Berita

Politik

Rizal Ramli: Dibanding 2014, Skala Kecurangan Kali Ini Luar Biasa

SELASA, 14 MEI 2019 | 19:31 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Pakar ekonomi Rizal Ramli menilai kecurangan pada Pemilu 2019 ini lebih parah dibanding kecurangan pada 2014 silam. Pada 2014 lalu, kata Rizal, Prabowo dinilai legowo menghadapi kecurangan tersebut.

Namun, kali ini ia mengaku tidak akan diam terhadap kecurangan-kecurangan yang terjadi pada Pilpres 2019.

"Tahun 2014 sebenarnya ada kecurangan, memang skalanya relatif kecil, tapi tetap kecurangan. Pak Prabowo waktu itu legowo (sabar), berbesar hati tidak mau ramai, tidak mau protes, nrimo (menerima). Tapi kali ini?" ucap RR, sapaan Rizal yang disambut massa dengan teriakan 'Kita lawan', Selasa (14/5).


Kecurangan yang terjadi saat ini dinilai lebih parah setelah melihat banyaknya kecurangan yang terjadi sejak sebelum pencoblosan hingga usai pencoblosan pada 17 April 2019 lalu.

"Kali ini skala kecurangannya luar biasa. Sebelum Pilpres, pada saat Pilpres, dan setelah Pilpres. Yang paling signifikan adalah daftar pemilih palsu atau abal-abal yang jumlahnya 16,5 juta," tuturnya.

Menurutnya, sebanyak 16,5 juta daftar pemilih siluman telah dilaporkan sejak tiga bulan lalu. Di mana pihak BPN menemukan banyaknya kejanggalan pada DPT tersebut.

"Pak Hasyim sudah protes tiga bulan lalu. Ada puluhan ribu penduduk, nama sama, tanggal lahir sama, kota sama, itu jelas abal-abal. Ada banyak juga data enggak pantas," jelasnya

Sehingga, ia menilai KPU sengaja tutup mata terhadap temuan jumlah DPT yang janggal.

"Mereka tutup telinga, tutup mata tetap mau ada 16,5 juta daftar pemilih yang abal-abal. Karena kalau misalnya dimasukkan, ditambahkan 10 orang ke 800 ribu TPS (menjadi) 8 juta sudah, ditambahin 20 (dpt) jadi 16 juta sudah pasti (Jokowi) menang," tandasnya.

Populer

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

Anak SMA Peserta Cerdas Cermat MPR Ramai-ramai Dibully Juri dan MC

Senin, 11 Mei 2026 | 14:27

Tuntutan Seret Jokowi ke Pengadilan terkait Kasus Nadiem Mengemuka

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02

Bebaskan Nadiem, Lalu Adili Jokowi

Senin, 18 Mei 2026 | 02:46

UPDATE

Mantan Kasipenkum Kejati Jakarta Jabat Kajari Aceh Singkil

Jumat, 22 Mei 2026 | 04:40

Walkot Semarang Dorong Sinergi dengan ISEI Lewat Program Waras Ekonomi

Jumat, 22 Mei 2026 | 04:18

Wasiat Terakhir Founding Fathers

Jumat, 22 Mei 2026 | 04:05

Pelapor Kasus Dugaan Pemalsuan Sertifikat Tanah di Tambora Alami Tekanan Mental

Jumat, 22 Mei 2026 | 03:53

98 Resolution Network: Program Prabowo-Gibran Sejalan dengan Mandat Reformasi

Jumat, 22 Mei 2026 | 03:40

Bos PT QSS jadi Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Tambang Bauksit di Kalbar

Jumat, 22 Mei 2026 | 03:20

KPK Dinilai Belum Utuh Baca Peta Kasus Blueray Cargo

Jumat, 22 Mei 2026 | 02:55

Empat WN China Diduga Pelaku Penipuan Online Ditangkap Imigrasi

Jumat, 22 Mei 2026 | 02:30

Membangun Kedaulatan Ekonomi di Era Prabowo

Jumat, 22 Mei 2026 | 02:16

Pidato Prabowo di DPR Upaya Konkret Membumikan Pasal 33 UUD 1945

Jumat, 22 Mei 2026 | 01:55

Selengkapnya