Berita

Jaya Suprana/Dok

Jaya Suprana

OBOR Versus OCON

SABTU, 15 JUNI 2019 | 08:17 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

BUKAN sesuatu tidak bermakna bahwa sila Persatuan Indonesia  berada di posisi terhormat urutan ke tiga yang berarti tepat di tengah Pancasila.

Pada hakikatnya Persatuan Indonesia merupakan poros Pancasila. Tanpa Persatuan Indonesia, empat sila Pancasila lain-lainnya sulit diwujudkan.

Tanpa rakyat mustahil hadir negara dan bangsa maka persatuan seluruh rakyat merupakan syarat mutlak bagi pembangunan bangsa dan negara.


Persatuan Indonesia merupakan daya yang memungkinkan Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Adil dan Beradab, Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan, Keadilan Sosial Untuk Seluruh Rakyat Indonesia ditatalaksana menjadi kenyataan.

OBOR

Saya kagum terhadap persatuan rakyat Republik Rakyat China yang berhasil dibentuk oleh pemerintah mereka. Persatuan seluruh rakyat China merupakan syarat dasar untuk menggerakkan segenap mekanisme roda kepemerintahan. 

Persatuan dan kesatuan pendapat rakyat didikte oleh pemerintah China yang memang konsekuen dan konsisten tidak membenarkan pendapat individual yang saling beda apalagi berlawanan satu dengan lainnya. Maka rakyat China kompak bersatupadu dalam mendukung program OBOR (One Belt One Road) yang pada hakikatnya merupakan bentuk neo-imperialisme jalur ekonomi terhadap luar negeri China.

Sukma OBOR serupa meski tak sama dengan sukma VOC sebagai alat Kerajaan Belanda menguasai dan menjajah Nusantara. Jangkauan OBOR bahkan jauh lebih luas ketimbang VOC karena merambah sampai ke Afrika dan Eropa bahkan Australia.

OCON

Saya kagum atas kemampuan pemerintah China menggalang persatuan dan kesatuan rakyat mereka. Namun sebagai warga Indonesia jelas saya tidak membiarkan diri terbuai kekaguman terhadap bangsa asing.

Sebagai warga Indonesia, saya wajib lebih mengutamakan kepentingan negara, bangsa dan rakyat Indonesia ketimbang kepentingan bangsa, negara dan rakyat lain mana pun di planet bumi, termasuk China.

Maka besar harapan saya bahwa rakyat Indonesia berkenan kompak bersatupadu dalam pendapat, semangat dan keyakinan yang mengutamakan kepentingan bangsa negara dan rakyat Indonesia dalam menghadapi gelora syahwat bangsa asing yang ingin menjajah negara bangsa dan rakyat Indonesia.

Jika seluruh rakyat China mau dan mampu bersatu padu mendukung OBOR (One Belt, One Road) maka sewajibnya  seluruh rakyat Indonesia juga mau dan mampu mendukung OCON (One Country, One Nation).

Jangan sampai rakyat Indonesia kalah dalam bersatu padu demi mempertahankan kedaulatan negara dan bangsa Indonesia dengan senjata pamungkas OCON alias Satu Nusa, Satu Bangsa.

OCON merupakan persatuan dan kesatuan semangat rakyat Indonesia dalam menghadapi neo-imperialisme ekonomi termasuk OBOR yang dilakukan oleh China.

Kita tidak perlu memusuhi bangsa asing, namun bukan berarti kita tidak melawan upaya bangsa asing menguasai bangsa Indonesia yang telah diproklamirkan kemerdekaannya sejak 17 Agustus 1945.

Jika China boleh punya program OBOR untuk kepentingan bangsa, negara dan rakyat China, maka Indonesia juga boleh punya program OCON untuk kepentingan bangsa, negara dan rakyat Indonesia. China punya Naga, Indonesia punya Garuda!

Satu Nusa, Satu Bangsa


Marilah seluruh rakyat Indonesia kompak bersatupadu mempertahankan Persatuan Indonesia demi menjunjung tinggi kepentingan bangsa sendiri, selaras sukma adilihur yang tersirat di dalam lagu Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa Kita, Tanah Air Pasti Jaya, Untuk Selama-lamanya, Indonesia Pusaka, Indonesia Tercinta, Nusa Bangsa dan Bahasa, Kita Bela Bersama. MERDEKA!


Penulis adalah rakyat Indonesia yang tidak ingin negara dan bangsa Indonesia kembali dijajah bangsa asing


Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Kodam XII/Tanjungpura Geser Pasukan Atasi Karhutla ke Selatan Kalbar

Sabtu, 19 September 2026 | 05:09

Ketika Politik Uang Dianggap Wajar

Sabtu, 19 September 2026 | 04:45

Profesor Webster University: Pimpinan Negara Barat Harus Contoh Prabowonomics

Sabtu, 19 September 2026 | 04:16

Ekosistem Pengolahan Ikan Skala Mikro dan Kecil Terus Diperkuat

Sabtu, 19 September 2026 | 03:45

Fapet IPB University Hasilkan Inovasi Songsong Komersialisasi Ayam Lokal

Sabtu, 19 September 2026 | 03:13

Kejati Sumut Didesak Usut Tuntas Kasus Lahan Tol Medan-Binjai

Sabtu, 19 September 2026 | 02:45

Ketika Polemik Ijazah Berubah jadi Komoditas Politik

Sabtu, 19 September 2026 | 02:17

Tim Hukum UIN Jakarta Datangi Kejati Banten Usut Korupsi Eks Rektor

Sabtu, 19 September 2026 | 01:50

Humanika Harus Bantu Presiden Bawa Keluar RI dari Middle Income Trap

Sabtu, 19 September 2026 | 01:26

Konstruksi Waktu Dugaan TPPU dan Pemerasan Kasus Febrie Tidak Sinkron

Sabtu, 19 September 2026 | 01:02

Selengkapnya