Rencana pertemuan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam waktu dekat ini membuka kembali keakraban "kawan lama".
Hubungan Korea Utara dan Rusia diketahui berakar pada sejarah yang kuat. Di masa Uni Soviet, Korea Utara adalah adalah sekutu dekat. Uni Soviet bahkan kerap menawarkan kerjasama ekonomi, pertukaran budaya dan bantuan. Uni Soviet juga lah yang memberi Korea Utara pengetahuan awal tentang nuklir.
Tetapi sejak runtuhnya Uni Soviet, hubungan Korea Utara dengan Rusia tidak sedekat sebelumnya. Dengan ikatan ideologis yang melemah, tidak ada alasan untuk perlakuan dan dukungan khusus.
Profesor Andrei Lankov dari Universitas Kookmin Seoul seperti dimuat
BBC menjelaskan, bahwa hubungan Korea Utara dengan Rusia mulai kembali mendekat sejak awal 2000an di mana mulai terjadi keterasingan bertahap Rusia dengan Barat.
Moskow kemudian mendapati dirinya mendukung negara-negara berdasarkan logika lama.
"Bahwa musuh dari musuh saya adalah teman saya," jelas Profesor Lankov, seperti dimuat
BBC.
Pertemuan bilateral Korea Utara-Rusia terakhir dikakukan pada tahun 2011, ketika Presiden Dmitry Medvedev bertemu ayah Kim, Kim Jong-il.
Hubungan Korea Utara dan Rusia masuk akal secara geografis. Pasalnya, Korea Utara dan Rusia berbagi perbatasan pendek tidak jauh dari kota pelabuhan penting Rusia Vladivostok.
Menurut kementerian luar negeri Rusia, ada juga sekitar 8.000 pekerja migran Korea Utara yang bekerja di Rusia.
Profesor Lankov lebih lanjut menilai, KTT Hanoi antara Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang gagal Februari lalu merupakan hasil yang tidak diharapkan oleh kepemimpinan Korea Utara. Negara itu berharap ada kompromi yang disetujui dan berimbas pada pelonggaran sanksi internasional.
"Sanksi internasional mulai berlaku dan tanpa perubahan posisi Amerika Serikat, sangat tidak mungkin Korea Utara akan dapat memperoleh bantuan sanksi dan meningkatkan perdagangan dengan dunia luar," kata Profesor Lankov.
Oleh karena itu, Korea Utara berupaya mencari alternatif lain yang mungkin bisa membantu dalam mencapai tujuan itu. Rencana pertemuan dengan Putin bisa menjadi salah satu cara.
Sementara itu, Alexey Muraviev, associate professor di Curtin University di Perth, Australia, menilai bahwa rencana pertemuan Kim dan Putin merupakan cara Korea Utara menunjukkan kepada Amerika Serikat bahwa mereka tidak terisolasi.
"Jika mereka dapat menunjukkan bahwa kekuatan besar masih mendukung mereka, ini akan memberi mereka daya tawar tambahan untuk berbicara dengan Amerika Serikat dan China," jelasnya.
Belum ada konfirmasi resmi soal kapan dan dimana pertemuan antara Kim dan Putin akan dilakukan. Namun spekulasi yang berkembang menyebut bahwa Kim dan Putin akan bertemu di pelabuhan Vladivostok di Rusia timur.