Berita

Wiranto/Net

Politik

Sumpah Pocong Bentuk Keberanian Wiranto Ungkap Peristiwa 1998

JUMAT, 01 MARET 2019 | 02:38 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Tantangan sumpah pocong yang disampaikan Menkopolhukam Jenderal (purn) TNI Wiranto merupakan bentuk keberanian untuk mengungkap peristiwa 1998 secara terang benderang.

Begitu kata Aktivis ’98 yang juga anggota Komite Aliansi Demokrasi Rakyat (Aldera), Taufan Hunneman menanggapi tantangan Wiranto kepada mantan Danjen Kopassus yang juga calon presiden Prabowo Subianto dan mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) Mayor Jenderal (Purn) Kivlan Zen.

Taufan menjelaskan bahwa sumpah pocong merupakan tradisi dan norma-norma yang berlaku secara adat istiadat di negeri ini.


“Biasanya dilakukan untuk memutuskan perkara atau fitnah yang dilontarkan oleh seseorang, karena perkara itu biasanya minim pembuktian sehingga dengan sumpah pocong diharapkan akan ada kebenaran hakiki. Jika tidak, maka akan mendapat laknat Tuhan,” urainya dalam keterangan tertulis yang diterima, Kamis (28/2).

Taufan mengatakan bahwa situasi yang terjadi saat 1998 merupakan skenario besar yang didalangi oleh satu aktor intelektual, yang ingin meraih keuntungan politik.

“Atau dengan kata lain ada petinggi militer yang ingin mengambil keuntungan politik untuk kepentingan meraih kekuasaan,” jelasnya.

Skenario itu, lanjut Taufan, juga bisa menyasar Wiranto yang saat menjabat Panglima ABRI. Pasalnya, jika Wiranto dicopot maka secara bertahap pemusatan kekuatan terjadi dan langkah meraih kekuasaan semakin dekat.

“Selalu terjadi upaya pengambilalihan dengan skenario memojokan orang kuat dan menyingkirkan orang kuat di tubuh militer, dalam hal ini panglima ABRI yang saat itu dijabat oleh Jenderal Wiranto”, ungkap Taufan.

Terakhir, Taufan menilai sumpah pocong dan sumpah prajurit bukan merupakan hal yang liner bisa diperdebatkan. Sebab dimensi keduanya berbeda.

“Sumpah prajurit yang lebih menekankan pada kesetiaan kepada bentuk negara, ideologi dan konstitusi,” tekannya. ***

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Bos Exxon Prediksi Harga Minyak Bakal Lebih Meledak

Sabtu, 02 Mei 2026 | 14:21

SSMS Bagikan Dividen Rp800 Miliar dari Laba 2025

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:51

Postidar Kecam Video Diduga Pernyataan Amien Rais soal Sekkab Teddy

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:18

Bank Dunia Proyeksikan Harga Emas dan Perak Turun pada 2027

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:00

Hardiknas 2026, Komisi X DPR Ingin Pendidikan Berkualitas Merata ke Pelosok

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:37

Polda Metro Pulangkan 101 Orang yang Diamankan Saat May Day

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:30

China Minta PBB Tinjau Ulang Rencana Penarikan Pasukan UNIFIL dari Lebanon

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:21

Ratusan Demonstran Ditangkap dalam Aksi Hari Buruh di Turki

Sabtu, 02 Mei 2026 | 11:17

Komisi III DPR: Pemberantasan Narkoba Tak Boleh Kendor!

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:59

Yen Bergolak: Intervensi Jepang Paksa Dolar AS Rasakan Kerugian Mingguan Terburuk

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:41

Selengkapnya