Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Membunuh New Power

KAMIS, 23 MEI 2019 | 23:42 WIB | OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN*

REZIM Jokowi kemarin mengumumkan akan menshutdown Facebook, WhatsApp,  dan berbagai media sosial untuk mengendalikan komunikasi kaum perjuangan saat ini.

Di sekitar Sarinah Square sudah beberapa hari sejak demo ke Bawaslu FB dan WA memang terhenti. Namun, kemarin di manapun kita berada, khususnya Jabodetabek, terasa effect kebijakan pemerintah ini pada lemot (lambatnya)  Facebook, WA, dll.

Pengendalian model jadul alias jaman otoriter dengan merazia orang-orang luar Jakarta yang mau ikutan demo, dampaknya kecil bagi bangsa kita.


Namun, mematikan dunia maya akan berdampak besar sebab 150 juta, sedikitnya, manusia kita sudah menjadi bagian hidup dan kehidupan dunia maya.

Lalu apa kaitannya dengan New Power?

Tulisan saya beberapa waktu lalu sudah membahas pandangan Henry Timms dan Jeremy Heimans tentang New Power.

New Power adalah power atau kekuatan yang dikaitkan dengan ciri-ciri baru a.l.:

1. Loyalitas orang-orang pada brand/merk menurun drastis. Di masa lalu, penyuka Coca Cola akan setia sekali dengan merk itu. Namun sekarang lebih mengalir.

2. Tidak begitu senang dengan afiliasi yang ketat. Biasanya orang-orang ini tidak mau terikat dengan organisasi atau institusi secara berlebihan.

3. Partisipasi ketimbang mobilisasi. Beberapa gerakan besar dunia seperti #BlackLiveMatter, #metoo di Amerika dan #2019GantiPresiden di sini, dilakukan lebih berbasis partisipasi ketimbang mobilisasi.

4. Sensitif terhadap klaim sepihak. Atau tepatnya terbiasa diminta persetujuan. Hal ini ciri baru masyarakat kita karena semua bahasa internet/apps selalui opt-in question; do you allow to access.

5. Desentralisasi dalam pengambilan keputusan dan pengorganisasian.

Ciri-ciri masyarakat baru maupun pendekatan baru dalam mengelola institusi ini tumbuh pesat di masa kini karena adanya teknologi informasi (Internet of Thing's dan Big Data).

Dalam dunia bisnis, masyarakat baru ini telah menghasilkan bisnis besar, yang di masa lalu sangat tergantung pada modal,  kini tergantung pada gagasan.

Uber dan Gojek misalnya muncul dibidang transportasi dengan mengetengahkan partisipasi modal bersama. Lebih dahsyat lagi Air BnB di bisnis penginapan salah satu terbesar di dunia, selain partisipasi modal bersama (pemilik rumah/kamar sebagai partisipan) juga memutuskan keuntungan yang adil.

Gojek, Uber dan Air BnB adalah fenomena baru dalam skala raksasa. Sebaliknya, jutaan fenomena baru lainnya dilakukan anak-anak muda yang baru mulai berbisnis dan emak-emak UMKM yang berusaha jualan online.

Keuntungan negara selama ini dengan adanya ciri masyarakat baru, tidak perlu bekerja keras meciptakan lapangan kerja. Selama pemerintahan Jokowi sektor formal hanya berhasil mencetak 500 ribu lapangan kerja baru pertahun dari jumlah pencari kerja 2,5 juta jiwa pertahun.

Masyarakat baru,  meski tidak dibantu negara, berusaha keras masuk dalam dunia usaha berbasis IT ini.

Masyarakat era New Power dan model kelembagaannya adalah sebuah keniscayaan masa depan dunia.

Jokowi sendiri dengan bangga menggertak Prabowo terkait arti Unicorn pada debat capres. Bahkan, Jokowi sudah mengklaim berhasil menuntaskan infrastruktur langit dan sinyal telekomunikasi 4G di seluruh Indonesia.

Hanya tetap saja faktanya Jokowi kesulitan membuat satu kata dan perbuatan. Saat ini rezim Jokowi semakin nyata, bukan saja alergi terhadap demokrasi, melainkan seperti enam negara ini (Sri Lanka, Bangladesh,  Turki, Sudan, Vietnam,  Iran dan China) ikut-ikutan menghancurkan kebebasan media sosial.

Penutup

Seberapa kuat rezim Jokowi menghancurkan kebebasan masyarakat dalam dunia media sosial akan jadi pertanyaan besar.

Di Cina, pemerintah mereka berhasil mengganti kebebasan (subtitusi)  dengan lapangan pekerjaan yang layak dan kesejahteraan. Sebaliknya,  kita semakin jauh terpuruk. Ekonomi berbasis import dan ekploitasi habis-habisan sumberdaya ekstraktif dan minimnya lapangan kerja, akan membawa bangsa ini ke arah negara gagal.

Namun, situasi seperti ini tidak bisa dibiarkan terjadi. Kesempatan bisnis triliunan lenyap dengan kebijakan anti medsos ini. Baik pada industri parawisata,  perhotelan,  makanan dll yang kini terganggu.

Kesempatan masyarakat mencari ilmu dan informasi juga berkurang.

Jika untuk mengurangi pengaruh medsos dalam kekuatan oposisi itu hanya menyelesaikan masalah hilir atau derivatif. Jika dimaksudkan untuk pengendalian “hate speech” tentu caranya juga harus edukatif.

Saat ini berbagai elemen masyarakat mengkritik. Aliansi Jurnalistik Independen (AJI), misalnya, meminta kebebasan dalam media sosial tidak boleh dikebiri.

Kita lihat saja seberapa lama pembungkaman ini dilalukan?

Penulis adalah Direktur Eksekutif Sabang Merauke Circle (SMC)

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Kalah di PN Jakpus, Penggugat PPP Subadri-Toni Dihukum Bayar Biaya Perkara

Senin, 03 Agustus 2026 | 22:10

Prabowo Terima Medali Kehormatan dari Angkatan Bersenjata Tailan

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:34

Buru Aset TPPU Febrie Adriansyah, Tim 9 Geledah Kantor Don Ritto hingga Rumah Nurman Herin

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:30

Prabowo dan PM Tailan Bidik Nilai Perdagangan Rp359 Triliun dalam Lima Tahun

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:20

Ini Enam Perkara yang Dihentikan KPK

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:10

Petingginya Diperiksa Kejati DKI, Peran AFPI Disorot

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:52

Indonesia-Tailan Sepakat Kembangkan TRM untuk Perangi Kejahatan Transnasional

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:49

Bawaslu Fokus Tingkatkan SDM Hadapi Tantangan Digital

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:38

Prabowo Kenang Masa Muda Bersama Raja Tailan Saat Sambut PM Anutin

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:30

Prabowo Dukung PPHN Jadi Pedoman Lintas Pemerintahan

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:16

Selengkapnya