Berita

Senior Institute for Development for Economics and Finance (INDEF) Faisal Basri/RMOL

Politik

Menlu Retno Diminta Atasi Diskriminasi CPO, Faisal Basri: Kalau Luhut Bikin Panas Terus

JUMAT, 29 MARET 2019 | 02:48 WIB | LAPORAN:

Diskriminasi produk komoditas perkebunan kelapa sawit (Crued Palm Oil/CPO) yang dilakukan Uni Eropa kepada Indonesia harusnya menjadi bahan instropeksi pemerintah.

Hal itu disampaikan ekonom senior Institute for Development for Economics and Finance (INDEF) Faisal Basri usai melakukan diskusi publik politik pembangunan infrastruktur di Batik Kuring, SCBD, Jakarta, Kamis (28/3)

"Sebelum ke sini, saya diskusi dengan Pak Laode KPK (Wakil Ketua KPK). Kasarnya gini 'ngaca dulu'. Kenapa UE memboikot sawit kita? Karena banyak lahan tumpang tindih sawit, termasuk ratusan ribu hektare yang harusnya hutan. Jadi isunya lingkungan, ngaca dulu, emosional nih," kata Faisal Basri.


Jika memang diskriminasi CPO sudah pada puncaknya, kata Faisal, sebaiknya diserahkan kepada Menteri Luar Negerti Retno Marsudi atau difokuskan kepada bagian hubungan diplomasi.

"Kalau udah begitu, serahkan ke Ibu Menlu karena sudah negosiasi antarnegara. Ini bukan sekadar urusan sawit, urusan diplomasi secara keseluruhan," jelasnya.

Hal itu justru dianggap berbeda dengan Menko Maritim, Luhut Binsar. Selama ini, ia menilai jika diplomasi yang dilakukan Luhut selalu menggunakan cara emosional.

"Kalau yang diplomasi Luhut, panas terus. Kalau Ibu Retno kan sejuk, perempuan, santun. Semua terukur, semua terhitung," lanjutnya.

"Tiap ucapan itu membawa implikasi pada chemistry negosiasi. Kita lihat tuduhan-tuduhan UE itu benar tidak? Kalau tuduhan itu tidak benar, bawa ke WTO gitu. Jadi apa gunanya ngancam-ngancam?" kritiknya.

Ia berpendapat, penyelesaian diskriminasi CPO Indonesia oleh UE dilakukan melalui satu pintu, yakni Kementerian Luar Negeri.

"Jangan Darmin (Menko Perekonomian) ngomong, Luhut ngomong, pusing. Menlu dia (Retno Marsudi) ini udah ranah diplomasi. Kalau diplomasi masalah satu, masalah lain terkait. Hubungan baik," tandasnya.

Sebelumya, Luhut sempat akan melaporkan tindakan diskriminasi UE kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) jika memang rancangan kebijakan Delegated Regulation Supplementing Directive of The EU Renewable Energy Direcyive II yang dibuat oleh Komisi Eropa pada 13 Maret 2019 disetujui oleh parlemen UE.

"Kita nanti akan bawa ke WTO, tapi perlu diketahui kita enggak akan pernah goyang mengenai itu," tegas Luhut beberapa waktu lalu.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

UPDATE

Austria Tolak Wilayah Udaranya Dipakai AS untuk Serang Iran

Jumat, 03 April 2026 | 00:15

Memutus Mata Rantai Rabun Jauh Birokrasi

Kamis, 02 April 2026 | 23:50

PHE Tampilkan Inovasi Hulu Migas di Ajang Offshore Internasional

Kamis, 02 April 2026 | 23:21

Spirit ‘Kurban’ Prajurit UNIFIL

Kamis, 02 April 2026 | 22:57

Pencarian Berakhir Duka, Achmad Ragil Ditemukan Meninggal di Sungai Way Abung

Kamis, 02 April 2026 | 22:39

Robert Priantono Dicecar KPK soal Pungutan Tambang Kukar

Kamis, 02 April 2026 | 22:01

China Ajak Dunia Bersatu Dukung Inisiatif Perdamaian di Wilayah Teluk

Kamis, 02 April 2026 | 21:42

DPR: BPS Bukan Sekadar Pengumpul Data, tapi Penentu Arah Pembangunan

Kamis, 02 April 2026 | 21:31

78 Pejabat Pemkot Surabaya Dirotasi, Ada Apa?

Kamis, 02 April 2026 | 21:18

OJK Siap Luncurkan ETF Emas Akhir April 2026

Kamis, 02 April 2026 | 21:08

Selengkapnya