Berita

Politik

Cuci Tangan Surya Paloh Dan Sekjennya Justru Rugikan Nasdem

RABU, 13 FEBRUARI 2019 | 11:18 WIB | LAPORAN:

. Pernyataan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh dan Sekretaris Jenderal Partai Nasdem Johnny G. Plate yang kritis terhadap pemerintah dinilai sebagai langkah "cuci tangan" yang justru menggerus elektabilitas Nasdem.

Analis politik Bin Firman ikut mengomentari pernyataan Paloh yang mendesak Presiden Joko Widodo untuk berlaku jujur jika memang ada kebocoran anggaran.

Menurut Bin Firman, langkah Paloh itu semata-mata untuk menyelamatkan partai demi meraup tingkat elektabilitas agar lolos parliementary tresshold (PT) sebesar 4 persen.


"Karenanya tak bisa juga membabi buta mendukung Jokowi jika ingin partainya tidak ikut tergerus elektabilitasnya bersama Jokowi," kata Direktur Eksekutif Indonesia Development Monitoring ini kepada redaksi, Rabu (13/2).

Tidak hanya Paloh, sekjennya Plate juga secara tidak langsung mengkritisi Jokowi. Plate menyebutkan impor pangan merupakan kebijakan yang diambil langsung oleh Jokowi.

Pernyataan tersebut seolah-olah menyatakan kalau partainya tidak bertanggung jawab atas kebijakan impor yang banyak mendapat kritikan, dimana Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita adalah berasal dari Nasdem.

Bin Firman menekankan, karena dianggap sebagai salah satu pendukung utama Jokowi, masyarakat pun menganggap sikap kritis Paloh dan Plate hanyalah untuk "mencuci tangan" atas keterlibatan dalam kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak populer.

"Surya Paloh seperti "lepas tangan" terhadap kondisi ekonomi yang semakin memberatkan rakyat banyak ini," sebutnya.

Namun demikian, ditegaskannya, menuver seperti ini justru akan menimbulkan sikap antipati dari para pendukung Jokowi terhadap Nasdem.

"Alih-alih elektabilitas Nasdem akan naik, justru dengan sikap seperti ini bisa dipastikan elektabilitas Nasdem pasti akan anjlok, karena pemilih Nasdem adalah pemilih Jokowi," pungkas Bin Firman. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Pemerintah Hadirkan Tsunami Ekonomi Kelas Menengah

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:14

KPK Panggil 10 Saksi dalam Kasus Gratifikasi IUP Kutai Kartanegara

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:06

ASII Siapkan Hingga 100 Juta Saham untuk Program MSOP

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:04

Segera Matangkan Regulasi Kebijakan Ekspor Satu Pintu

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:59

BrahMos Masuk Indonesia, Pemerintah Perlu Hitung Ulang Prioritas Anggaran

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:57

Pangdam Mandala Trikora Buka Suara di Tengah Isu Kasus Mama Sinta

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:48

Menhub Dipanggil Prabowo ke Istana, Bahas TBA Tiket Pesawat?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Model Fitri Assiddikki Dipanggil KPK terkait Korupsi CSR BI

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Lahan 2,4 Hektare Bekas BPSDM akan Disulap jadi Pusat Bisnis

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:38

Kenaikan Pertamax Berpotensi Jadi Bumerang bagi Pemerintah

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:30

Selengkapnya