Berita

Muhammad Najib

Arab, Iran, Turki, Dan Wajah Islam Timur Tengah

SENIN, 03 JUNI 2019 | 04:30 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

BANYAK orang yang menganggap Iran dan Turki, merupakan bagian dari dunia Arab.

Meskipun memiliki kesamaan dalam hal agama, dimana mayoritas bangsa Iran maupun Turki sebagaimana juga mayoritas bangsa Arab adalah beragama Islam. Akan tetapi baik Iran maupun Turki bukanlah Arab.

Iran yang dulunya disebut Persia maupun Turki memiliki budaya maupun bahasa sendiri, dan bukan budaya maupun bahasa Arab, meskipun Arab memiliki pengaruh kuat dan mewarnai baik bahasa maupun budayanya karena faktor agama Islam.


Meskipun sampai kini baik Iran maupun Turki baik dari sisi politik maupun budaya, memiliki pengaruh kuat di negara-negara yang berada di kawasan Asia Tengah, akan tetapi bangsa Arab yang terpecah ke dalam 22 negara memiliki ikatan yang jauh lebih kuat.

Perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam, apakah faktor bahasa, budaya, atau kesejarahan yang menjadi penyebabnya, atau mungkin juga ada faktor lain.

Yang menarik untuk dikaji adalah kuatnya ikatan bangsa Arab justru membuat persaingan dan perpecahan yang tidak berkesudahan. Sejumlah ilmuwan menyebut basis kesukuan atau kabilah yang menjadi perekat sosial bangsa ini yang menjadi penyebabnya.

Akan tetapi ada juga yang berpendapat perbedaan faham keagamaan yang menjadi sumbernya, namun sejumlah ilmuwan kontemporer melihat masalah politik dan kekuasaan yang menjadi ujung-pangkalnya. Mungkin saja kombinasi dari ketiganya, atau ada faktor lain yang perlu terus dikaji.

Yang pasti persaingan dan percekcokan diantara negara-negara Arab telah membuatnya gagal dalam memanfaatkan kekayaan sumber daya alamnya yang sangat besar, khususnya yang terkait dengan minyak dan gas. Irak dan Libia sebagai contoh nyata, sebelumnya merupakan negara makmur, akan tetapi saat ini menjadi porak-poranda dan rakyatnya menjadi miskin. Saudi Arabia jika tidak berhati-hati, maka tidak lama lagi akan mengalami nasib serupa.

Dibanding dengan Iran dan Turki, secara keseluruhan negara-negara Arab tertinggal dalam masalah penguasaan sain dan teknologi. Akibatnya industri di negara-negara Arab praktis tidak berkembang. Bangsa Arab terperangkap menjadi bangsa konsumen.

Padahal di masa kejayaannya baik dibawah dinasti Umayyah maupun Abbasiyah, bangsa Arab sangat maju dalam sain dan teknologi, industrinya berkembang luar biasa sehingga  mampu membangun peradaban modern, jauh meninggalkan Eropa saat itu.

Dengan percekcokan yang tidak berkesudahan, maka impor senjata dari berbagai negara menjadi sangat tinggi. Walaupun disadari masalah ini menguras devisa negara, akan tetapi mereka tidak punya pilihan, karena sampai saat ini bangsa Arab belum bisa membuat senjata sendiri, bahkan pelurupun masih harus diimpor. Melihat fakta seperti ini, sulit dibayangkan bangsa ini bisa menang dalam perang.

Iran maupun Turki berbeda, bukan saja industrinya berkembang, akan tetapi sudah cukup maju dalam kemampuannya memproduksi senjata. Turki maupun Iran telah berhasil membuat berbagai senjata mulai yang ringan sampai yang berat. Turki mampu membuat tank, kapal selam, dan drone dengan standar NATO. Sementara Iran cukup maju dalam masalah rudal dan teknologi nuklir.

Secara politik ketiga kelompok negara ini memiliki hubungan yang kompleks. Negara-negara  Arab anti demokrasi dipimpin oleh Saudi Arabia yang didukung oleh Mesir, UEA, dan Bahrain. Sementara negara-negara Arab pro-demokrasi seperti Palestina, Tunisia, dan Qatar, didukung oleh Turki. Negara-negara Arab anti Israel seperti Suriah, Lebanon, dan Irak mendapat dukungan dari Iran. Dalam konflik Saudi Arabia dengan Iran, Turki mendukung Iran.

Karena itu saat Saudi Arabia menjadi tuan rumah KTT Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang berlangsung Jum'at s/d Sabtu (31 Mei - 1 Juni, 2019) di Makkah, baik delegasi Iran maupun Turki yang hadir tidak dipimpin oleh kepala negaranya. Dan deklarasi Makkah yang dihasilkannya, hanya dalam masalah Palestina mereka bersepakat.

Padahal tuan rumah sangat menginginkan dukungan dalam upayanya memojokkan Iran. Semoga negara-negara Arab bisa introspeksi diri dan segera menyadari kekeliruannya selama ini.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Tertekan Lonjakan Minyak, Harga Emas Dunia Anjlok ke Level 4.254 Dolar AS

Senin, 28 September 2026 | 08:30

Iran Siap Hadapi "Perang Kiamat" dengan AS

Senin, 28 September 2026 | 08:12

Jalan Terbuka Bagi Dividen BEI: Proses Demutualisasi Masuki Tahap Pengkajian Saham

Senin, 28 September 2026 | 07:52

Halal Jangan Berhenti di Sertifikat

Senin, 28 September 2026 | 07:38

IAMI Lahir di Jakarta, Nasaruddin Umar Jadi Presiden Pertama

Senin, 28 September 2026 | 07:07

APH Harus Turun Tangan Tertibkan Tarif Parkir Tak Wajar

Senin, 28 September 2026 | 07:05

Kejagung Didesak Bongkar Mata Rantai Uang Chromebook

Senin, 28 September 2026 | 06:47

Pagar Nusa Kukuhkan 25 Kader Pasukan Inti di Taiwan

Senin, 28 September 2026 | 06:42

Indonesia Ikut Ajang WSC 2026 di Shanghai, Ini Manfaatnya

Senin, 28 September 2026 | 06:20

Ekosistem Logistik di Kawasan Timur Masih Penuh Tantangan

Senin, 28 September 2026 | 05:54

Selengkapnya