Berita

Pendidikan politik PRD/Net

Politik

PRD: Nilai-Nilai Pancasila Mampu Tangkal Hoax

JUMAT, 03 MEI 2019 | 20:47 WIB | LAPORAN:

Nilai-nilai luhur dari Pancasila yang digali oleh Soekarno, kemudian dalam Pembukaan UUD 1945 menjadi dasar negara, mampu menangkal  berbagai hoax (kabar bohong) yang berpotensi memecah belah bangsa Indonesia, terutama selama pelaksanaan Pemilu 2019 ini.

Demikian Wakil Ketua Umum Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP PRD), Alif Kamal di sela-sela kegiatan Pendidikan Politik Pemuda dan Mahasiswa di Wisma PKBI jl. Hang Jebat III, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Alif mengatakan, perjuangan politik janganlah dianggap sebagai suatu hal yang negatif atau hal yang mengancam, selama masih dalam koridor Pancasila.


Problem politik seringkali justru berasal dari elit politik, yang mengartikulasikan politik hanya sebatas kekuasaan. Untuk itu cara apapun dianggap sah, termasuk yang sebetulnya membahayakan keselamatan bangsa, seperti politik golonganisme, politik hantam kromo dan politik pecah belah.

"Politik itu semestinya ditempatkan sebagai jalan untuk mengelola kekuasaan mengabdi kepada kepentingan bangsa, yaitu mewujudkan masyarakat yang adil makmur, bukan untuk melindungi kepentingan sekelompok orang, seperti yang sudah ditegaskan oleh Bung Karno pada Pidato 1 Juni 1945, yang kemudian dirumuskan dalam Pembukaan UUD 1945," terangnya.

Selama politik digunakan untuk memperjuangkan kepentingan bangsa, kepentingan umum, maka hoax dan sebagainya diyakininya akan tereliminasi dengan sendirinya.

Kegiatan pendidikan politik seperti ini secara terus menerus dilaksanakan oleh PRD di berbagai kota, tak hanya di Jakarta tapi juga di Jayapura, Manokwari, Kota Sorong, Manado, Makassar, Yogyakarta, Solo, Salatiga, Semarang, Surabaya, Malang, Lombok, dan Bandung serta lainnya.

Alif menjelaskan, melalui pendidikan politik seperti ini, PRD berinisiatif agar para mahasiswa dan pemuda memiliki pandangan politik yang lebih bersifat kebangsaan dan kerakyatan, di tengah banyaknya persoalan yang dihadapi rakyat Indonesia.

"Inilah yang hendak diperkuat oleh KPP-PRD di kalangan pemuda dan mahasiswa agar ke depan, persatuan nasional tetap kokoh, dengan terwujudnya kesejahteraan sosial yang adil dan merata. Jika kemakmuran sudah dirasakan oleh rakyat Indonesia, maka potensi apapun untuk memecah belah bangsa ini, bisa dihindari," tegas Alif yang juga merangkap sebagai koordinator acara.

Ia menambahkan ada beberapa hal yang diajarkan dalam pendidikan politik kali ini, terutama tentang sejarah masyarakat Indonesia, perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan imperialisme, cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945, Trisakti dan jalan bagi bangsa Indonesia dalam mewujudkan masyarakat yang adil Makmur.

Di samping juga tak kalah penting filosofi serta landasan negara Indonesia yaitu Pancasila, yang di dalam pendidikan formal sering terjadi distorsi dan porsinya kurang mendalam.

"Point-point penting disampaikan dalam pendidikan politik ini, agar konsep serta nilai-nilai perjuangan yang menjadi pemikiran para pendiri bangsa seperti Bung Karno, Bung Hatta, dan lain-lain bisa dipahami oleh generasi muda di era milenial seperti sekarang ini," jelasnya.

Sejak kongres tahun 2010, dengan menjadikan Pancasila sebagai asas perjuangan Partai, PRD secara tegas menolak penjajahan asing, menolak liberalisme sebagai platform perjuangan dengan membangun Gerakan Nasional Pasal 33 UUD 1945.

Setelah kongres tahun 2015, PRD melakukan gerakan nasional menangkan Pancasila. Dan saat ini PRD sedang mengkampanyekan 2019 Ganti Haluan Ekonomi, dari ekonomi liberal menjadi ekonomi yang bergotong royong, seperti semangat dari Pasal 33 UUD 1945.

"Bagi PRD siapapun presiden yang nanti akan terpilih, tugas pokoknya adalah menegakkan Trisakti dan mewujudkan kesejahteraan sosial dalam bingkai persatuan nasional, seperti yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 dengan Pancasila sebagai dasar negara,” sambungnya.

PRD sendiri dahulu dikenal sebagai partai beraliran kiri tersebut, sejak 2010 mengubah azas partai dari Sosdemkra menjadi Pancasila.

Populer

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

Tuntutan Seret Jokowi ke Pengadilan terkait Kasus Nadiem Mengemuka

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02

Bebaskan Nadiem, Lalu Adili Jokowi

Senin, 18 Mei 2026 | 02:46

Pujian Anies ke JK Benamkan Ade Armando Cs

Senin, 18 Mei 2026 | 04:20

UPDATE

Rieke Diah Pitaloka Soroti Pentingnya Integrasi Data Haji Nasional

Sabtu, 23 Mei 2026 | 10:18

Pekan Depan, Presiden dan Wapres Serahkan Hewan Kurban ke Masjid Istiqlal

Sabtu, 23 Mei 2026 | 10:01

Harga Minyak Dunia Naik Tipis di Akhir Pekan

Sabtu, 23 Mei 2026 | 09:47

Haji 2026, Ketua Komisi VIII DPR Minta Pemerintah Waspadai Tantangan Fase Armuzna

Sabtu, 23 Mei 2026 | 09:35

DPR dan Grenpace Bahas Penguatan Swasembada Pangan Lewat Hilirisasi Perkebunan

Sabtu, 23 Mei 2026 | 09:19

Pemerintah Disarankan Dahulukan Kelompok Rentan untuk MBG

Sabtu, 23 Mei 2026 | 09:09

Komisi V DPR Tinjau Gangguan GPS Penerbangan, Minta Sistem Mitigasi Diperkuat

Sabtu, 23 Mei 2026 | 09:01

Indeks DXY Kokoh di 99,24, Dolar AS Dekati Level Tertinggi 6 Pekan

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:54

Harga Tiket FIFA Matchday Timnas Indonesia Juni 2026, Ini Cara Belinya

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:48

Megawati dan Sri Sultan HB X Berbincang Santai di Keraton hingga Larut Malam

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:30

Selengkapnya