan IM sebagai musuh negara. Akibatnya IM kembali menjadi gerakkan bawah tanah karena mantan tokoh-tokohnya dibatasi ruang geraknya dan diawasi secara ketat oleh negara.

Saat Arab Spring sebagai proses demokratisasi melanda dunia Arab yang dimulai dari Tunisia akhir tahun 2010, kemudian menerpa Mesir di awal tahun 2011 yang menimbangkan rezim  otoritarian Husni Mubarak, membuka jalan bagi IM untuk muncul kembali ke permukaan. IM kemudian mendirikan partai politik dan berpartisipasi dalam pemilu demokratis yang dilakukan secara jurdil untuk pertama kalinya.

Mohamed Morsi sebagai seorang cendekiawan idealis alumni Amerika yang dikenal sangat religius terpilih sebagai Presiden Mesir. Tantangannya tentu sangat berat. Ia terjepit di antara dua kekuatan besar di dalam negri, yaitu kawan-kawannya sendiri yang mengalami euforia kemenangan, dan kekuatan lawan-lawan politiknya yang dirugikan dengan proses demokratisasi yang terjadi.

Para petinggi IM yang tidak berpengalaman mengelola negara berusaha memaksimalkan kekuasaan yang dipegangnya untuk mewujudkan cita-cita IM yang dicanangkan sejak berdirinya. Hal ini berakibat kurangnya akomodasi politik terhadap kelompok lain dalam berbagi kekuasaan, dan kurangnya toleransi dalam aspek ideologis khususnya dalam membangun wajah baru Mesir di era demokrasi.

Sementara di tingkat regional, Israel yang menjadi tetangganya sekaligus musuh besarnya merasa terancam, kemudian mengikuti dengan cermat dan cemas terhadap berbagai peristiwa dan perkembangan yang terjadi. Begitu juga negara-negara Arab lain, khususnya yang masih dipimpin rezim otoritarian yang khawatir dengan pengaruh demokratisasi di Mesir yang jika sukses akan berimbas ke negrinya. Mengingat Mesir merupakan negara yang terbesar dalam hal penduduk dan terkuat secara politik dan militer diantara negara-negara Arab.

Ternyata Mohamed Morsi gagal dalam mengendalikan kekuasaan, dengan kata lain tidak berhasil mendamaikan berbagai kepentingan yang ada, sehingga ia tumbang dari singgasana yang didudukinya hanya sekitar satu tahun, melalui kudeta yang dilakukan oleh militer.

Bila dilihat dari perspektif sejarah sejak berdirinya Republik Arab Mesir, apa yang dialami Presiden Morsi hanyalah tragedi berikutnya dari rangkaian tragedi demi tragedi yang dialami bangsa Mesir terkait dengan bagaimana peralihan kekuasaan dan bagaimana mempertahankan kekuasaan.

Pertanyaannya sampai kapan tragedi demi tragedi seperti ini akan diakhiri? Para pejabat Mesir suka menggunakan istilah "revolusi" untuk menyebutkan peralihan kekuasaan yang sebagian besar diiringi dengan kekerasan politik.
Pertanyaannya kapan revolusi akan berakhir? Apakah mungkin untuk membangun negri dalam suasana revolusi yang terus-menerus?

Bangsa Mesir mungkin saja tidak sadar bahwa peralihan kekuasaan yang diiringi dengan kekerasan telah membuat bangsa ini tertinggal. Mengingat dendam politik yang diakibatkannya akan terpelihara dan muncul ke permukaan dalam berbagai bentuknya, yang mengakibatkan siapapun yang tampil memimpin tidak bisa mengelola sumber daya yang dimilikinya secara optimal.

Lebih dari itu, sumberdaya manusianya yang unggul akan lari ke luar negri, baik karena merasa sulit mengembangkan karir dalam lingkungan yang tidak kondusif di dalam negri, maupun lari karena di tempatkan sebagai buronan oleh negara.

Bagi IM apa yang dialami saat ini dapat menjadi pelajaran tambahan yang sangat berharga. Bahwa kemenangan politik dalam negara demokratis bukanlah mandat yang dapat digunakan untuk melakukan apa saja. Para pemegang mandat harus tetap mengakomodasi berbagai aspirasi seluruh rakyatnya, dan mau bernegosiasi atau kompromi dengan berbagai kekuatan politik yang melingkupinya.

Selamat jalan Presiden Mohamed Morsi, semoga pengorbanannya akan menjadi bagian dari pupuk yang akan menyuburkan bibit demokrasi di Mesir.

Penulis adalah Pengamat Politik Islam dan Demokrasi

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

UPDATE

Naming Rights Halte untuk Parpol Dinilai Politisasi Ruang Publik

Rabu, 15 April 2026 | 12:19

Iran Taksir Kerugian Akibat Serangan AS-Israel Capai Rp4.300 Triliun

Rabu, 15 April 2026 | 12:13

Prima Sebut Wacana PDIP Gaji Guru Rp5 Juta Ekspektasi Semu

Rabu, 15 April 2026 | 12:12

Kasus Pelecehan di FHUI Jadi Ujian Integritas Kampus

Rabu, 15 April 2026 | 12:06

Temui Dubes UEA, Waka MPR Pacu Investasi dan Transisi Energi

Rabu, 15 April 2026 | 11:52

IPC TPK Sukses Kelola 850 Ribu TEUs di Awal 2026

Rabu, 15 April 2026 | 11:41

Diduga Dianiaya Senior, Anggota Samapta Polda Kepri Tewas

Rabu, 15 April 2026 | 11:34

Auditor BPKP Ungkap Kerugian Pengadaan Chromebook Terjadi Selama 3 Tahun

Rabu, 15 April 2026 | 11:32

Soal Kasus Bea Cukai, Faizal Assegaf Ungkap Kronologi Hubungan dengan Rizal

Rabu, 15 April 2026 | 11:21

Zelensky Sindir AS Kehilangan Fokus ke Ukraina Akibat Perang Iran

Rabu, 15 April 2026 | 11:03

Selengkapnya