Berita

Syahganda Nainggolan/Net

Publika

Orang-Orang Sumatera: Catatan Buat Mahfud MD

SENIN, 29 APRIL 2019 | 03:46 WIB | OLEH: SYAHGANDA NAINGGOLAN

CALON Cawapres Jokowi yang batal,  Profesor Mahfud MD mengatakan bahwa tempat di mana Prabowo menang, di situ tempat Islam radikal. Saya tidak paham maksud dan tujuan dia membelah bangsa ini.

Prabowo menang telak dari Sumatera bagian utara,  sampai ke Sumatera bagian selatan. Apakah mereka semua mempunyai paham Islam radikal?

Suatu hari guru ngaji saya,  Almarhum Dr.  Mohammad Imaduddin Abdurrahim mengatakan bahwa penjajahan 350 tahun terhadap Indonesia sebenarnya tidak terjadi di Sumatera. Hanya Jawa yang di jajah Belanda 350 tahun. Kenapa? Karena Islam di Sumatera yang berkembang adalah Islam perlawanan. Bukan Islam Nusantara.


Apa beda Islam perlawanan vs Islam Nusantara? Islam perlawanan mengajarkan kesetaraan, anti penindasan dan kasih sayang. Dalam Islam perlawanan tidak ada tradisi cium tangan sama kyai. Mengajarkan lebih baik mati dari pada ditindas atau dijajah. Tidak membolehkan kyai alias ustaz menjadi tuan tanah (dalam istilah PKI satu dari 7 setan desa). Itu yang menyebabkan rakyat Sumatera dari dulu mengutamakan egalitarian atau equal atau persamaan derajat sesama manusia. Dan keras melawan penindasan, seperti perang Aceh dan perang Padri melawan kolonial Belanda.

Islam ala Sumatera tidak mungkin dipaksa-paksa menjadi Islam Nusantara yang dipopulerkan Romahurmuzy (Romi),  menteri Agama Lukman Syaifuddin,  Nusron Wahid,  Cak Imin dan Said Agil. Meski Islam perlawanan ala Sumatera tidak menyombongkan diri seperti Islam Nusantara. Namun, jika stigma yang Profesor Mahfud dkk bangun terus menerus, bahwa pendukung Prabowo adalah Islam radikal, garis keras atau khilafah,  tentu rakyat sepanjang Sumatera akan merasa terganggu.

Ingat,  Sumatera punya sejarahnya sendiri yang panjang, termasuk Aceh yang menyumbangkan pesawat terbang pertama bagi bangsa kita, sehingga Presiden Soekarno bisa terbang menjelajahi pulau-pulai. Lalu untuk apa profesor ini memanas-manasi kita?

Apakah Anda mempertimbangkan risikonya bagi keutuhan bangsa?

(Penulis adalah Direktur Eksekutif Sabang Merauke Circle).

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Jamaika Nilai Otonomi Sahara Maroko Solusi Paling Layak Ditempuh

Jumat, 25 September 2026 | 10:16

Dibayangi Ketidakpastian Global, Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS

Jumat, 25 September 2026 | 10:15

Wacana Pileg dan Pilpres Dipisah, Pengamat Ingatkan Konsekuensi Konstitusional

Jumat, 25 September 2026 | 10:06

KPK Telusuri Aset TPPU Milik Walikota Madiun Maidi, Periksa Sejumlah Saksi

Jumat, 25 September 2026 | 09:58

Syahganda Nazar Gunduli Kepala dan Umrah Jika Gibran Didiskualifikasi MK

Jumat, 25 September 2026 | 09:50

Impor Produk Halal Capai 31 Miliar Dolar AS, Indonesia Kejar Pasar Global

Jumat, 25 September 2026 | 09:48

IHSG Kembali Menguat, Tembus Level 6.300

Jumat, 25 September 2026 | 09:34

Gibran Masih Bocil, Lebih Cocok Jadi Camat Ketimbang Wakil Presiden

Jumat, 25 September 2026 | 09:30

Prabowo Bangga Indonesia Raih Emas Pertama di Asian Games 2026

Jumat, 25 September 2026 | 09:28

Bertemu Trump, Xi Jinping Ingatkan Bahaya Jebakan Thucydides

Jumat, 25 September 2026 | 09:00

Selengkapnya