Berita

Capres Prabowo Subianto menyalami Ketum PPP MJ Humphrey Djemat/Net

Politik

Ketum PPP: Kecurangan Sudah Kasat Mata, KPU Jangan Tutup Mata

KAMIS, 11 APRIL 2019 | 20:15 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Dugaan kecurangan dalam proses pemilu di Selangor, Malaysia merupakan hal yang sangat serius. Komisi Pemilihan Umum (KPU) jangan tutup mata dengan masalah tersebut.

Demikian disampaikan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Humphrey Djemat, Kamis (11/4).

"Kecurangan tersebut telah menjadi fakta yang sulit dikesampingkan karena dapat dibuktikan secara kasat mata. Bahkan telah menjadi viral di masyarakat," kata Humphrey.


Menurut Humphrey, masalah itu harus diusut secara tuntas baik dari segi tata cara prosedur yang dilakukan oleh Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) di Malaysia.

"Pengungkapan secara prosedural tersebut harus dilakukan oleh KPU secara transparan dan cepat, sehingga dapat diketahui sebab musabab dugaan kecurangan tersebut dan siapa-siapa saja yang terlibat," katanya.

Selama KPU meneliti kejadian itu, Humprey menyarankan KPU harus menghentikan semua proses Pemilu di Malaysia.

Hal berikutnya, kata Humphrey harus dilakukannya penyelidikan secara hukum oleh pihak Kepolisian RI yang bekerja sama dengan otoritas hukum di Malaysia.

Proses hukum tersebut, tegas Humphrey sangat penting untuk mengetahui siapa dalang pencoblosan surat suara tersebut.

"Dalam hal ini pihak Kepolisian harus bekerja secara profesional dan cepat agar masalahnya menjadi terang benderang," katanya.

Kedua proses itu kata Humphrey, baik melalui KPU dan Kepolisian mutlak harus dilakukan mengingat sudah adanya kecurigaan dari masyarakat mengenai adanya kecurangan dalam berbagai bentuk atau cara dalam Pemilu kali ini.

Masyarakat, kata Humphrey sudah tidak ingin dugaan kecurangan dalam Pemilu di Malaysia tersebut merupakan puncak dari gunung es kecurangan Pemilu yang bersifat masif, terstruktur dan sistematis.

Kecurangan model seperti ini kata Humphrey, hanya bisa dilakukan mereka yang memiliki kekuasaan.

"Ingat, power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely (kekuasaan cenderung untuk disalahgunakan dan kekuasaan mutlak pasti dipersalahgunakan). Semoga ini tidak terjadi di negeri tercinta kita ini. Kalau sampai terjadi, kiamat bagi demokrasi di Indonesia," tutupnya.


Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

UPDATE

Pentagon Ungkap Biaya Perang Iran: 6 Hari Tembus Rp190 Triliun

Kamis, 12 Maret 2026 | 08:11

Pasar 1001 Malam: Strategi Kemenko PM Berdayakan UMKM dan Bantu Penyintas Bencana

Kamis, 12 Maret 2026 | 07:58

Harga Emas Dunia Turun Tertekan Sentimen Suku Bunga

Kamis, 12 Maret 2026 | 07:47

Dukung PP TUNAS, Kemenag Siapkan Kurikulum Etika Digital dan Santri Mahir AI

Kamis, 12 Maret 2026 | 07:23

Pasar Eropa Terkoreksi, Saham Rheinmetall Anjlok 8 Persen

Kamis, 12 Maret 2026 | 07:14

IEA Sepakat Lepas 400 Juta Barel Cadangan Minyak

Kamis, 12 Maret 2026 | 07:01

Hari Ini Yaqut Cholil Dipanggil KPK sebagai Tersangka

Kamis, 12 Maret 2026 | 06:49

Rampai Nusantara Ajak Publik Optimistis di Tengah Dinamika Global

Kamis, 12 Maret 2026 | 06:42

Amr bin Ash Pembuka Gerbang Benua Afrika

Kamis, 12 Maret 2026 | 06:00

Kader Gerindra Ujung Tombak Mendukung Program Prabowo

Kamis, 12 Maret 2026 | 05:52

Selengkapnya