Berita

Presiden Joko Widodo dan Presiden Xi Jinping/Net

Dunia

Akhirnya, China Juga Jadi Masalah Dalam Pilpres Di Indonesia

SABTU, 06 APRIL 2019 | 13:02 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Ambisi Republik Rakyat China (RRC) mendominasi perekonomian kawasan bahkan dunia dengan gagasan One Belt One Road (OBOR) atau Belt and Road Initiative (BRI) akhirnya menjadi persoalan tersendiri dalam kontestasi politik di banyak negara Asia, termasuk di Indonesia.

Pengamat politik Asia Timur yang juga wartawan CNN James Griffiths dalam kolomnya kemarin (Jumat, 5/4) menguraikan sejumlah fakta yang memperlihatkan betapa sikap “anti-RRC” tengah menjadi trend yang berkembang di banyak negara Asia.

Dalam pemilihan umum di Malaysia tahun lalu misalnya, kubu Mahathir Mohamad mendapat keuntungan yang signifikan dari rasa muak yang berkembang luas di tengah masyarakat terhadap infiltrasi ekonomi China di negara itu.


Juga di tahun lalu di Maladewa, Abdullah Yameen mengalami kekalahan karena kedekatannya dengan Beijing dikecam rakyat. Partai Demokrat Maladewa yang berhasil memenangkan pemilihan umum berjanji akan mengakhiri apa yang mereka sebut sebagai kolonialisasi China.

Hal yang serupa juga terjadi di Myanmar. Pemerintah Myanmar kini bertekad untuk merevisi komitmen mereka pada proyek-proyek BRI.

Di Indonesia fenomena serupa pun terjadi. Menurut Griffiths, menjelang pilpres di Indonesia kubu petahana Joko Widodo berusaha membangun citra bahwa Jokowi tidak memiliki hubungan spesial dengan China.

Padahal, dalam Forum Kerjasama Internasional Belt and Road yang diselenggarakan di Beijing dua tahun lalu, Jokowi menjadi tamu istimewa. Dalam sesi foto bersama, Jokowi berdiri persis di sisi kiri Presiden Xi Jinping. Belum lagi, sejumlah proyek di Indonesia diberikan kepada China. Proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung bahkan sempat menjadi drama karena terkesan secara tiba-tiba dan mendadak diberikan kepada China.

Presiden Xi Jinping pun menjadi tamu yang mendapat tempat terhormat berjalan bersisian dengan Jokowi dalam peringatan Konferensi Asia Afrika tahun 2015 lalu.

Menurut dosen politik Asia Timur di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Teguh Santosa, kegelisahan, sikap hati-hati bahkan keinginan untuk mengevaluasi kerjasama dengan China yang berkembang di banyak negara di kawasan sungguh dapat dipahami.

“Tadinya banyak negara yang melihat China sebagai sumber alternatif pembiayaan berbagai proyek pembangunan di dalam negeri. Namun belakangan, mulai disadari agresivitas China bisa membuat negara yang terjerat pada bantuan China kehilangan kendali atas kedaulatan negara dan kehilangan wilayah,” ujar Teguh.

Bagi Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dan berdampingan dengan wilayah perairan yang hendak direbut China, kerjasama dengan China ini bisa menjadi bumerang mematikan.

“Bayangkan apabila China mendapatkan hak untuk mengelola titik-titik strategis yang kita punya seperti di sekitar ALKI 1, ALKI 2 dan ALKI 3, seperti mereka menguasai sebuah pulau atol kecil di Laut China Selatan yang telah mereka ubah menjadi pangkalan militer,” kata Teguh lagi.

ALKI atau Alur Laut Kepulauan Indonesia adalah lintasan di perairan nasional Indonesia yang dapat digunakan oleh kapal-kapal asing.

Teguh berharap pemerintah Indonesia baik yang kini berkuasa ataupun yang akan dihasilkan dari pimpres 17 April mendatang dapat memikirkan ulang format kerjasama dengan China tanpa membahayakan kedaulatan negara.

“Ini bukan soal pesimisme. Ini soal kehati-hatian. Setiap negara pasti memikirkan hal ini bila ingin menjaga kedaulatannya,” kata Teguh lagi.

Dia mengingatkan protes keras China ketika pemerintah Indonesia memberikan nama baru untuk perairan di utara Pulau Natuna dua tahun lalu.

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

UPDATE

Pentagon Ungkap Biaya Perang Iran: 6 Hari Tembus Rp190 Triliun

Kamis, 12 Maret 2026 | 08:11

Pasar 1001 Malam: Strategi Kemenko PM Berdayakan UMKM dan Bantu Penyintas Bencana

Kamis, 12 Maret 2026 | 07:58

Harga Emas Dunia Turun Tertekan Sentimen Suku Bunga

Kamis, 12 Maret 2026 | 07:47

Dukung PP TUNAS, Kemenag Siapkan Kurikulum Etika Digital dan Santri Mahir AI

Kamis, 12 Maret 2026 | 07:23

Pasar Eropa Terkoreksi, Saham Rheinmetall Anjlok 8 Persen

Kamis, 12 Maret 2026 | 07:14

IEA Sepakat Lepas 400 Juta Barel Cadangan Minyak

Kamis, 12 Maret 2026 | 07:01

Hari Ini Yaqut Cholil Dipanggil KPK sebagai Tersangka

Kamis, 12 Maret 2026 | 06:49

Rampai Nusantara Ajak Publik Optimistis di Tengah Dinamika Global

Kamis, 12 Maret 2026 | 06:42

Amr bin Ash Pembuka Gerbang Benua Afrika

Kamis, 12 Maret 2026 | 06:00

Kader Gerindra Ujung Tombak Mendukung Program Prabowo

Kamis, 12 Maret 2026 | 05:52

Selengkapnya