Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Jangan Peralat Suara Rakyat Atau Keadilan Akan Mencari Jalannya Sendiri

SABTU, 04 MEI 2019 | 10:51 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Sejatinya sirkulasi pergantian kepemimpinan nasional yang tahun ini digelar dalam kontestasi Pilpres memperlihatkan rakyat vis a vis dengan negara.

Calon presiden yang mayoritas didukung kekuatan rakyat berhadapan dengan negara beserta instrumen yang dimilikinya. Tidak ayal jika sejak awal kontestasi ini sarat dengan dugaan keberpihakan dan kecurangan.

Mulai dari jumlah daftar pemilih tetap yang bisa bertambah secara misterius, orang gila yang bisa memilih, kotak suara yang terbuat dari kardus, terlibatnya ASN dan berbagai kejanggalan lainnya.


Ketua Umum Gerakan Daulat Rakyat, Sangap Surbakti mengatakan, pada 17 April 2019, jutaan rakyat Indonesia yang memiliki hak pilih telah menjatuhkan pilihan politiknya dan secara detail facto pilihan rakyat jatuh pada pasangan urut nomor 02 Prabowo-Sandi.

Negara yang secara awal menyatakan berhadapan dengan rakyatnya sendiri menolak tunduk dan berusaha membangun ilusi dengan mempertontonkan kemenangan secara demonstratif dan manipulatif. Ironis, klaim kemenangan lewat quik count ini justru dimaknai dengan mencoba melakukan perundingan dan tawar-menawar politik dengan pasangan yang mayoritas didukung rakyat.

"Perundingan-perundingan ini harus dihentikan. Lobi-lobi politik yang menistakan dan mengabaikan kehendak rakyat harus ditolak!," ujar Sangap Surbakti, Sabtu (4/5).

Gerakan Daulat Rakyat sebagai salah satu entitas anak bangsa secara tegas menolak sebagai bentuk penghianatan terhadap rakyat. Jerih payah rakyat yang terdorong untuk melakukan perubahan harus dimaknai sebagai daulat rakyat demi tercapainya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

"Gerakan Daulat Rakyat menyerukan para elite untuk menghentikan tawar-menawar politik untuk sebuah kekuasaan. Jangan peralat suara rakyat demi ambisi politik atau keadilan akan mencari jalannya sendiri," tutup Sangap Surbakti.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

KPK Cium Skandal Baru Izin Tambang di Maluku Utara, Nama Haji Romo Ikut Terseret

Rabu, 01 April 2026 | 08:16

Wall Street Kembali Sumringah

Rabu, 01 April 2026 | 08:07

WFH ASN Diproyeksikan Hemat Kompensasi BBM Rp 6,2 Triliun

Rabu, 01 April 2026 | 07:53

Emas Melonjak 3 Persen, tapi Cetak Rekor Penurunan Bulanan Terburuk Sejak 2008

Rabu, 01 April 2026 | 07:42

RI Murka di DK PBB, Nilai Serangan TNI di Lebanon Tak Lepas dari Israel

Rabu, 01 April 2026 | 07:35

Pasar Saham Eropa Tutup Maret dengan Koreksi Terburuk dalam Empat Tahun

Rabu, 01 April 2026 | 07:24

Menhan AS Sebut Perang Iran Masuk Fase Penentuan

Rabu, 01 April 2026 | 07:17

Italia Gagal Lolos Piala Dunia Setelah Ditekuk 4-1 oleh Bosnia

Rabu, 01 April 2026 | 06:57

Katastropik Demokrasi Kita

Rabu, 01 April 2026 | 06:48

Soleman Ponto: Intelijen pada Dasarnya Teroris

Rabu, 01 April 2026 | 06:20

Selengkapnya