Berita

Seorang wanita melakukan swafoto dengan gambar Volodymyr Zelensky yang menang di pemilu presiden Ukraina putaran kedua/Net

Dunia

Komedia Geser Petahana Di Kursi Presiden, Angin Segar Hubungan Ukraina-Rusia?

SELASA, 23 APRIL 2019 | 09:25 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Kemenangan komedian Volodymyr Zelensky dalam pemilu Ukraina membawa angin segar perbaikan hubungan negara itu dengan Rusia.

Hasil pemilu presiden putaran kedua awal pekan ini menunjukkan bahwa Zelensky mencetak kemenangan besar dengan mengantongi lebih dari 73 persen suara. Sementara pesaingnya, yakni petahana Petro Poroshenko tertinggal jauh di belakang dengan 24 persen suara.

Namun Rusia masih enggan mengucapkan selamat atas terpilihnya Zelensky dalam pemilu Ukraina.


Seorang analis dari think tank Carnegie Moskow, Andrei Kolesnikov menilai bahwa Rusia tidak memiliki strategi untuk masa depan hubungan Rusia-Ukraina karena kemenangan Zelensky benar-benar tidak terduga untuk Rusia.

"Ada beberapa harapan perubahan dalam hubungan Ukraina di Rusia sekarang," kata Kolesnikov seperti dimuat AFP.

Dalam kampanye, Zelensky yang bisa berbahasa Rusia memanfaatkan frustrasi masyarakat Ukraina atas kepemimpinan petahana Petro Poroshenko dan mengkritik beberapa kebijakan anti-Moskow.

Tetapi pada saat yang sama dia mengatakan akan mempertahankan Ukraina pada jalur yang pro-Barat. Sehingga, arah kebijakan Ukraina terhadap Rusia di bawah kepemimpinan Zelensky nanti masih menjadi tanda tanya.

Kolesniko memperikirakan bahwa tindakan ceroboh bisa membuat harapan perbaikan hubungan Rusia-Ukraina pupus.

"Tapi pernyataan ceroboh dari Putin atau Zelensky bisa menghentikan ini," jelasnya.

Sementara itu, analis Alexei Chesnakov, seorang mantan pejabat tinggi di partai mayoritas Rusia Bersatu, mengatakan, hubungan Rusia dan Ukraina akan bergantung pada apakah dan kapan Zelensky akan memicu pemilihan parlemen karena legislatif memiliki keputusan akhir atas banyak kebijakan mengenai Rusia.

Analis lain, Alexei Makarkin dari Pusat Teknologi Politik mengatakan Rusia seharusnya tidak melihat bahasa kampanye Zelensky yang relatif damai sebagai tanda bahwa dia akan merapat ke Rusia.

"Bahwa dia tidak mengirimkan retorika yang keras, agresif dan anti-Rusia seperti Poroshenko hanya masalah citra dan tidak memainkan peran besar," jelasnya.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Suhud Dorong RUU Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Buruh dan Kepastian Usaha

Jumat, 11 September 2026 | 16:25

KPK Panggil 3 Tersangka Baru Kasus Suap Pemerasan Sertifikasi K3 Kemnaker

Jumat, 11 September 2026 | 16:19

Trump Sumpah Bareng Pendukung Republik, Ancam yang Tak Nyoblos Masuk Neraka

Jumat, 11 September 2026 | 16:13

Keluarga Dokter Icha Tuntut Tiga Anggota DPRD TTU Tersangka Intimidasi Dipecat

Jumat, 11 September 2026 | 15:58

DPR: Sebelum Batas Waktu, Tim SAR Maksimalkan Upaya Cari Lima Jurnalis di Selat Sunda

Jumat, 11 September 2026 | 15:46

Aljazair Mendadak Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA

Jumat, 11 September 2026 | 15:44

Bahlil Tegaskan BUK Migas Belum Diputuskan

Jumat, 11 September 2026 | 15:00

Jejak Korupsi Rejang Lebong Merambah ke Bengkulu, Kini Giliran Ketua DPRD Herimanto Diperiksa

Jumat, 11 September 2026 | 14:54

Kemenhaj Rilis Peserta CAT PPIH 2027 Gelombang 2

Jumat, 11 September 2026 | 14:46

Kemenhut Bakal Tindaklanjuti Temuan Lima Bayi Orangutan di India

Jumat, 11 September 2026 | 14:35

Selengkapnya