Berita

Fahri Hamzah/Net

Politik

Jokowi Bisa Tumbang Karena Membiarkan Hukum Jadi Pintu Masuk Permusuhan

KAMIS, 28 FEBRUARI 2019 | 05:33 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Rezim Joko Widodo bisa tumbang karena menebar rasa takut dan membiarkan hukum menjadi pintu masuk bagi permusuhan sesama anak bangsa.

Begitu tegas Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah dalam akun Twitteri pribadinya, Kamis (28/2).

“Aparat dibiarkan bekerja sesuai pesanan politik, langsung atau tidak. Tidak pernah kita melihat intervensi kepada hukum sesempurna sekarang,” tegasnya.


Masyarakat Indonesia, kata Fahri, harus mengakui bahwa era Jokowi dimulai dengan kegamangan dalam mengidentifikasi persoalan di bidang hukum.

“Ditambah dengan kapasitas kepemimpinan di bidang hukum yang lemah, maka lahirlah kekacauan sistematika dalam membangun negara hukum seperti amanah UUD 45,” sambungnya.

Tidak sedikit lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang telah membuat catatan buruh tentang penegakan hukum era Jokowi. Seperti catatan ICJR (Institute for Criminal Justice Reform) dan ICW (Indonesia Corruption Watch) yang melihat  ahli hukum berkelas mulai absen dari sekitar Istana.

“Ekspektasi besar publik kepada rezim Jokowi pupus oleh tiadanya prestasi di bidang hukum. Maka dari soal tertundanya legislasi penting bidang hukum (KUHP dan KUHAP) akibat tekan menekan kepentingan politik, DPR akhirnya mandeg setelah parpol mayoritas tunduk pada mau Istana,” kata Fahri.

Bidang hukum adalah roh sebuah pemerintahan dan negara. Hukum tidak bisa diganti dengan pembangunan fisik. Sebab, jika hukum tidak tegak, maka negara kehilangan jiwa dan mati.

“Inilah yang tidak dimengerti oleh rezim Jokowi sejak awal. Sehingga rakyat merasakan gamang,” pungkasnya.***

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya