Berita

Pangkohanudnas Marsda TNI Imran Baidirus bersama Ketua Gerakan Ekayastra Unmada AM Putut Prabantoro/RMOL

Nusantara

Metode Belajar Peta Buta Perlu Diajarkan Lebih Intens

JUMAT, 12 APRIL 2019 | 22:34 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Metode belajar peta buta Indonesia perlu diajarkan kembali dan lebih intens di sekolah, terutama untuk generasi milenial yang tumbuh seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi dan informasi.

Hal itu dirasakan mendesak karena saat generasi milenial memimpin, Indonesia yang begitu luas dan berada dalam posisi strategis menghadapi ancaman besar. Kedaulatan negara dan ketahanan nasional salah satunya terbangun ketika kedaulatan udara terwujud.

Demikian disampaikan Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Pangkohanudnas) Marsda TNI Imran Baidirus ketika menerima kunjungan Ketua Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) AM Putut Prabantoro yang juga alumnus Lemhannas RI-PPSA XXI di Markas Kohanudnas Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis kemarin (11/4).


Imran menjelaskan, ancaman keamanan dan pertahanan di masa depan tidak nampak dan menggunakan wilayah udara sebagai media. Generasi milenial melakukan aktivitas seluruhnya berbasis pada wilayah udara. Karenanya, siapa yang menguasai teknologi informasi dan komunikasi secara hardware ataupun software dialah yang akan menguasai perang di masa depan.

Indonesia sebagai sebuah negara memiliki wilayah yang sangat luas. Dibanding dengan Eropa, jarak diagonal Sabang hingga Merauke sama dengan jarak London ke Ankara. Artinya, luas Indonesia meliputi belasan negara Eropa. Hanya saja, kurikulum pendidikan di sekolah dasar dan sekolah menengah belum cukup memperkenalkan wilayah Indonesia.

"Memperkenalkan Indonesia sebagai wilayah itu bukan untuk nilai rapor tetapi untuk membentuk  generasi baru yang mendiami sebuah wilayah daratan, laut dan udara yang kedaulatannya perlu dipelihara, dipertahankan dan dijaga. Penanaman pemahaman ini tidak bisa instan tetapi perlu bertahun-tahun pendidikan. Oleh karena itu, anak-anak sejak dini harus diperkenalkan dengan Indonesia dengan pendekatan peta buta. Seharusnya lulus sekolah dasar, para siswa sudah memahami peta buta Indonesia. Ini soal sederhana tetapi sangat penting bagi masa depan Indonesia," papar Imran.

Selain itu, siswa generasi milenial atau setelah generasi milenial perlu dipersiapkan secara alamiah untuk mencintai wilayahnya dengan memperkenalkan angkatan pertahanan negaranya. Menurut Imran, bagaimana dunia pendidikan sekolah dasar dan menengah membangun patriotisme melalui cinta akan angkatan pertahanannya.

"Memenangkan perang di masa depan tidak cukup hanya menguasai teknologi dan informasi. Indonesia yang sangat luas ini membutuhkan generasi yang memiliki budaya disiplin, budaya bangga akan negara dan negara, dan juga budaya mimpi dari sebuah generasi baru tentang Indonesia di masa depan. Yang perlu dilakukan oleh kita semua adalah bagaimana mempersiapkan generasi baru termasuk milenial memiliki ketiga mimpi ini," jelas Imran.

Oleh karena itu, Kohanudnas akan memulai suatu program pendidikan rekreasional cinta Indonesia bagi siswa sekolah dasar dan menengah dengan cara sederhana. Rekreasional itu merupakan perpaduan dari kata rekreasi atau pendidikan dengan pendekatan entertain, kreasi atau menciptakan mimpi, serta nasional yang berarti negara dan bangsa.  

"Program ini bertujuan membangun cinta negara dengan cara memperkenalkan angkatan udara kepada para siswa sekolah dasar dan menengah untuk mengerti wilayah udara Indonesia, pertahanan wilayah udara, memperkenalkan alat-alat pertahanan seperti pesawat terbang lalu peta buta dan lain-lain. Anak-anak pasti bangga ketika pakaian pilot dan berfoto dengan pesawat sekalipun replika, sebagai contoh," ujar Imran.

Menumbuhkan semangat patriotisme dan nasionalisme dari generasi baru itulah yang oleh Imran dikatakan merupakan tantangan para pemimpin bangsa saat ini. Bagaimana mengenalkan Indonesia melalui peta buta itulah yang paling mendasar dari semuanya.

"Anak-anak milenial akan mencari sendiri jawabannya untuk memenuhi keinginan tahu mereka," demikian Imran.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Sidang Bluray Cargo Ungkap Kode-kode Suap untuk Kementerian/Lembaga

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:58

Duel Raksasa Eropa Prancis Hadapi Spanyol di Semifinal Piala Dunia 2026

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:37

Adian Napitupulu: Kehadiran Buku Anotasi KUHAP Penting bagi BAM DPR

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:25

Pengacara Bantah Don Ritto Terlibat dalam Megakorupsi Bersama Febrie

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:00

Harga Minyakita Masih di Atas HET, Kemendag Bakal Perketat Distribusi Lewat BUMN

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:45

Revisi UU Zakat, FOZ Dorong Skema Zakat sebagai Pengurang Pajak

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:37

Sinopsis Film Kung Fu Soccer, Comeback Stephen Chow Raup Rp1,3 Triliun dalam Dua Hari

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:33

Menag Ajak Alumni PTKIN Berkontribusi di Pemerintahan Prabowo

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:13

Ade Ginanjar Bela Bahlil: Polemik Batu Bara Jangan Digiring ke Ranah Politik

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:10

Spesifikasi Lengkap Samsung Galaxy A27 5G Indonesia, Segini Harganya

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:09

Selengkapnya