Masih tersisa 40 hari lagi sebelum pencoblosan Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) pada 17 April 2019.
Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jakarta mengamati siaran televisi seputar Pilpres cukup signifikan dari seluruh durasi pemberitaan baik talkshow maupun dialog.
“Jumlah siaran Pilpres dapat mencapai 80 persen dari total pemberitaan politik. Jauh lebih besar dibanding jumlah pemberitaan Pileg. Dari 19 TV lokal dan berjaringan nasional serta radio yang di pantau KPID DKI Jakarta, siarannya masih dominan siaran-siaran seputar Pilpres,†Wakil Ketua KPID DKI Jakarta, Rizky Wahyuni dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (1/3).
Namun untuk televisi lokal dan radio, lanjut pengawas isi siaran ini, KPID belum banyak dapat mengidentifikasi siaran-siaran Pemilu apalagi seputar Pileg. Padahal informasi tentang Pileg ini menurut Rizky, penting juga untuk disampaikan agar masyarakat mengetahui proses, profil dan program calon.
"Justru informasi tentang pileg harusnya lebih banyak karena besarnya jumlah caleg yang berkontestasi, rumitnya cara pemilihan dan informasi lain yang dibutuhkan. Informasinya harus lokalistik, karena pemilihan berbasis daerah pemilihan, misal penduduk Jakarta butuh informasi siapa saja caleg yang mewakili wilayahnya, bagaimana track record dan program-programnya. Itu perlu disiarkan bukan hanya informasi seputar capres dan cawapres saja," tegas Rizky yang pernah aktif menjabat direktur Bakornas LAPMI PB HMI.
Ia mengakui untuk TV lokal dan radio memiliki segmentasi tertentu dalam menyuguhkan siaran. Hanya saja, Rizky mengingatkan bahwa Pemilu serentak 2019 ini momentum pesta demokrasi dan ajang melakukan pendidikan politik kepada masyarakat. Tim sukses yang pasti diuntungkan dominannya siaran Pilpres.
"Pemilu kurang dari 45 hari lagi. Ini momentum kita bersama untuk melakukan pendidikan politik, mengajak masyarakat menjadi pemilih cerdas. Melalui informasi-informasi kepemiluan yang berkualitas yang disiarkan oleh seluruh lembaga penyiaran. Tinggal disesuaikan saja segmentasi dari masing-masing LP bersangkutan. Tidak perlu memaksakan mengubah segmentasi pemirsa," imbaunya.
Apalagi menurut Rizky, saat ini penonton TV dan pendengar radio jumlahnya masih cukup signifikan. Meski platformnya saja yang bervariasi. TV dan radio tidak semata ditonton secara konvensional tapi dapat diakses melaljui streaming online atau rekaman yang diunduh di sosial media.
"Jadi masih sangat efektif memberikan informasi melalui siaran TV dan radio. Informasi terkait penyelenggaraan Pemilu 2019 akan lebih cepat diterima jika disiarkan masif di media. Terutama mengajak masyarakat pemilih menjadi bijak dan cerdas dalam menentukan pilihan politiknya," ujar dia.
***