Berita

Foto/Net

Bisnis

Mentan-Mendag Tempur Lagi?

Soal Bawang Putih
SELASA, 09 APRIL 2019 | 09:34 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Suasana ego sektoral antara Kementerian Pertanian (Kementan) dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag) di balik kisruh kebijakan impor bawang putih sulit ditampikan. Mentan dan Mendag "perang" lagi?

 Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mem­batalkan secara tiba-tiba rencana impor bawang putih. Padahal surat rekomendasi impor produk hortikultura yang selama ini ditunggu-tunggu sudah diter­bitkan Kementan.

"Belum ada rencana untuk impor bawang. Stok kita masih banyak. Saya juga sudah meminta kepada para importir membuka gudangnya untuk mengeluarkan stoka. Jadi saat ini bukan dalam kondisi emergency," ungkap Enggar di Karawang, Minggu sore (7/4).


Enggar menuturkan, pihaknya tidak mau impor bawang putih mengikuti keputusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Ombudsman, dan Ke­mentan.

"Saya ikuti betul Menteri Pertanian. Kasihan petani yang sudah menanam itu. KPPU dan Ombudsman juga menyampai­kan itu," ungkapnya.

Rencana impor bawang putih merupakan keputusan Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) dipimpin Menteri Koodinator Perekonomian Darmin Nasution pada Senin (18/03).

Keputusan itu diambil mem­pertimbangkan kelangkaan dan tingginya harga bawang putih. Rakortas menunjuk Pe­rum Bulog sebagai pelaksana impornya dengan kuota sebanyak 100.000 ton. Penunju­kan Bulog diprotes banyak ka­langan antara lain oleh KPPU. Kebijakan itu dinilai tidak adil karena perusahaan pelat merah tersebut tidak melakukan pe­nanaman bawang putih seperti importir lainnya.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian (Permen­tan) Nomor 38 Tahun 2017 Tentang Rekomendasi Impor Produk Holtikultura, importir diwajibkan untuk melakukan penanaman bawang putih sebe­sar 5 persen dari total kuota impor.

Untuk memenuhi kebutu­han bawang putih, Kementan akhirnya mengeluarkan rekomendasi dengan menunjuk enam perusahaan importir. Namun, rekomendasi yang diberikan dengan jumlah kuota lebih sedikit dari keputusan Rakor­tas. Impor bawang putih mencapai 100.000 ton terlalu banyak sehingga dikhawatirkan bisa mengganggu upaya Kementan untuk mengembangkan perta­nian bawang putih.

Pengamat kebijakan publik Trubus Rahardiansyah menilai, kisruh impor bawang putih cer­min buruknya koordinasi antara kementerian.

"Keputusan Enggar kontra produktif dengan Kementerian Pertanian yang sudah keluarkan rekomendasi impor. Juga kepu­tusan rakortas. Saat ini harga di pasar juga sudah tinggi," ungkap Trubus.

Trubus mendorong Menko Perekonomian Darmin Nasution untuk berperan lebih optimal. Kemenko Perekonomian harus bisa mensinergikan Kementan dan Kemendag.

Jika memang tidak jadi impor, Trubus meminta, Kemendag harus bisa membuktikan kalau stok bawang putih memang mencukupi. Tingginya harga bawang putih harus bisa segera diturunkan.

Seperti diketahui, Kementan dan Kemendag kerap terlibat perseteruan tentang kebijakan impor. Selain impor bawang putih, Kementan dan Kemendag tidak kompak saat mengambil kebijakan impor beras tahun lalu. Dua Kementerian tersebut seperti saling serang di dalam menyampaikan keterangan ke publik mengenai data pangan.

Naik Rp 1.000

Pengamat pangan dari Insti­tut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Sentosa tidak yakin stok bawang putih masih banyak di dalam negeri.

"Kalau saya amati, bawang putih terus bergerak, naik Rp 1.000 rupiah tiap minggu-nya. Itu menunjukkan kelangkaan stok," ungkap Dwi.

Dwi meminta, pemerintah segera mengguyur bawang putih ke pasar untuk menekan harga. Jika tidak harganya akan terus meningkat.

Menurut Dwi, seharusnya Kemendag tidak perlu menahan impor bawang putih. Karena pemenuhan komoditas itu se­lama ini sebagian besar memang berasal dari impor. "Yang dibu­tuhkan sekarang pengelolaan impor, bukan menahan impor. Jangan sampai harga terus naik," ungkapnya.  

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Jokowi Intervensi Prabowo soal Kabinet Jelang Pelantikan Presiden

Jumat, 03 Juli 2026 | 06:13

Sehina-hinanya, Serendah-rendahnya

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:48

Rezim Baru dan Kelahiran Organisasi Pemuda Paramiliter

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:41

Satu Polisi Tewas Dibacok saat Gerebek Bandar Sabu di Katingan

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:18

Jokowi Kecewa Berat Roy Suryo-Dokter Tifa Tak Ditahan

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:15

Jokowi Tidak Rela Kehilangan Kekuasaan

Jumat, 03 Juli 2026 | 04:26

Spanyol Lolos ke 16 Besar setelah Gasak Austria 3-0

Jumat, 03 Juli 2026 | 04:12

Raja Juli Antoni Dituntut Terbuka soal Kasus Bupati Kuansing

Jumat, 03 Juli 2026 | 04:03

Flyover Latumenten Bisa Kurangi Kemacetan 40 Persen

Jumat, 03 Juli 2026 | 03:30

Sangat Aneh Kejaksaan Belum Periksa Jokowi

Jumat, 03 Juli 2026 | 03:17

Selengkapnya