Berita

jurubicara BPN Prabowo-Sandi, Ferdinand Hutahaean/RMOL

Politik

Jubir BPN: Dibanding Pemilu Ulang, Mending Hitung C1 Bareng-Bareng

KAMIS, 02 MEI 2019 | 11:56 WIB | LAPORAN:

Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menilai kondisi pemilihan umum (Pemilu) 2019 sejak awal menunjukkan kejanggalan yang mengerucut pada kecurangan.

Hal itu disampaikan jurubicara BPN Prabowo-Sandi, Ferdinand Hutahaean saat dihubungi Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (2/4).

"Kondisi pemilu kita sejak awal sudah menunjukkan bagaimana pemilu ini sesungguhnya curang. Petahana tampak memperalat kekuasaannya untuk memenangkan dirinya. Pejabat dari tingkat bawah hingga atas semua menjadi juru kampanye dan tim sukses petahana," ungkap Ferdinand.


Selain itu, kebijakan-kebijakan yang dilakukan pemerintah juga dianggap lebih menguntungkan petahana tanpa ada teguran dari Bawaslu.

"Lembaga negara terlihat tidak netral dan banyak hal lain yang terlihat pemilu ini berlangsung tidak adil dan curang," tuturnya.

Menyikapi hal ini, baginya, daripada melakukan pemilu ulang lebih baik menghentikan seluruh perhitungan saat ini dan memproses perhitungan manual C1 plano secara bersamaan.

"Sebelum bicara pemilu ulang, langkah lain yang bisa dilakukan yaitu menghentikan seluruh perhitungan yang dilakukan saat ini. KPU dan Bawslu bawa seluruh C1 yang jumlahnya lebih dari 813 ribu ke Jakarta dan kita lakukan hitung manual bersama-sama," lanjutnya.

"Karena pihak 02 yakin menang meskipun 01 curang. Hentikan semua rekapitulasi di bawah dan kita lakukan hitung manual berdasarkan C1," terangnya.

Untuk membuktikan dugaan kecurangan itu, Ferdinand mengaku telah memiliki C1 lengkap dari seluruh Indonesia yang akan dibawa ke KPU untuk dihitung manual bersama.

"Karena yang punya C1 lengkap seluruh Indonesia hanya KPU dan Bawaslu, maka keduanya kita minta membawa seluruh C1 ke Jakarta dan kita hitung manual di Jakarta. Itu salah satu cara untuk menghentikan segala kecurangan Situng KPU yang selalu dibungkus dengan salah input atau human error," tandasnya.

Populer

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

Tuntutan Seret Jokowi ke Pengadilan terkait Kasus Nadiem Mengemuka

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02

Bebaskan Nadiem, Lalu Adili Jokowi

Senin, 18 Mei 2026 | 02:46

Pujian Anies ke JK Benamkan Ade Armando Cs

Senin, 18 Mei 2026 | 04:20

UPDATE

Rieke Diah Pitaloka Soroti Pentingnya Integrasi Data Haji Nasional

Sabtu, 23 Mei 2026 | 10:18

Pekan Depan, Presiden dan Wapres Serahkan Hewan Kurban ke Masjid Istiqlal

Sabtu, 23 Mei 2026 | 10:01

Harga Minyak Dunia Naik Tipis di Akhir Pekan

Sabtu, 23 Mei 2026 | 09:47

Haji 2026, Ketua Komisi VIII DPR Minta Pemerintah Waspadai Tantangan Fase Armuzna

Sabtu, 23 Mei 2026 | 09:35

DPR dan Grenpace Bahas Penguatan Swasembada Pangan Lewat Hilirisasi Perkebunan

Sabtu, 23 Mei 2026 | 09:19

Pemerintah Disarankan Dahulukan Kelompok Rentan untuk MBG

Sabtu, 23 Mei 2026 | 09:09

Komisi V DPR Tinjau Gangguan GPS Penerbangan, Minta Sistem Mitigasi Diperkuat

Sabtu, 23 Mei 2026 | 09:01

Indeks DXY Kokoh di 99,24, Dolar AS Dekati Level Tertinggi 6 Pekan

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:54

Harga Tiket FIFA Matchday Timnas Indonesia Juni 2026, Ini Cara Belinya

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:48

Megawati dan Sri Sultan HB X Berbincang Santai di Keraton hingga Larut Malam

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:30

Selengkapnya