Berita

Ilustrasi/Net

Publika

The Trust Society: A Society Of Trust

JUMAT, 26 APRIL 2019 | 23:58 WIB | OLEH: SYAHGANDA NAINGGOLAN

KETIKA kaki saya mendarat di Belanda September 1993, pemilu di sana tinggal beberapa bulan lagi (Mei, 1994). Partai utama koalisi yang berkuasa, CDA (Christian Democrat) yang dipimpin Ruud Lubbers mempromosikan Brinkman untuk menggantikan dia sebagai Perdana Menteri.

Cornelis Elco Brinkman adalah politisi yang paling popular saat itu dan partai mereka merupakan "single majority" dengan suara 35,3%. Brinkman adalah manusia ambisius yang dimusuhi dan disegani banyak kawan dan lawan, termasuk dari partainya.

Pada 8 April 1994, persis tinggal sebulan pemilihan, sebuah perusahan yang dimiliki paman dari istri Brinkman terbongkar di media dalam investigasi "corporate fraud" (Skandal kejahatan perusahan). Terbongkar pula Brinkman tercatat sebagai pejabat/board di perusahan itu.


Rakyat Belanda marah kepada Brinkman. Merasa tertipu. Karena seorang pemimpin harusnya melaporkan semua hal secara jujur. Kenapa dia menyembunyikan bahwa dia mempunyai perusahan atau berafiliasi dengan sebuah perusahaan itu?

Akhirnya pada pemilu itu, CDA kehilangan 30% lebih kursi mereka di parlemen, Brinkman gagal menjadi Perdana Menteri dan bahkan dalam pemerintahan koalisi yang dipimpin Wim Kok, mereka dibuang menjadi oposisi, pertama sekali sejak tahun 1918.

A Society of Trust

The Trust Society adalah masyarakat yang dibangun berdasarkan kepercayaan (trust). Berbagai ahli membagi The Trust Society ini ke dalam dua kelas, yakni High Trust Society dan Low Trust Society. Negara-negara maju dan beradab, seperti di Belanda dan barat diklasifikasikan High Trust society. Masa itu, kepercayaan ditandai dengan keterbukaan, memenuhi janji, tepat waktu dan menghormati hak hak orang lain. Keterbukaan seperti kita singgung di atas, jangan menjadi pemimpin yang menyembunyikan sesuatu.

Memenuhi janji itu artinya "delivered" memenuhi apa yang dikatakan. Apa yang dibibir itulah yang di hati. Tepat waktu itu seperti "time is money", jangan "Jam karet". Menghormati orang lain itu seperti jangan duduk dibangku bus/kereta api khusus orangtua/ibu hamil, jika itu bukan hakmu.

Orang-orang Belanda/barat, misalnya, bahkan tidak membuang plastik dipinggir sungai atau jalan, meskipun tidak ada yang lihat. Itu sudah mereka adopsi sejak Taman kanak-kanak. (Suatu hari pernah saya kaget ketika berjalan dengan ketua ormas pemuda Islam kita alumni Doktor dari Amerika, dia membuang botol aqua disembarang jalan Mega Kuningan).

Sebaliknya, Low Trust Society dilabelkan pada negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Masyarakat ini ditandai dengan berbagai sifat sebaliknya, yang dianggap sebuah kelemahan, seperti, tidak terbuka, suka berbohong dan ingkar janji, lain dimulut lain dihati, curang, mengambil kesempatan jika tidak diawasi, mengambil hak orang lain, tidak tepat waktu alias "jam karet", memotong antrian, dan sebagainya.

Jika di Belanda dengan High Trust society, seorang pemimpin curang seperti Cornelis Brinkman langsung dimarahi dan mendapat balasan masyarakatnya dengan hancurnya popularitas dia dan partainya. Sebaliknya, di negara-negara miskin seperti kita, rakyat yang Low Trust Society, dengan ciri-ciri di atas, biasanya kurang sensitif, bahkan cenderung permissif. Budaya masyarakat ini bahkan menikmati kerusakan-kerusakan moral yang terjadi.

Masa Depan Kita

Tetesan air yang terus menerus mengalir ke batu karang pasti akan dapat menghancurkan karang itu. Itu adalah prinsip kerja keras jika ingin mengubah sebuah budaya bangsa dari masyarakat yang tidak dapat dipercaya menjadi High Trust Society.

Budaya yang baik akan menciptakan "social trust".

"Social Trust", yang saat ini sering dikaitkan sebagai "Social capital" sangat terkait pula dengan "political trust". Karena value atau nilai yang jadi standar acuan masyarakat akan mengontrol aktifitas politik elit-elit mereka.

Namun, tetesan air itu datangnya dari atas. Artinya teladan itu harus dimulai dari elit2 bangsa, lebih khusus lagi presiden. Namun, jika kecurangan, seperti dalam pemilu saat ini, korupsi yang semakin ganas, ingkar janji politik terus memburuk, dan menghalalkan segala cara dalam sosial/politik, maka masa depan Indonesia akan jauh lebih buruk lagi.

Kita dengan pemilu curang yang massif, bukan sedang membangun masyarakat beradab, melainkan kita akan hancur dalam masyarakat yang saling mencurigai, bermusuhan, saling menipu dan akhirnya lumpuh (Anomy).

Itulah arah masa depan Indonesia. A SOCIETY of NO TRUST.

(Penulis adalah Direktur Eksekutif Sabang Merauke Circle).

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Tak Ada Pintu Setop Perang Iran versus AS-Israel

Sabtu, 02 Mei 2026 | 04:02

Prabowo di Tengah Massa Buruh Tak Lagi Hadapi Kritik, tapi Terima Dukungan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 04:00

Pertama Kali Presiden RI Dielu-elukan Buruh

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:28

Polri Apresiasi Massa Buruh Tertib

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:20

Perpres Ojol 92 Persen Bisa Picu Kenaikan Tarif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:01

Jumhur Hidayat Jadi Menteri LH: Politik Merangkul untuk Mengendalikan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:42

Waspada Gelombang Tinggi saat Libur Panjang Pekan Ini

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:19

Kaji Ulang Wacana Pemangkasan Jaminan Kesehatan Aceh

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:00

Perbedaan Lokasi May Day Tak Perlu Diperdebatkan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 01:32

Perpina DKI Serukan Kepemimpinan Perempuan Berdaya

Sabtu, 02 Mei 2026 | 01:06

Selengkapnya