Berita

Romahumuziy, Lukman Hakim Saifuddin, dan Suharso Manoarfa/Net

Publika

Kasus OTT Romi: Menanti Jumat Keramat Menteri Agama

JUMAT, 22 MARET 2019 | 08:41 WIB

HARI Jumat (22/3) ini akan menjadi hari yang panjang bagi Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Setelah Ketua Umum PPP Romahurmuziy (Romi) ditangkap KPK, Lukman terus menghitung hari.

KPK sudah menggeledah ruang kerjanya dan menemukan uang ratusan juta dalam mata uang dolar dan rupiah.

KPK belum menjelaskan uang apa itu. Tapi melihat langkah KPK menyita uang tersebut, diduga ada kaitannya dengan suap jual beli jabatan yang dilakukan Romi. Selain uang tersebut, di ruang kerja Lukman, KPK juga menemukan uang honorer menteri, tapi tak disita.


Jumat pekan lalu (15/3) KPK menangkap tangan Romi di Surabaya. Dia menerima suap dalam bisnis haram  jual beli jabatan di Kementerian Agama. Dari Kakanwil Depag Jatim Romi menerima suap Rp 250 juta. Dari Kepala Kantor Depag Kabupaten Gresik menerima Rp 50 juta.

Dari penyelidikan KPK Romi sudah beberapa kali menerima suap dari para pemburu jabatan di Depag. Jabatan yang diperjualbelikan meliputi Kakanwil di level provinsi, Kakandep di level kota/kabupaten, jabatan rektor perguruan tinggi di bawah Depag, dan jabatan di kantor pusat.

Bagi para pesakitan yang berurusan dengan KPK, Jumat biasanya menjadi hari keramat. KPK sangat sering menetapkan seseorang menjadi tersangka pada hari Jumat.

Melihat alur cerita kasus Romi, dan penemuan uang ratusan juta di kantornya,  sangat sulit bagi Menag Lukman Hakim untuk mengelak. Romi terlibat dalam jual beli jabatan yang menjadi kewenangan Menag.

Sebagai orang luar bagaimana mungkin Romi bisa leluasa mengatur jabatan di lingkungan Depag? Pasti  ada campur tangan dan melibatkan  pejabat yang berwenang. Apalagi Menag adalah anggota parpol yang dipimpin Romi. Secara organisasi Lukman adalah anak buah Romi di PPP. Dia punya pengaruh besar atas Lukman.

Hari Jumat ini para pimpinan media sudah memerintahkan para reporternya untuk bersiap-siap di KPK. Sejumlah stasiun televisi juga sudah menyiapkan siaran langsung. Mereka menanti berita besar yang layak BREAKING NEWS!

Soal penetapan Lukman ini menjadi spekulasi yang paling hangat diperbincangkan. Beberapa penjudi menjadikan momen ini sebagai obyek pertaruhan.

Kasus ini mengingatkan kita pada Surya Darma Ali yang digantikan Lukman. Menteri pada Kabinet Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu juga terbelit korupsi. Dia mengundurkan diri segera setelah ditetapkan KPK sebagai tersangka.

Surya Darma ditetapkan sebagai tersangka pada hari Kamis (22/5/2014), sehari sebelum Jumat keramat.  Dia mundur hanya kurang dari dua bulan sebelum pelaksanaan pilpres pada 9 Juli 2014.

Jika hari ini KPK menetapkan Lukman sebagai tersangka, kasusnya akan menjadi sebuah pengulangan. Hari ini tepat 25 hari sebelum Pilpres 2019.

Yang agak berbeda saat itu SBY akan mengakhiri masa jabatan kedua. Tak ada kepentingan politik yang harus diperhitungkan. Sementara bagi Jokowi saat ini merupakan masa-masa kritis.

Dalam satu pekan terakhir Jokowi sedang mengalami pukulan berganda. Selain penangkapan Romi, publikasi hasil survei Litbang Kompas membuatnya goyah. Penetapan Lukman sebagai tersangka, akan menjadi hattrick 0-3 bagi Jokowi.

Bisa dipastikan saat ini terjadi tarik menarik kepentingan yang alot di belakang layar. Negosiasi politik tingkat tinggi sedang berlangsung. Jokowi sangat berkepentingan agar Lukman jangan sampai menjadi tersangka.

Lukman seperti sedang menghitung bunyi tokek. Tersangka….tidak……Tersangka….tidak.

DEJAVU Pak Menteri.


Andang Burhanuddin
Pemerhati Kebijakan Publik

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

UPDATE

Komisi I DPR: Kisruh Rating IGRS di Steam Picu Kegaduhan

Rabu, 08 April 2026 | 19:50

JK Jangan jadi Martir Pemecah Belah Bangsa

Rabu, 08 April 2026 | 19:41

Narasi Pesimis di Tengah Gejolak Global Ganggu Stabilitas Nasional

Rabu, 08 April 2026 | 19:19

Ulama Dukung Wacana BNN Larang Vape

Rabu, 08 April 2026 | 19:18

KAMMI: Kerusakan Lingkungan Tidak Bisa Selesai di Ruang Diskusi

Rabu, 08 April 2026 | 19:05

WFH Momentum Perkuat Layanan Digital

Rabu, 08 April 2026 | 19:02

Motor Listrik Operasional SPPG Sudah Direncanakan Sejak 2025

Rabu, 08 April 2026 | 19:00

Harus Melayani, Kader PKB Jangan jadi Tamu 5 Tahunan

Rabu, 08 April 2026 | 18:51

JK Minta Jokowi Tunjukkan Ijazah Asli Buat Akhiri Polemik

Rabu, 08 April 2026 | 18:44

7 Menu Warteg Paling Dicari Orang Indonesia

Rabu, 08 April 2026 | 18:42

Selengkapnya