Berita

Politisi Demokrat kunjungi korban kerusuhan/RMOL

Politik

Demokrat: Ada Paradoks Soal Penggunaan Peluru Tajam Saat Kerusuhan

SABTU, 25 MEI 2019 | 20:10 WIB | LAPORAN:

Partai Demokrat mendesak pihak berwenang untuk mengusut tuntas penyebab para korban aksi 21, 22 dan 23 Mei 2019 meninggal dan mengalami luka-luka.

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Syarief Hasan menegaskan bahwa desakan itu dilakukan karena ada semacam paradoks mengenai penggunaan peluru tajam pada aksi di beberapa titik ibukota itu.

"Menurut polisi, mereka tidak membawa peluru. Tapi, rata-rata mereka (korban) ini lukanya dari tembakan peluru. Ini paradoks sekali ya," tekannya saat membesuk enam orang korban yang masih dirawat di RSUD Tarakan, Jakarta Pusat, Sabtu (25/5).


Untuk itu, Syarief mendesak pihak berwenang melakukan pengusutan secara tuntas dan gamblang mengenai luka tembak yang diderita para korban.

"Bagaimanapun juga, ini rakyat dan peluru ini dibeli rakyat Indonesia, kok jadi senjata makan tuan?" tekannya.

Dalam kunjungan tersebut, Syarief datang dengan beberapa pengurus partai berlambang mercy itu. Selain memberikan semangat dan mendoakan kesembuhan bagi enam korban luka yang dirawat di sana, mereka juga memberikan santunan.

Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD DKI Jakarta, Taufiqurrahman yang turut hadir mengamati bahwa para korban rata-rata masih berusia muda.

Makanya, dia menilai penembakan terhadap para korban merupakan pelanggaran yang serius dan harus ditindak tegas. Apalagi pemerintah Indonesia pernah ikut terlibat saat melakukan ratifikasi konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

"Ini masuk dalam kategori penyiksaan (torture)," imbuhnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, kedatangan mereka kali ini bukan hanya untuk memberikan semangat dan santunan kepada para korban. Melainkan juga untuk memastikan bahwa pihak RSUD Tarakan telah memberikan pelayanan terbaik bagi pasien mereka. Pemerintah pun dimintanya untuk membebaskan biaya perawatan para korban.

"Kami juga harap pemerintah bertanggung jawab, minimal pasien tidak ada lagi yang dibebani biaya perawatan dan biaya pemulihan pascaperawatan," pungkasnya.

Populer

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

Tuntutan Seret Jokowi ke Pengadilan terkait Kasus Nadiem Mengemuka

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02

Bebaskan Nadiem, Lalu Adili Jokowi

Senin, 18 Mei 2026 | 02:46

UPDATE

Perkuat Inovasi, Anak Usaha Pertamina Sabet Penghargaan CCSEA Enam Kali

Sabtu, 23 Mei 2026 | 00:19

Tio Aliansyah Diadukan ke DKPP Gegara Ikut Helikopter Bareng Anggota KPU

Jumat, 22 Mei 2026 | 23:55

Legislator Kebon Sirih Ingin jadi Batman Benahi Gotham City

Jumat, 22 Mei 2026 | 23:35

173 Bandit Jalanan di Jadetabek Sukses Diringkus Polisi

Jumat, 22 Mei 2026 | 23:15

Kejagung Didesak Bongkar Pihak Terkait Bos Tambang di Kalbar Tersangka Korupsi

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:53

Tata Kelola RSUD dr Soedarso Disorot, Utang Pengadaan Obat Tembus Rp29 Miliar

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:49

Energy AdSport Challenge Wadah Mahasiswa Berprestasi Jalur Non-Akademis

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:47

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

Komisioner Pertamina: Perempuan Jangan Takut Masuk Dunia STEM

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:15

Fraksi PKB Bakal Panggil Kapolda dan Kajati Kalbar

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:12

Selengkapnya