Berita

Xi Jinping di forum BRI/Net

Global

Siapa Yang Menerima Manfaat Dari Inisiatif Sabuk Dan Jalan China?

MINGGU, 28 APRIL 2019 | 23:07 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Presiden China Xi Jinping menjadi tuan rumah forum raksasa yang dihadiri puluhan pemimpin negara di Beijing pekan kemarin.

Forum itu digelar sebagai bentuk upaya Xi untuk mengubah citra besar-besaran Inisiatif Belt and Road (BRI) atau Sabuk dan Jalan yang diusungnya.

Xi menggarisbawahi niat baik dan komitmen China terhadap transparansi serta melakukan pembangunan kualitas tinggi, berkelanjutan, tahan risiko, harga terjangkau, dan infrastruktur inklusif sebagai bagian dari BRI itu.


Kesempatan itu juga dimanfaatkan Xi untuk meredakan kekhawatiran yang menyebut bahwa BRI adalah kendaraan bagi China untuk memperluas pengaruhnya dan menghasilkan uang dalam prosesnya.

Bukan tanpa hasil, serangkaian pertemuan dan diskusi yang digelar dalam forum tersebut menghasilkan total kesepakatan senilai 64 miliar dolar AS. Namun Xi tidak memberikan perincian atau mengakui siapa yang menandatanganinya. Dia hanya menegaskan bahwa inisiatif yang dia luncurkan pada tahun 2013 itu sejalan dengan perkembangan zaman dan didukung secara luas.

"Sepertinya ini adalah semacam penyesuaian kembali dari One Belt One Road yang asli, sekarang BRI," kata seorang instruktur tentang ekonomi pasar negara berkembang dan ekonomi politik Rusia dan Cina di Universitas Harvard dan rekannya, di Harvard Davis Center for Russia and Eurasian Studies, Bruno S Sergi, seperti dimuat Al Jazeera.

Dia menjelaskan, dalam forum itu, Xi membahas banyak hal terkait BRI, termasuk kebijakan lingkungan, korupsi dan praktik pemberian pinjaman China.

"Nol korupsi, (kebijakan) hijau, multilateral, kualitas, keberlanjutan adalah istilah glosarium baru dari presiden China," kata Sergi.

"Tidak diragukan istilah-istilah baru ini menunjuk ke arah yang benar," tambahnya. Hingga saat ini, sekitar 90 miliar dolar AS telah diinvestasikan dalam beberapa proyek terkait BRI.

Di forum tersebut, Xi menghubungkan BRI dengan konektivitas dan kerja sama, dengan tantangan dan risiko yang dihadapi umat manusia, pertumbuhan ekonomi global, perdagangan dan investasi internasional, tata kelola, multilateralisme, pembangunan hijau, dan inovasi.

Lebih lanjut Xi berkomitmen untuk mengundang 10.000 perwakilan dari partai politik, lembaga think tank dan organisasi non-pemerintah, membuka akses pasar, meningkatkan perlindungan kekayaan intelektual, meningkatkan impor, terlibat dalam koordinasi kebijakan makro-ekonomi, dan membuka lebih besar.

Asisten profesor di Lyndon B Johnson School of Public Affairs di The University of Texas di Austin, Joshua Eisenman menilai, BRI memulai program investasi dan pinjaman untuk infrastruktur, namun kini seolah-olah telah berevolusi menjadi keseluruhan untuk hampir semua kebijakan yang dilakukan China di luar negeri. Dia menilai, BRI kini memadukan garis antara ekonomi, politik dan militer menjadi satu program raksasa.

"Seiring waktu BRI telah berkembang menjadi moniker untuk segalanya," kata Eisenman. "Ketika orang bertanya, apakah BRI akan bekerja?' Apa yang pada dasarnya mereka tanyakan adalah apakah kebijakan luar negeri Xi Jinping akan berhasil?" sambungnya.

Namun di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa China berhasil mengisi kesenjangan pendanaan yang ada di banyak negara, khususnya ekonomi yang sedang tumbuh. Kesenjangan itu sebelumnya tidak ada ekonomi besar lainnya yang mau mengisinya.

"Ketika pilihannya adalah mengambil uang atau tidak mengambil uang, orang akan mengambil uang itu setiap waktu," kata Eisenman.

Namun, untuk semua pro dan kontra, BRI dapat menjadi kendaraan untuk tipe baru kewirausahaan nasional.

Agar upaya menjadi efektif, BRI akan membutuhkan efisiensi dan pandangan ke depan yang setara dari banyak negara dan aktor yang tertarik pada Jalan Sutra baru.

"Hanya pendekatan baru yang dirasakan umum yang menggerakkan berbagai hal ke arah yang tepat dapat menjadikan BRI solusi win-win raksasa menuju infrastruktur yang lebih baik, pertumbuhan dan kemajuan dan untuk menghindari bentuk hegemonik atau predator, di satu sisi, dan mencegah hutang di beberapa negara juga," kata Sergi.

Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Helikopter Pemadam Karhutla BNPB Jatuh di Sungai Barito

Minggu, 08 November 2026 | 14:30

Putin Pastikan Rusia-AS-Ukraina Kembali Berunding Pekan Depan di Abu Dhabi

Minggu, 08 November 2026 | 14:26

Plt Bupati Klaten Dicecar KPK soal Penerimaan Uang Hamenang dan Era Sebelumnya

Minggu, 08 November 2026 | 14:19

Al Aqsha Travel Gelar Akademi Marketing Haji untuk Perkuat Kompetensi Mitra

Minggu, 08 November 2026 | 14:02

Bahlil Ancam Tempuh Jalur Hukum Gegara Namanya Dikaitkan dengan Isu Penyadapan Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 13:47

Gempa 5,7 Magnitudo Guncang Jepang, 20 Orang Terluka

Minggu, 08 November 2026 | 13:42

Penyadapan Presiden Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tidak Stabil

Minggu, 08 November 2026 | 13:28

Green Wakaf, Memperluas Manfaat Wakaf untuk Menjaga Kelestarian Alam

Minggu, 08 November 2026 | 13:08

Pengamat: Peran Seskab Teddy Strategis dalam Komunikasi Politik Pemerintah

Minggu, 08 November 2026 | 13:02

AS Siapkan Rp362 Miliar untuk Pembocor Informasi Nuklir Iran

Minggu, 08 November 2026 | 12:40

Selengkapnya