Berita

Foto/Net

Bisnis

Bawang Putih Rp 50 Ribu Memang Belum Genting?

Mendag Bilang Impor Cuma Kondisi Darurat
RABU, 10 APRIL 2019 | 10:24 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita kembali menegaskan tidak akan melakukan impor bawang putih. Baginya impor hanya dilakukan jika dalam kondisi darurat saja. Apakah harga komoditas itu sudah menembus Rp 50.000 per kilogram (kg) belum genting?

 Penegasan Enggar tersebut di sampaikan di Sukabumi, Jawa Barat, kemarin. Enggar bilang, impor hanya dilakukan bila dalam kondisi darurat.

"Kita lihat apakah sekarang dalam kondisi emergency (daru­rat). Kemarin, ada masukan dari KPPU, Ombudsman, kelompok tani, semua kita perhatikan," ungkap Enggar.


Enggar menerangkan, izin impor akan dikeluarkan kepada Perum Bulog jika stok bawang putih di dalam negeri benar-benar menipis. Bisa juga bila perusahaan-perusahaan importir tidak memasukkan bawang putih dari luar negeri.

Enggar memastikan keterse­diaan bawang putih di gudang-gudang importir, sisa impor tahun lalu, masih cukup untuk memenuhi kebutuhan beberapa waktu ke depan. Dengan kata lain, belum terjadi situasi men­desak.

"Semua yang di gudang sudah kita periksa. Tidak banyak, tapi cukup. Itu yang kita suruh ke­luarkan. Kalau tidak, nanti bisa dibilang menimbun. Kalau mesti disegel, kita segel betulan," tegasnya.

Bagaimana dengan rekomen­dasi impor bawang putih dari Kementerian Pertanian (Ke­mentan)? Enggar menjawab diplomatis. Pihaknya pasti akan memberikan izin untuk importir yang sudah kantongi Rekomen­dasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) dan melakukan penana­man 5 persen dari total rekomen­dasi impor.

"Kita akan beri izin. Tapi kita lagi cek, kenapa RIPH-nya ter­lambat," ujarnya.

Seperti diketahui, kegiatan impor bawang putih menuai kontroversi. Berdasarkan Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) dipimpin Menteri Koodinator Perekonomian Darmin Nasu­tion Senin, (18/03), pemerintah menunjuk Perum Bulog melaku­kan impor karena bawang putih dinilai langka dan harganya tinggi. Tetapi dalam prosesnya tidak mulus. Banyak kalangan protes dengan penunjukan Bu­log. Perusahaan pelat merah tersebut dinilai tidak berhak melakukan impor karena tidak melakukan penanaman bawang putih di dalam negeri seperti importir lainnya.

Berdasarkan Peraturan Men­teri Pertanian (Permentan) No­mor 38 Tahun 2017 Tentang Re­komendasi Impor Produk Hol­tikultura, importir diwajibkan untuk melakukan penanaman bawang putih sebesar 5 persen dari total kuota impor.

Untuk memenuhi kebutu­han bawang putih, Kementan akhirnya mengeluarkan reko­mendasi, tetapi tidak menunjuk Bulog tetapi enam perusahaan importir. Namun demikian, kini izin impor belum diterbitkan.

Harga bawang putih sampai saat ini masih tinggi. Harga berkisar Rp 38 ribu sampai Rp 50 ribu per kilogram (kg). Pada­hal, harga normalnya hanya Rp 25 ribu per kg. Tingginya harga bawang putih dinilai banyak kalangan karena minimnya pasokan. Dengan harga setinggi itu apakah impor belum darurat?

Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri mengungkapkan, dari sisi harga sudah darurat. Karena, harga bawang putih tinggi.

"Menjelang puasa permintaan akan naik. Sekarang per­mintaan masih dalam kondisi normal, harganya sudah tinggi," ungkap Mansuri kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Mansuri ragu dengan klaim stok bawang putih masih banyak. Karena, kalau pasokan cukup se­mestinya harga turun.

Soal kebijakan impor, menu­rut Mansuri, sebenarnya tidak perlu memperdebatkan perlu atau tidak kebijakan itu diambil. Karena, pemenuhan bawang putih 90 persen berasal dari impor. Jadi untuk memenuhi ke­butuhan sudah pasti harus impor. "Pertanyaan yang tidak ada opsi pilihan jawabannya. Ya memang harus impor," cetusnya.

Jika memang stok banyak, Mansuri berharap, bawang putih digelotorkan ke pasar. Karena, operasi pasar yang belakangan ini dilakukan pemerintah tidak mampu meredam tingginya harga.

Ekonom Institute for Develop­ment of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira me­wanti-wanti, tingginya harga bawang putih bisa mengerek laju inflasi bulan April. Apalagi, ada potensi permintaan meningkat menjelang bulan Ramadan.

"Kalau pasokan tidak cukup, apalagi menjelang Ramadan, maka sumbangan inflasinya akan meningkat," ujar Bhima.

Bima menambahkan, bawang putih menjadi salah satu ko­moditas yang memberikan sum­bangan kepada inflasi. Berdasar­kan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Maret bawang putih sudah memberikan sum­bangan pada inflasi sebesar 0,04 persen.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Jokowi Intervensi Prabowo soal Kabinet Jelang Pelantikan Presiden

Jumat, 03 Juli 2026 | 06:13

Sehina-hinanya, Serendah-rendahnya

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:48

Rezim Baru dan Kelahiran Organisasi Pemuda Paramiliter

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:41

Satu Polisi Tewas Dibacok saat Gerebek Bandar Sabu di Katingan

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:18

Jokowi Kecewa Berat Roy Suryo-Dokter Tifa Tak Ditahan

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:15

Jokowi Tidak Rela Kehilangan Kekuasaan

Jumat, 03 Juli 2026 | 04:26

Spanyol Lolos ke 16 Besar setelah Gasak Austria 3-0

Jumat, 03 Juli 2026 | 04:12

Raja Juli Antoni Dituntut Terbuka soal Kasus Bupati Kuansing

Jumat, 03 Juli 2026 | 04:03

Flyover Latumenten Bisa Kurangi Kemacetan 40 Persen

Jumat, 03 Juli 2026 | 03:30

Sangat Aneh Kejaksaan Belum Periksa Jokowi

Jumat, 03 Juli 2026 | 03:17

Selengkapnya