Berita

Prabowo Subianto/Net

Politik

Catur Politik Prabowo Subianto

SABTU, 01 JUNI 2019 | 01:42 WIB | OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN*

ORANG-orang berkuasa sedang membangun narasi negatif bahwa Prabowo melakukan kejahatan pemberontakan.  

Kata mereka, setelah Prabowo kalah,  lalu Prabowo marah, lalu menggerakkan perusuh dan kekuatan bersenjata.

Kekuatan perusuh membunuh delapan orang,  termasuk beberapa anak remaja,  pada dinihari 22 Mei. Lalu kekuatan makar Prabowo dihancurkan. Prabowo kabur ke luar negeri dengan jet pribadi.


Tentu ada friksi di sana. Ryamizar Ryacudu tidak terima. Dia mengatakan bahwa tidak ada gerakan bersenjata maupun ancaman pembunuhan pejabat politik nasional. Jokowi sendiri membiarkan silang sengketa elit kekuasaannya.

Luhut Panjaitan juga setengah membela. Dia mengatakan bahwa bukan Prabowo aktornya. Prabowo disesatkan pembisik-pembisiknya. Menurut Luhut, Prabowo adalah orang hebat dan patriot.

Di Indonesia sudah tidak ada kelompok yang tidak memihak, kecuali YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia).

Kelompok ini beberapa saat sebelum pemilu,  bersama beberapa lembaga pengurus Hak Asasi Manusia, sudah mengatakan tidak akan mendukung Jokowi lagi, namun tidak akan memilih Prabowo.

Beberapa hari lalu YLBHI bersama beberapa lembaga HAM lainnya melakukan Konprensi pers sembilan halaman PDF berisikan temuan awal investigasi mereka atas Tragedi Mei berdarah.

Dalam rilisnya mereka menyampaikan dua indikasi penting, yakni pertama terjadi indikasi pelanggaran HAM. Kedua,  terjadi penyimpangan hukum.

("Terindikasi adanya pelanggaran HAM dengan korban dari berbagai kalangan yaitu tim medis, jurnalis, penduduk setempat, peserta aksi dan dari berbagai usia.
Terjadi penyimpangan dari hukum dan prosedur yang ada yaitu diantaranya KUHAP, Konvensi Anti Penyiksaan/CAT, Konvensi Hak Anak/CRC, Perkap 1/2009, Perkap 9/2008, Perkap 16/2006 tentang Penggunaan kekuatan, Perkap 8/2010, Perkap 8/2009. Sumber: ylbhi.or.id")

Hasil investigasi YLBHI dkk ini sebuah indikator penting bergesernya posisi Indonesia sebagai negara hukum dan demokrasi ke arah negara otoriter.

Sebenarnya indikator yang bersifat "high-politics" telah disinggung pengamat Indonesia (Indonesianis) Prof Aspinal dan Dr. Tom Power dari Australia, yang melukiskan rezim Jokowi sebagai "Neo-new Order". Namun, keberingasan rezim Jokowi terhadap rakyatnya, dari investigasi YLBHI ini, baru nyata bulan Mei ini.

Indikasi yang disampaikan YLBHI memberi warning bagi kita bahwa demokrasi sudah mati atau hampir mati. Penangkapan-penangkapan lawan politik dilakukan persis sama seperti zaman Suharto dan Sukarno. Ini pun sebuah peringatan besar.

Lalu bagaimana politik Prabowo saat ini?

Kepergian Prabowo ke Brunei Darussalam beberapa waktu lalu telah menjadi perhatian banyak pihak. Sultan Bolkiah adalah seorang Sultan atau pemimpin anggota negara persemakmuran. Dengan demikian dia mempunyai hubungan baik dengan 53 negara Commonwealth. Apakah Prabowo ke sana bertemu Sultan?

Saat ini Prabowo pergi ke Austria. Sebelumnya Dubai, Uni Emirat Arab. Dengan siapa Prabowo bertemu? Juga masih dirahasiakan. Namun,  sebagai sahabat King of Jordan dan mempunyai jaringan eks pasukan elite se dunia, dapat dipastikan Prabowo bertemu dengan banyak orang penting. Apalagi Prabowo mempunyai hubungan baik dengan Natanael Rothschild, salah satu bankers terbesar dan tertua di dunia.

Prabowo sendiri sebelumnya berangkat dengan sekretaris parlemen Rusia. Dan seorang warga Amerika.

Kepergian Prabowo dalam perspektif olok-olok musuh politiknya sebagai melarikan diri tentu bersifat sumir, namun itu bisa saja terjadi.

Ayatollah Khomeini pemimpin Iran, Vladimir Lenin pemimpin Russia, Benigno Aquino pemimpin Filipina adalah contoh-contoh pemimpin sebuah bangsa yang terusir dari negerinya.

Seandainya Prabowo meninggalkan Indonesia karena sudah tidak ada demokrasi, dan dia dianggap sebagai otak makar, maka tentu saja Prabowo dapat memindahkan pusat perjuangannya di luar negeri.

Dalam "political game", yang penting seorang pemimpin tidak boleh menyerah. Prabowo tidak boleh mengaku kalah, sebagaimana keyakinannya semula bahwa Prabowo dicurangi secara terstruktur, sistematis dan massif.

Dalam keyakinan seperti ini, kepergian Prabowo ke berbagai negara dunia adalah memperluas ruang gerak politik. Khususnya, membangun persekutuan politik yang sepaham, khususnya dalam mempertahankan prinsip-prinsip demokrasi dan hak-hak asasi manusia.

Jika berbagai pihak pendukung Prabowo mencari tahu kenapa Prabowo mengubah strategi awal,  yakni menolak keputusan KPU dan tidak akan ke Mahkamah Konstitusi (MK), jawabannya pastilah pilihan taktis saja.

Prabowo membutuhkan waktu untuk bermanuver.  Khususnya, bagaimana dunia internasional mengubah pandangan mereka dalam melihat perspektif demokrasi yang suram di Indonesia ini.

Penutup

Prabowo adalah pemimpin besar. Prabowo sedang memperjuangkan demokrasi dan keadilan sosial di Indonesia. Hal itu mengalir dalam silsilah keturunannya,  silsilah perjuangan.

Kecintaan besar rakyat Indonesia, yang ditunjukkan secara ekstrim dalam setiap kampanye Prabowo yang menyemut massanya, membuat Prabowo merindukan kebangkitan total, Indonesia yang berdaulat, bebas dari jajahan "asing dan aseng."

Namun,  Prabowo membutuhkan dukungan kekuatan internasional untuk menekan Indonesia agar melakukan pemilu yang jujur dan adil. Itulah yang mungkin sebagai penjelasan politik manuver internasional yang dilakukan Prabowo saat ini.

Kita harus percaya pada Prabowo dan selalu mendoakannya.

Direktur Sabang-Merauke Circle

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya